Oleh: Asman
Setiap anak manusia dilahirkan dalam
keadaan fitrah/ suci dan orangtuanyalah yang menetukan dia menjadi nasrani majusi atau islam. Kurang lebihnya
seperti itulah yang dijelaskan dalam al Quran mengenai seorang anak.
Setiap
anak telah membawa potensi masing-masing jadi tinggal tugas orang tuanya dan
lingkugannya akan membentuk anak tersebut menjadi seperti apa. Masa kanak-kanak
adalah masa dimana anak syarat akan imajinasi dan pola pengingatannya sangat baik,
setiap kejadian atau setiap peristiwa akan terekam secara seksama dalam memori
otaknya sehingga menjadikan peristiwa tersebut bahan percontohannya tinggal
bagaimana apakah yang dijadikan contoh itu baik atau tidak. Sehingga memang dalam membentuk karakter
seorang anak haruslah memberikan stimulus-stimulus yang baik kepada anak.
Ada
pepatah mengatakan didiklah anakmu semenjak dari pengayunan, bahkan ada yang
mengatakan seorang Ibu mendidik seorang anak semenjak ia masih berada dalam
kandungan. Sehingga membuat jelas bahwa pemebentukan karakter seorang anak
haruslah dengan cara yang baik dan benar jangan kita mengajarkan dan memberi
contoh yang buruk kepada anak. Itu tugas orang tua dalam keluarga beda halnya
dengan lingkungan sekolah, karena anak haruslah mengenyam dunia pendidikan agar
wawasan pola berfikirnya terbuka secara koheren.
Orang tua di sekolah mempunyai
tanggung jawab yang sangat luar biasa sulitnya, mengapa demikian dikarenakan
seorang guru di bebankan untuk membentuk ratusan bahkan ribuan anak agar
karakter dan sifat mereka terbentuk dengan baik, karena sukses dan tidaknya
seorang anak disekolah pastinya orang tua di sekolah yang bertanggung jawab.
Memang dalam membentuk karakter seorang anak haruslah penuh rasa sabar. Namun
ketika kita melihat realita yang terjadi
beberapa waktu ini, viralnya seorang
anak atau siswa mengajak gurunya berkelahi. Bahkan tak
tanggung-tanggung sampai membunuh. Ini merupakan masalah yang sangat serius.
Mengapa begitu serius?
Ketika seorang anak sudah berani melakukan hal semacam
itu berarti karakter dan potensi yang telah dibawah sejak lahir telah rusak dan
ini merupakan masalah yang benar-benar serius. Karena dalam
mendidik seorang anak haruslah dengan baik karena akan banyak faktor yang
membuat seorang anak salah jalan, misalnya dalam pergaulan di lingkungan. Mungkin di lingkungan keluarga dan sekolah sudah cukup dalam memberikan pengajaran bahkan motivasi namun
itu semua haruslah tetap kita kawal dan menjaga, karena dilingkungan masyarakat
sangat menetukan pembentukan seorang anak.
Contoh kasus
misalnya yang dilansir oleh media Tribunnews.com kasus murid menganiyaya
gurunya hingga tewas, ditemukan di kota Sampang Madura. Kabar ini masih hangat
terjadi di bulan Februari 2018, kalau kita melihat yang terjadi ini merupakan
kasus yang sangat berat. Karena seorang anak harus dibina dan dan di ajar agar
jangan sampe melakukan hal seperti ini. Bahkan bukan anak saja yang berani
aniyaya gurunya, tetapi orang tua biasanya juga melakukan hal demikian.
Kasus
yang terjadi orang tua menganiyaya anakknya hingga tewas di Kabupaten Batang,
Jawa Tengah, orang tua ini tega menganiyaya anaknya. Padahal sebagai umat
beragama yang mempercayai tuhan seyogyanya kita saling menjaga. Anak harus
berbakti kepada orang tua, dan orang tua harus megajar anak dan membimbing
anaknya ke arah yang benar.
Agama islam telah menjelaskan bahwa anak itu
adalah amanah Tuhan dan setiap amanh itu harus dijaga oleh kedua orang tuanya
sesuai dengan hadis Rasulullah bahwa kedua orangtualah yang akan menjadikan
anaknya yahudi, nasrani dan majusi kemudian seorang anak juga kita harus
memperhatikan apa yang menjadi keluhan dan keinginan mereka namun tetap kita
menjaga jangan sampe kita memnajakan mereka, karena dari rasa manja itu akan
timbul karakter dan beranggapan bahwa apapun masalah atau perbuatan yang
dilakukan orang tuanya pastinya akan membela. Inilah yang akan membuat anak
termotivasi melakukan hal-hal negatif.
Olehnya itu dalam kasus yang telah
terjadi dan viral pada saat ini seakan membuat orang tua di sekolah ataupun
dirumah menjadi masa bodoh dengan itu semua. Karena dengan adanya HAM serta UU
yang mengatur tentang tindakan kekerasan terhadap anak membuat orang tua untuk
memberikan sanksi fisik yang itu di anggap mempunyai efek jera menjadi terbantahkan.
Jadi siapa yang harus kita salahkan ketika
anak salah jalan?
Akhirnya dalam situasi seperti ini sudah
menjadi tanggung jawab kita bersama agar anak kita dan orang tua kita baik di
rumah ataupun disekolah menjadikan ini semua pelajaran dan tentunya kita semua
mengharapkan pula pemerintah agar memperhatikan kekebalan hukum
untuk orang tua kita yang disekolah yang bertugas mencerdaskan anak bangsa,
karena banyak kasus penganiyayaan yang dilakukan baik anak itu sendiri maupun
dari orang tua anak itu.
Pemerintah harus tegas dan membuat suatu sistem yang
dapat menjaga keutuhan keluarga kita. Seperti yang dijelaskan dalam Al Quran
surah al Maidah ayat 2 yang menjelaskan bahwa tolong menolonglah dalam kebaikan
dan janganlah tolong menolong dalam keburukan. Harus ada regulasi yang mengatur
semua ini karena hal seperti ini menjadi tanggung jawab kita semua. Sehingga
dalam memberikan perhatian kepada pelaku kekerasan harus ditindas sesuai hukum
yang yang berlaku.
Kendari 19 Februari 2018

Komentar
Posting Komentar