Peran Media Kita






Oleh: Haidir Muhari
(Ketua Bidang Kader DPD IMM Sultra)



Perkembangan teknologi telah mendobrak paradigma manusia akan dan tentang kehidupan. Ia telah memasuki segala penjuru dan relung kehidupan, tak elak lagi dari paradigma hingga kebiasaan dan tingkah laku. 


Sebab manusia berharap segala aktivitasnya menjadi lebih mudah, dan benar-benar instan. Media dengan ragam informasi yang membersamaianya adalah entitas paling banyak yang mempengaruhi dan membentuk paradigma personal maupun kolektif. Artinya, untuk ‘memastikan’ masa depan seseorang atau suatu kelompok masyarakat (bangsa dan negara) dapat dilihat dari media yang sering digandrunginya atau perusahaan media yang beraktivitas dalam menyuplai informasi.


Ada tiga konsekuensi logis yang melekat bersama dengan perkembangan teknologi ditinjau dari perspektif media, yaitu:
  1. Kebutuhan informasi yang meningkat
  2. Ketergantungan terhadap teknologi (baca: media)
  3. Pertumbuhan dan perkembangan media (kuantitas dan kualitas)


Perkembangan teknologi menjadikan segala sesuatunya menjadi ruang yang ‘satu’, yang menghilangkan batas-batas teritorial (secara digital). Semua manusia di seantero bumi terlarut dalam aktivitas seakan berlomba untuk mencapai tujuan masing-masing. 


Segalanya  ‘bergerak’ cepat, pun mendesak manusia untuk ‘bergerak’ lebih cepat. Semuanya seperti membentuk suatu jalilan kata, “siapa yang lebih banyak memiliki informasi-informasi aktual, maka ia akan lebih menguasai ‘dunia’”. Dalam pada ini, informasi menjadi kebutuhan dalam misi untuk mencapai tujuan. Hal ini tentu merupakan suatu pertanda bahwa kebutuhan terhadap informasi setiap detiknya akan meningkat.


Sebenarnya perkembangan teknologi juga mengikat penikmatnya, sehingga cenderung akan ketergantungan dengan teknologi itu. Desakan zaman dan pencapaian tujuan mengharuskan demikian. Sebab pun teknologi telah bertahta di segala lini kehidupan, maka ketergantungan terhadap media pun juga menjadi akibat sertaan yang tak dapat dipungkiri. 


Walau sebenarnya ketergantungan terhadap media lebih banyak disebabkan oleh kebutuhan informasi masyarakat yang meningkat. Memang pilihan yang ada adalah menguasai sebanyak-banyaknya informasi aktual, agar pencapaian terhadap tujuan (keuntungan/ kapital), sebab menghindarinya adalah tindak mungkin, suatu kekonyolan semata.


Kebutuhan informasi yang meningkat akan mendorong pertumbuhan dan perkembangan ragam macam media baik cetak, elektronik dan mainstream. Akibat sertaannya adalah peningkatan kuantitas media. Pada jalur positif, maka akan menumbuhkan daya saing dan mendorong perusahaan media untuk meningkatkan kualitas (sarana, prasarana, berita, tingkat analisis, dan lain-lain). Lebih-lebih pada era pengusungan hak asasi manusia dan kebebasan pers ini. 

Perusahaan media semakin menjamur, bebas melenggok tanpa ada rasa takut atas pencabutan izin (pembredelan) dan intervensi dari pemerintah dan atau penguasa. Akibatnya, media semakin bebas bergerak untuk mempropagandakan dan membumikan misinya, entah misi ‘kebenaran’ atau malah misi penindasan. Sementara fakta menunjukkan, kaum kapitalis dan non-islam lebih menguasai perusahaan media, baik ditingkat nasional lebih-lebih dunia.


Paling tidak ada dua misi perusahaan media kapitalis dan non islam ditinjau dari muatan berita yang disampaikan:
  1. Ghaz al fikri, yaitu upaya untuk melencengkan pemikiran umat islam, sebagai umat yang berpotensi menggapai peradaban tertinggi, sehingga umat islam terlepas dari pemikiran dan praktik islam yang sebenar-benarnya
  2. Qarunniyyah, yaitu upaya untuk menumpuk kekayaan yang sebanyak-banyaknya (capital oriented)


Olehnya itu, Muhammadiyah melalui Muktamar ke-47 di Makassar menggalakkan secara kolektif untuk melahirkan dan mengembangkan potensi kader dengan kemampuan jurnalis yang baik dan dapat diandalkan. Hal ini dimaksudkan sebagai penetrasi akan maraknya arus propaganda media, sehingga dapat mengembalikan umat islam kepada Islam yang sebenar-benarnya dan menggerakkan umat islam baik Indonesia dan dunia menuju peradaban tertinggi dengan upaya-upaya yang berkemajuan.



Komentar