Oleh
: Muhammad Ivansyah
(Sekbid
RPK PC IMM Kota Kendari)
Kemarin (1 Mei) baru saja usai kita
merayakan waktu kita dengan apa yang disebut May Day atau dalam artian Indonesia –Nya ialah Hari Buruh. Saat pemerintahan
RI Bapak Susilo Bambang Yudhoyono (2004-2014) atau biasa dipanggil Pak Beye
Hari Buruh tersebut yang sebelumnya adalah hari yang biasa saja dikalangan
sebagian elit maupun Middle class kini
diperingati sebagai Hari Libur Nasional oleh semua kalangan terlebih pada grass roots dan kita patut berbangga
akan hal itu.
Tetapi saya tidak akan membicarakan
kejadian kemarin (1 Mei) melainkan ingin bercerita tentang hari ini (2 Mei)
yang selama ini kita peringati juga sebagai sebuah perayaan yang besar didalam
bidang Pendidikan pastinya walaupun tidak diliburkan, yakni Hari Pendidikan
Nasional atau dengan akronim Hardiknas.
Tidakkah kita perlu menanyakan hal ini
kepada setiap orang yang merayakan Hardiknas. Mengapa Hardiknas itu
diselenggarakan di tanggal 2 Mei ? mengapa bukan pada tanggal yang lain ?
pertanyaan ini akan menjadi acuan historis kita bersama dalam upaya mencari
sebabnya ditetapkan pada 2 Mei.
Dulu ketika menginjak bangku Sekolah Dasar,
kami pernah diperkenalkan oleh guru kami pada seorang tokoh Nasional yang juga terpampang
wajahnya pada selebaran Rupiah Kertas dengan nominal 20.000. dialah Raden Mas
Soewardi Soerjaningrat atau lebih akrab dikenal dengan nama Ki Hadjar
Dewantara.
Soewardi Soerjaningrat berganti namanya
menjadi Ki Hadjar Dewantara bukan karena sesuatu yang sepele melainkan dengan
upaya yang serius. Pada Agustus 1920 ketika ia menjalani hukuman penjara di
Pekalongan oleh kolonialis, ia diingatkan oleh berbagai pihak bahwa perlu
adanya Perguruan/pendidikan Nasional yang mendidik pribumi untuk menentang
penjajah.
Berkat pengalamannya sebagai guru. 2
tahun berselang ia akhirnya mendirikan sebuah sekolah setingkat Taman
Kanak-kanak. Dan selanjutnya di juli 1924 ia mendirikan pula sekolah setingkat
SMP. Ia pun terlibat dalam gerakan pendidikan melalui organisasi bersama Tjipto
Mangoenkoesoemo dan Douwes Dekker yang dikenal dengan istilah Tiga Serangkai.
Sebab itulah nama ia berganti. Hadjar
atau hajar berasal dari kata Ajar, berarti mendidik; Dewan berarti utusan; dan
Tara berarti tak tertandingi. Jadi makna Ki Hajar Dewantara ialah Bapak
Pendidik utusan rakyat yang tak tertandingi.
Dengan besarnya kontribusi yang ia
berikan kepada bangsa Indonesia dalam bidang Pendidikan sehingga Ki Hadjar
patut pula mendapat penghargaan yang besar dari Negara. Salah satunya dengan
menetapkan hari kelahiran Ki Hadjar Dewantara pada tanggal 2 Mei 1889 sebagai
Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas).
Itulah Hardiknas, dibalik Sebuah Perayaan ada Sesosok Kelahiran Pahlawan
Nasional Negara Indonesia yang menghabiskan masa mudanya dengan memberikan
pendidikan dan pengajaran kepada anak-anak Indonesia.
Pada akhirnya kita pun harus merasa dan juga
meraba, apa yang selama ini kita kontribusikan untuk kemajuan Bangsa dan Negara
terkhusus pada sektor pendidikan, apakah hanya dengan sekedar perayaan tanpa
makna, kiriman status media sosial, atau apa saja yang menurut anda
positif.
Ing
Ngarsa sung tuladha
Ing
madya mangun karsa
Tut
wuri handayani
Yang
berada didepan harus memberi contoh yang baik kepada anak didiknya
Yang
berada ditengah harus memberikan ide sekaligus semangat
Yang
berada dibelakang harus memberi dorongan kepada anak didiknya.
-Ki
Hadjar Dewantara

Komentar
Posting Komentar