Tauhid Sosial: Ritus ke Aksi



Oleh: Asman
(Ketua Umum PK IMM IAIN Kendari)


Tauhid adalah keyakinan bawa Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa sebagai Ilah (Tuhan Yang Berhak Disembah/Tauhid Uluhiyah); Rabb (Tuhan Pencipta, Pemilik, Penguasa, Pemelihara dan  Pengatur Alam Semesta/ Tauhid Rububiyah); dan Malik  (Penguasa  Hari  Pembalasan/Tauhid  Mulkiyah). 


Dalam  keyakinan  yang ditegaskan dalam Q.S. al-An’am, 6: 12 Dia menjadi Tuhan berdasarkan rahmah Artinya: “Katakanlah, “Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bumi?” Katakanlah, “Kepunyaan Allah.” Dia telah menetapkan atas diri- Nya kasih sayang. Dia sungguh-sungguh akan menghimpun kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan terhadapnya. Orang-orang yang merugikan dirinya, mereka itu tidak beriman.” (Q.S. al-An’am [6]:12)
.  

Tauhid juga percaya akan adanya satu kekuatan yang tak ada kekuatan lain selain kekuatannya. Tauhid juga bisa dikatan percaya akan satu Tuhan saja atau biasa kita kenal dengan sebutan mengesakan Allah. Bagi umat muslim tauhid sangatlah diperlukan untuk menambah keimanan sesorang muslim, yang dimana ketika kita telah menegakan kalimat Tauhid laillahailaulah muhammadarasulullah (Aku bersaksi tiada tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah) maka kita harus yakin bahwa hanya ada tuhan satu yaitu Allah Swt dan Muhammad adalah utusan Allah.


Sebagai seorang muslim kalimat tauhid ini sudah tentu dan pasti fasih dalam melafalkannya, bahkan kita bisa sambil beraktifitas beratpun pasti bisa melafalkannya. Sebagai seorang muslim selain kita meyakini Allah satu dan Muhammad utusan Allah, kita juga harus melaksanakan segala perintah Allah Swt. Salah satunya adalah melaksanakan ibadah (Q.S. Adz Dzariyat ayat 56) yaitu dalam hal ini sholat lima waktu sehari semalam. Perintah sholat ini diturunkan kepada nabi Muhammad dalam perjalan isra mirajnya.
          
 
Kaitannya dengan tauhid social ialah bagaimana dalam kehidupan beragama ritual-ritual keagamaan ini kita transformasikan dalam gerakan sosial. Hari ini kita melihat banyak umat muslim hanya melaksanakan ritual semata tanpa memikirkan sesuatu akibat dari ritualnya (ibadah) misalnya sholat lima waktu kita tidak pernah menjadikan sholat itu menjadi landasan untuk menolong saudara kita yang membutuhkan bantuan.


Bukankah sholat itu mencegah perbuatan keji dan munkar? Kalau seperti itu apa yang sudah kita lakukan selama ini.? Bukan kah K.H Ahmad Dahlan telah menjelaskan dalam teologi Al Maunnya.
1. Tahukah kamu orang yang mendustakan agama?
2. Itulah orang yang menghardik anak yatim,
3. dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.
4. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,
5. (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,
6. orang-orang yang berbuat riya
7. dan enggan (menolong dengan) barang berguna.


Sebagian peneliti mengatakan, seperti Deliar Noer dan Achmad Jainuri, berhasil membawa warga gerakan modern ini gigih dan bersemangat untuk membebaskan mustad’afin dari ketertindasannya.


Maka mari jadikan sholat kita sebagai penolong sesama saudara muslim karena banyak yang membutuhkan kita saat ini yang masih sadar akan ketidakadilan. Kaum mustada’afin hari ini masih banyak yang menderita diakibatkan kezaliman para penguasa. Penindasan dimana-mana korupsi merajalelah, saling tuduh menuduh, klaim-klaim pembenaran dimunculkan dsb. Suatu Negara akan bertahan walaupun didalamnya terdapat kekufuran, namun suatu Negara tidak akan dapat bertahan kalau didalamnya terdapan penindasan Ali Sariati).


Inilah yang dijelaskan oleh Kuntowijoyo dalam bukunya yang berjudul Islam Sebagai Ilmu. Dimana kita jangan memahami islam hanya secara tekstual saja melainkan kita harus menjadikan islam sebagai ilmu untuk beraksi atau biasa disebut dari ritus ke aksi. Jangan jadikan lagi islam hanya sebagai agama yang hanya bisa membuat orang menjadi shaleh tapi mari jadikan kesalehan menjadi kesalehan social untuk membantu saudara kita yang mengalami penindasan.



Kendari, 9 Juni 2018





Komentar