Oleh: Yasir, S.Pd.
(Alumni IMM)
Organisasi
kemahasiwaan diakui atau tidak selalu memberi warna pada iklim politik
kekinian. IMM sebagai sebuah organisasi, secara politik pada dekade ini telah
mengekspresikan gerakan politiknya sebagai oposisi kekuasaan dengan mengusung
isu yang cukup berwibawa yakni Gerakan "Aliansi Tarik mandat" dan
gerakan "Luruskan Kiblat Bangsa".
Sebagai
alumni IMM, menyaksikan kiprah organisasi ini cukup bangga dan sedikit
khawatir. Bangga, karena isu oposisi yg diusung IMM dalam sejarahnya tidak
pernah dilakukan secara frontal. Selalu dikemas dalam gerakan yang slow meski kadang menusuk.
Berbeda
dengan gerakan dewasa ini yang secara tegas membawanya ke tengah kancah dan
menyatakan secara tegas di seberang pagar istana. Tidak tanggung-tanggung,
beberapa kader IMM harus merasakan pukulan popos senjata, pedisnya gas air mata
bahkan sakitnya terjangan peluru karet. Saya menyaksikan jiwa patriot kader
dalam menyatakan sikap dihadapan kekuasaan.
Seiring
perjalanan waktu, regenerasi kepemimpinan terjadi di IMM. Proses pergantian
kepemimpinan berjalan cukup spektakuler. Dengan sistem pemilihan lansung yang
masih dipertahankan, kekuatan luar pun muncul dan memainkan peran. Kekuatan
itu, tidak lain adalah partai politik yang telah dijinakkan kekuasaan.
Akhirnya
kekhawatiran saya yang kedua terjadi. Bahwa, melihat potensi ruwetnya
mengendalikan suara IMM yang sedikit cerewet, maka tidak ada jalan lain bagi
kekuasaan kecuali membuat IMM lemah secara gerakan dan amburadul secara
organisasi. Corong yang dipakai untuk tujuan ini, bisa jadi kader IMM yang juga
politisi atau mungkin juga para pengusaha yang dikendalikan istana.
Rekayasa
intelijen, mungkin itu istilah yang tepat. Mungkin, sebagai kader IMM ada yang
tersinggung. Tapi, faktanya kita menyaksikan betapa IMM periode ini dibuat
mati-kutu oleh Ketua Umumnya yang lahir dari penyaringan yang cukup alot yang
disebut Muktamar di Jakarta. Sejak awal terpilihnya, sudah muncul aroma tidak
sedap yakni status kemahasiswaan yang bersangkutan.
Ada
sedikit keanehan dengan sang Ketua Umum dalam menerapkan manajemen
kepemimpinannya. Tidak lebih dari setengah petiode kepemimpinannya, tiba-tiba
saja mundur dengan mekanisme yang janggal, yakni lewat pesan WhatsApp. Dengan
dalil sakit keras dan harus konsentrasi berobat. Pasca ini, gerakan IMM mulai
kocar-kacir dan energi terserap hanya pada mekanisme pergantian Ketua Umum yang
tidak jelas.
Ketua
Umumnya sakit, sakitnya apa tidak diketahui. Konsentrasi berobat, di rumah
sakit mana, juga tidak diketahui. Bahkan sampai alamat rumahnya pun tidak diketahui.
Setelah pesan WhatsApp-nya yang terakhir sang Ketua Umum pun bak hilang di
telan bumi. Apakah ini sesuatu pemandangan yang biasa, atau ada sesuatu dibalik
itu?
Saya
pikir peristiwa ini tidak berdiri sendiri, tapi ada skenario intelijen yang
sengaja mengacak-acak keutuhan IMM. Kiranya periode kepemimpinanan yang lalu
perlu ditadaburi untuk mengkonstruksi ulang sistem pemilihan di Muktamar agar
kekuatan lain tidak masuk sebagai pemain utama.

Mantap kanda...
BalasHapus