Membincang Kaderisasi Kita





Oleh: Haidir Muhari
(Ketua Bidang Kader DPD IMM Sultra)



Kader adalah penggerak organisasi yang diharapkan dapat melanjutkan dan memastikan keberlanjutan gerakan dan dakwah IMM dan Muhammadiyah. Ia juga diharapkan dapat menjadi anak panah-anak panah dakwah Muhammadiyah di masa mendatang yang akan laju melejit ke seluruh sendi-sendi kehidupan masyarakat. Kader juga berperan sebagai penyongsong atau khalifatullah fil ardh untuk mewujudkan tatanan impian, suatu masyarakat utama, masyarakat islam yang sebenar-benarnya.


Olehnya itu membincang kaderisasi tidak hanya tentang IMM di esok hari, melainkan juga membincang masa depan Muhammadiyah, bahkan tentu Indonesia dan Islam dunia. Gamblangnya jika ingin IMM esok itu baik, Muhammadiyah itu gemilang, dan Islam yang membumi, benar-benar akan ditentukan oleh kaderisasi yang dilakukan hari-hari sekarang.


Dengan demikian kaderisasi oleh semua pihak di Ikatan dan persyarikatan sangat terlarang menjadikan kaderisasi hanya sebagai formalitas penggugur kewajiban belaka, lebih lagi jika hanya dijadikan sebagai branding atau sekadar akrobat perhatian. Jika ini terjadi maka sama halnya kita sedang menari-nari di atas menara gading, sama halnya kita sedang menjerumuskan Ikatan juga persyarikatan, sebab lambat laun, namun pasti –dengan hal demikian itu, Ikatan dan persyarikatan akhirnya akan rebah setinggi tanah. Runtuh menjadi fosil-fosil sejaran yang entah akan dikenang.


Hal itu pasti kejadiannya, jika kader-kader yang terlahir yang nantinya akan menjadi penerus persyarikatan adalah manusia-manusia hampa ideologi, tanpa visi, tanpa kepedulian, dan lain sebagainya. Pada tahap selanjutnya, maka tujuan Muhammadiyah dan semboyan islam rahmatan lil alamin hanya akan menjadi dongeng-dongeng pengantar tidur dan bualan-bualan kosong.


Kaderisasi adalah hal yang mesti dalam organisasi manapun, dari yang kecil sampai organisasi lintas negaram dari yang bertujuan baik hingga yang bertujuan buruk. Artinya untuk memastikan bahwa Ikatan dan persyarikatan ini akan tetap terus bediri tegak maka kaderisasi perlu digalakkan sesuai dengan relnya. Hal ini berkonsekuensi bahwa kaderisasi mesti dipastikan berjalan pada relnya yang semestinya, juga seluruh elemen yang terkait atau mendukung proses kaderisasi, antara lain seperti tenaga pembina atau Instruktur, sarana-prasarana sesuai dengan dengan SOP. 


Lebih lagi, yang kerap menjadi keluhan adalah belum ada tempat pelatihan khusus kader yang betul-betul representatif, strategis, dan terjangkau. Dimasa-masa mendatang hal ini mesti dibincangkan secara serius dan implementatif, untuk memastikan bahwa kaderisasi benar-benar akan terus terlaksana, sebagai konsekuensi dari atensi dan kepedulian untuk Ikatan dan persyarikatan ini tetap tumbuh dan kukuh.


Kita semua tentu merindukan bendera merah IMM yang diilhami dari warna rahim perempuan ini untuk berkibar-kibar menggelepar-gelapar. Kita juga tentu ingin bendera hijau berseri yang ditengahnya syahadat dua melingkar tetap berdiri kukuh teguh membumi dan terus-terus menebarkan kebaikan. Kita juga tentu ingin islam atau negeri-negeri Islam di seluruh dunia tidak lagi terjajah dan terjarah oleh invansi bangsa-bangsa Eropa dan Amerika melalui kebijakan-kebijakan internasional. 


Olehnya, lagi-lagi perihal kaderisasi ini, mesti diseriusi, dibincang secara matang, diperhatikan dengan perhatian yang penuh, tidak lagi dengan nada-nada cemooh, lebih-lebih dengan upaya-upaya destruktif. Kaderisasi mestinya kita maknai bukan sedang mencari peluang atau keuntungan materi atau sekadar gagah-gagahan bak ayam jantang dihadapan betinanya, melainkan sebagai kesadaran untuk membentuk generasi-generasi muda Islam, yang siap dilejitkan ke seluruh sendi-sendi kehidupan dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah.


Membincang kaderisasi adalah membincang masa depan. Warga Ikatan, warga persyarikatan, bahkan umat Islam mesti beratensi sungguh dengan ini. Mari kita layangkan kembali ingatan kita melewati lorong-lorong waktu. Coba kita renungi kembali giatnya KH. Ahmad Dahlan dalam membimbing pemuda-pemuda di Kauman yang akhirnya menjadi tonggak-tonggak dakwah Muhammadiyah hingga kemudian sampai di pangkuan kita semua.


Membincang kaderisasi adalah membincang masa depan Ikatan, persyarikatan, dan umat islam. Segenap unsur yang terlibat mesti dalam frekuensi yang sama, dalam kesadaran utuh yang sama yaitu utuk membangun masa depan, membina generasi-generasi matahari baru Muhammadiyah.


Membincang kaderisasi adalah membincang masa depan. Ia tak hanya membincang kaderisasi formal seperti DAD, melainkan pembinaan yang berkelanjutan setelahnya, bahkan selama berikatan. Unsur-unsur pimpinan di IMM dan seluruh warga Ikatan mesti memperbarui kesadaran bahwa mesti ada upaya serius dan azam yang tinggi. Juga dengan ini kami mengetuk peduli pihak-pihak yang bertaut untuk (mesti) turut serta dalam porsi-porsinya masing-masing.


Membincang kaderisasi adalah membincang masa deoan ikatan. Pembinanan kader tanpa pandang bulu, tidak lagi memandang Mahasiswa di Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) atau non-PTM, melainkan pembinaan yang holistik kepada semua kader, yang juga tentu dalam porsi-porsinya.


Membincang kaderisasi adalah membincang masa depan. Komitmen dan cinta kita terhadap Ikatan mesti terimplementasi oleh keseriusan, keistiqomahan dalam membina kader-kader, tunas-tunas baru IMM.


Membincang kaderisasi adalah membincang masa depan. Saat tunas-tunas baru itu tumbuh, maka perlu dibina dan diarahkan selayaknya sebagai halnya kita sedang membangun masa depan. 


Membincang kaderisasi adalah membincang masa depan. Seluruh entitas yang terlibat tentu mesti mengambil peran sesuai posnya masing-masing, membangun pola komunikasi yang hasanah dan konstruktif. Olehnya kaderisasi adalah hal yang mesti terus dievaluasi dan dikembangkan agar hasilnya benar-benar menjadi pondasi dan tangga untuk membangun masa depan IMM dan Muhammadiyah yang gemilang.


Dengan syair yang indah Kahlil Gibran menuliskan:
Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu
Mereka adalah anak-anak zaman
Engkau bisa menjadi seperti mereka
Tapi jangan jadikan mereka sepertimu
Kau bisa saja membangunkan rumah fisik bagi raganya
Tapi jiwanya tak bisa kau batasi


Coretan ini sebagai refleksi atau proyeksi, koreksi atau juga prevensi. Coretan ini tidak lebih adalah kerinduan akan kegemilangan IMM juga Muhammadiyah di masa-masa mendatang.


Komentar

  1. Proposi-proposi yang dimaksud kepada semua kader yang akan di bentuk, maksudnya kanda?🤔🙏

    BalasHapus

Posting Komentar