Fuad Amsyari, S.T.
(Ketua Bidang Sosial dan Pemberdayaan
Masyarakat DPD IMM Sultra)
Profesor maju ke depan papan tulis.
“Brak!”. Serentak mahasiswa tersentak kaget karena papan lipat tiga ditekuk
dengan kencang oleh dosen paling menakutkan seantero fakultas. Tidak kejam tapi
tegas. Kapur warna-warninya yang khas menjadi kesukaan tersendiri bagi beberapa
mahasiswa pecinta seni lukis. Artistik. Klasik. Papan untuk spidol whiteboard dibalik
menjadi papan kapur ditulis dengan 2 kata. “Sastra Klasik”.
“Ayo! Silahkan, siapa yang bisa menjadi menjawab?”
dengan tatapan tajam ia melanjutkan perkataannya dengan nada nyaring khas
komentator sepakbola. “Seperti apa, dan kenapa perlu mempelajarinya?”. Detak
jantung mahasiswa mulai berdegup kencang. Hormon adrenalin mulai ikut terpacu
pertanda mereka harus bersiap menjawab dengan cerdas atau keluar ruangan.
“Leng, apa ya jawabannya?” Upe menyenggol Uleng sambil
bersuara lirih. “Nih, baca!” Uleng menyodorkan buku Gerbang Sastra karya
Untung.
“Krek”. Pintu depan tiba-tiba terbuka. Unru sedikit
membungkuk dan mengusap kening berceceran keringat. “Unru, kamu terlambat 10
menit!”. “ Maaf Pak, tadi habis bantu nenek dipinggir jalan untuk menyeberang.
Toh, keterlambatan maksimal 15 menit sesuai kesepakatan kelas Pak” sambil
tersenyum kecil.
“Oke. Ya sudah, sebelum duduk silakan jawab pertanyaan
saya, seperti apa dan mengapa kita harus mempelajarinya?” menunjuk papan tulis.
Unru terdiam sejenak. Kelas menjadi hening. Unru tahu kalau tidak bisa menjawab
harus keluar ruangan tanpa harus sang profesor menjelaskan dahulu.
“Hmm.... Menurut saya Pak, sastra klasik itu seperti
lontaranya Makassar. Kita harus mengetahui sastra secara mendalam agar dapat
belajar nilai leluhur yang baik dan bisa baper!”. “Hahahaha”. Serentak seisi
ruangan tertawa sambil tepuk tangan dan kursi. Sekian detik kelas menjadi kacau
karena akhir kalimat Unru.
“Kamu!” Sambil menunjuk memakai tongkat naga. “Maaf
Pak, saya merasa benar. Menurut Renald Kasali, baper itu singkatan dari bawa
perubahan. Sebagai generasi yang mulai kehilangan nilai budaya leluhur yang
baik, wajib mencari dan mengaplikasikan agar tercipta keadilan sosial bagi
seluruh rakyat indonesia”, tutur Unru. Dia memasang wajah pura pura di depan
kelas. “Oke. Silahkan duduk.”
“Ampa, bagaimana hasil jawabanku?” tanya Unru ke Ampa.
“Kau memang temanku yang handal dan cerdas” jawab Ampa dan langsung memberi
acungan jempol. “Uhhh , panas!”. “Mpa, kamu tidak kepanasankah?”. “Aku malah
kedinginan, tadi malam begadang, pagi sudah meriang!” jawab Ampa ke Unru.
“Pak, Interupsi! Bisakah AC dinyalakan? Saya
kepanasan. Ups, tapi karena berhubung di sebelah saya sakit dan kedinginan,
bolehkah saya meminta kebijakan Bapak yang baik hati agar mematikan atau
mengecilkan menggunakan remot yang ditumpukan buku Bapak!”
“Huuuu”... sorakan demi sorakan berhamburan.
Kebanyakan mahasiswa sastra merasakan kegerahan seperti yang dialami
Unru.
"Pak, mohon izin untuk berbicara”, ujar Ambo
menunjuk tangannya ke langit-langit. “Silakan!”. “Hemat saya Pak, bahwa
kebanyakan mahasiswa merasa kepanasan, maka mohon AC-nya tidak dimatikan atau
dikecilkan. Satu orang harus mengalah dan toleran pada mayoritas. Sebaiknya
jikalau diperbolehkan Bapak bisa mengizinkan Ampa untuk tidak mengikuti kuliah
dikarenakan sakit. Daripada dia hanya menyusahkan kita di kelas dengan kemauan
ini dan itu. Bagaimana teman-teman? Sepakat?!”, dalih Ambo meminta dukungan.
Dan sorak kelas mengiyakan.
“Oke, tenang semuanya, saya harap diam.” Tutur
Profesor sambil memukul pelan-pelan meja. “Ampa ambil tas, dan pulang!”, suruh
profesor dengan tegas.
Ampa berfikir sejenak karena niat dan semangat untuk
masuk kelas. Tas merah khas batik langsung digendong sambil beranjak
meninggalkan kursi. Sentak unru menangkat tangan dan meninggikan suara.
“Interupsi Prof, saya mengenal Ampa dengan baik. Ketika Ampa masuk kelas
berarti tekad bulat sudah terpatri di dalam hati maka pantang untuk mundur.
Kalau hanya demam, pastilah dia paksakan. Setegah apakah kita membiarkan niat
tulus ikhlas dan tekad bulat membara untuk pulang hanya gara-gara untuk memberi
kondisi lebih baik dan fokus yang lebih? Saya hanya mengusul agar kondisinya
lebih baik”, tegas Unru. Memainkan retorika bukan hal yang susah baginya. Seisi
kelas mulai terdiam bahkan Profesor pun tampak hening sejenak, layaknya
mengheningkan cipta upacara bendera.
“Setelah mendengar penjelasan salah satu teman kalian,
apa pendapat kalian?”, hela profesor seperti memimpin sidang soal rakyat
ala-ala DPR.
Salah satu mahasiswa mengiyakan pendapat Unru. Mereka
semua mengaminkan. Melihat konsensus dan hasil mufakat profesor pun langsung
meminta Ampa kembali duduk. Perkuliahan dilanjutkan, dan profesor menjelaskan
tema pembahasan awal hingga keakar. Hasil pun tak mengkhianati proses.
Teppettu maoompennge’, teppolo massellomoe’(Tak akan putus yang kendur, tak akan patah yang lentur).
Artinya: Peringatan agar bijaksana menghadapi suatu
permasalahan. Toleransi dan tenggang rasa perlu dipupuk supaya keinginan
tercapai tanpa kekerasan. Di sisi lain juga bermakna berlaku bijaksanalah,
dengan toleransi dan tenggang rasa, saat menghadapi permasalahan agar solusi
tercapai tanpa kekerasan atau kesewenangan.
Sumber Inspirasi
http://fib.ui.ac.id/akademik/program-sarjana-s1/program-studi-sastra-indonesia.html
https://www.nama.web.id/country-origin-Indonesia_-_Bugis.html
http://rabiahrabiahrabiah.blogspot.co.id/2011/01/pengantar-sastra-klasik.html
-----
Tulisan ini disadur dari lentramerah.blogspot.com

Komentar
Posting Komentar