Ibadah Praktis: Taharah dan Salat



Oleh: Haidir Muhari[2]
(Ketua Bidang Kader DPD IMM Sultra)


Ibadah ialah bertaqarub (mendekatkan diri) kepada Allah dengan jalan menaati segala perintah-perintah-Nya, menjauhi larangan-larangan-Nya, dan mengamalkan segala yang diizinkan Allah. Ibadah itu ada dua yang umum dan ada yang khusus. Yang umum ialah segala amal yang diizinkan Allah, dan yang khusus ialah apa yang telah ditetapkan Allah akan perincian-perinciannya, tingkah dan cara-cara yang tertentu.[3]


Taharah ditinjau dari arti lughawy atau etimologi berarti membersihkan diri. Sedang secara istilah atau terminologi berarti bersuci dengan cara-cara yang telah dutentukan syara’ guna menghilangjan segala najis dan hadats.[4] Yang mencakup bahasan taharah dalam tulisan singkat ini yaitu wudu, tayamum, mandi, dan istinja’. Istilah salat dalam arti bahasa bermakna doa atau pujian. Salat menurut fuqaha diartikan sebagai ibadah yang terdiri dari perbuatan atau gerakan dan perkataan tertentu, yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam.[5]


A.       Taharah

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan salat, Maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub Maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, Maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.[6]


...Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, Maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pema'af lagi Maha Pengampun.[7]


1.      Cara Berwudu

Apabila kamu hendak berwudhu, maka bacalah: Bismillahirrahmanirrahim[8], dengan mengikhlaskan niatnya karena Tuhan Allah[9] dan basuhlah telapak tanganmu tiga kali[10] gosoklah gigimu dengan kayu arok atau sesamanya[11]. Kemudian berkumurlah dan isaplah air dari telapak tangan sebelah dan berkumurlah; kamu kerjakan yang demikian tiga kali[12] sempurnakanlah dalam berkumur dan menghirup air itu, apabila kamu sedang tidak berpuasa[13]; kemudian basuhlah mukamu tiga kali[14] dengan mengusap dua sudut matamu[15] dan lebihkanlah membasuhnya[16] dengan digosok[17] dan selai-selailah jenggotmu[18]; kemudian basuhlah (kedua) tanganmu dan kedua sikumu dengan digosok tiga kali[19] dan selai-selailah jari-jarimu[20], dengan melebihkan membasuh kedua tanganmu[21] mulai tangan kanan[22]; lalu usaplah ubunmu dan atas surbanmu[23]; dengan menjalankan kedua telapak tangan[24] dari ujung muka kepala sehingga tengkuk dan di kembalikan lagi pada permulaan[25]; kemudian usaplah kedua telingamu sebelah luarnya dengan dua ibu jari dan sebelah dalamnya dengan telunjuk[26] lalu basuhlah kedua kakimu beserta kedua mata kaki dengan digosok tiga kali[27] dan selai-selailah jari-jari kakimu dengan melebihkan membasuh keduanya[28] dan mulailah dengan yang kanan[29] dan sempurnakanlah membasuh kedua kaki itu[30] kemudian ucapkan Asyhadu allaila- ha-ilallah wahdahu-la-syari-kalah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhuwa rasu-luh[31].


2.      Tata Cara Mandi

Apabila kamu berjinabah karena mengeluarkan mani[32] atau bertemunya kedua persunatan[33] atau kamu hendak menghadiri salat jumat[34] atau kamu baru selesai dari Haid[35] atau Nifas[36], maka hendaklah kamu mandi dan mulailah dengan membasuh (mencuci) kedua tanganmu[37] dengan ikhlas niatmu karena Allah[38] lalu basuhlah (cucilah) kemaluanmu dengan tangan kirimu dan gosoklah tanganmu dengan tanah atau apa yang menjadi gantinya[39] lalu berwudulah seperti yang di atas; kemudian ambillah air dan masukkanlah jari-jarimu pada pangkal rambut dengan sedikit wangi-wangian[40], sesudah dilepaskan rambutnya[41]. Dan mulailah dengan yang kanan[42], lalu tuangkan air ke atas kepalamu tiga kali, lalu ratakanlah atas badanmu semuanya[43], serta digosok[44], kemudian basuhlah (cucilah) kedua kakimu dengan mendahulukan yang kanan dari pada yang kiri[45], dan jangan berlebih-lebihan dalam menggunakan air[46].


3.      Tata Cara Tayamum

Dan jika kamu berhalangan menggunakan air atau sakit atau khawatir mendapat madlarat[47], atau kamu di dalam bepergian, kemudian tidak mendapat air, maka tayamumlah dengan debu yang baik, untuk mengganti wudu dan mandi[48], maka letakkanlah kedua tanganmu ke tanah kemudian tiuplah keduanya[49] dengan ikhlas niatmu karena Allah[50] dan bacalah: Bismillahirrahmanirrahim[51] kemudian usaplah kedua tanganmu pada mukamu dan kedua telapak tanganmu[52]. Dan apabila kamu dapat menggunakan air maka bersucilah dengan air itu[53].


4.      Tata Cara Istinja

Hendakalah ber-istinja’ dengan air[54] atau dengan tiga batu[55] atau lainnya, yang bukan tulang atau kotoran[56].


B.        Tata Cara Salat


Maka apabila kamu telah menyelesaikan salat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. kemudian apabila kamu telah merasa aman, Maka dirikanlah salat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya salat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.[57]
  

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.[58]

عَنْ طَلْحَةَ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : جَاءَ رَجُلٌ اِلَى رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ اَهْلِ نَجْدٍ ثَائِرَ الرَّأْسِ نَسْمَعُ دَوِيَّ صَوْتِهِ وَلَا نَفْقَهُ مَا يَقُوْلُ حًتَّى دَنَا فَاِذَا هُوَ يَسْأَلُ عَنِ الاِسْلَامِ . فَقَالَ رًسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : خَمْسٌ صَلَوَاتٍ فِيْ الْيَوْمِ وَالَّيْلَةِ . فَقَالَ : هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهَا ؟ قَالَ : لَا , اِلَّا اَنْتَطَوَّعَ

Hadis dari Thalhah bin 'Ubaidillah bahwa ada seorang laki-laki penduduk Najed yang kusut rambut kepalanya, datang kepada Rasulullah saw yang kami dengar dengungan suaranya, tetapi tidak memahami apa yang dikatakannya sehingga setelah dekat rupanya ia menanyakan tentang Islam; maka sabda Rasulullah saw: “Salat lima waktu dalam sehari semalam”. Kata orang tadi: “Adakah lagi kewajibanku selain itu?” Jawab Nabi saw: “Tidak, kecuali bila kamu hendak ber-tathawwu' (salat sunnat)”.[59]

عَنْ مَالِكِ بْنُ الْحِوَيْرِثْ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهِ عَلَيْهِ وَسَلَّم : صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِى اُصَلِّيْ

Hadis dari Malik bin Huwairits ra bahwa Rasulullah saw bersabda: “Salatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku melakukan salat”.[60]


Bila kamu hendak menjalankan salat, maka bacalah: “Allahu Akbar[61] dengan ikhlas niatmu karena Allah[62] seraya mengangkat kedua belah tanganmu sejurus bahumu, menyejajarkan ibu jarimu pada daun telingamu[63].


Lalu letakkanlah tangan kananmu pada punggung telapak tangan kirimu di atas dadamu[64] lalu bacalah doa iftitah: "Alla-humma ba-'id baini-wa baina khatha-yaya kama-ba-'adta bainal masyriqi wal maghrib. Alla-humma naqqini- minal khatha-ya- kama-yunaqqats tsaubul abyadlu minad danas. Alla-hummaghsil khatha-ya-ya bilma-i wats tsalji wal barad."[65] atau "Wajjahtu wajhiya lilladzifatharas sama-wa-ti wal ardla hani-fan musliman wa ma- ana minal musyriki-n. Inna shala-ti wa nusuki- wa mahya-ya wa mama-ti lillahi-hi rabbil 'a-lami-n. Lasyari-kalahu- wa bidza-lika umirtu wa ana awwalul muslimi-n (wa ana minal muslimi-n." Alla-humma antal maliku la-ila-ha illa-anta, anta rabbi- wa ana 'abduka, dlalamtu nafsi- wa'taraftu bidzambi- fagh firli- dzunu-bi- jami-'an. Layagh firudz dzunu-ba illa- anta, wah dini-liahsanil akhla-qi la-yahdil liahsanihailla-anta. Washrif 'anni- sayyiaha- la-yashrifu 'anni- sayyiaha- illa- anta. Labbaika wa sa'daika wal khairu kulluhu- fi-yadaika, wasysyarru laisa ilaika. Ana bika wa ilaika. Taba-rakta wa ta'a-laita astaghfiruka wa atu-bu ilaika."[66]


Lalu berdoa mohon perlindungan dengan membaca: “A'u-dzu billa-hi minasy syaitha-nir raji-m[67] dan membaca: “Bismilla-hirrahmani-nirrahi-m[68] lalu bacalah surat al-Fatihah[69] dan berdoalah sesudah itu: “a-mi-n"[70] Kemudian bacalah salah satu surat daripada al-Quran[71] dengan diperhatikan artinya dan dengan perlahan-lahan[72].
Kemudian angkatlah kedua belah tanganmu seperti dalam takbir permulaan[73] lalu rukuklah[74] dengan bertakbir[75] seraya melempangkan (meratakan) punggungmu dengan lehermu, memegang kedua lututmu dengan dua belah tanganmu[76], sementara itu berdoa: "Subha-nakalla-humma rabbana- wa bihamdikalla-hummaghfirli." [77], atau berdoalah dengan salah satu doa dari Nabi saw.[78] Kemudian angkatlah kepala untuk itidal[79] dengan mengangkat kedua belah tanganmu seperti dalam takbiratul ihram dan berdoalah: "Sami'allahu liman hamidah" dan bila sudah lurus berdiri berdoalah: "Rabbana- wa lakalhamd"[80].


Lalu sujudlah[81] dengan bertakbir[82] letakkanlah kedua lututmu dan jari kakimu di atas tanah, lalu kedua tanganmu, kemudian dahi dan hidungmu[83] dengan menghadapkan ujung jari kakimu ke arah Kiblat serta merenggangkan tanganmu daripada kedua lambungmu dengan mengangkat sikumu[84]. Dalam bersujud itu hendaklah kamu berdoa: "Subha-nakalla-humma rabbana- wa bihamdikalla-hummaghfirli"[85] atau berdoalah dengan salah satu doa daripada Nabi saw.[86] Lalu angkatlah kepalamu dengan bertakbir dan duduklah tenang dengan berdoa: "Alla-hum maghfirli- warhamni- wajburni- wahdini- warzuqni-"[87]. Lalu sujudlah kedua kalinya dengan bertakbir dan membaca "tasbih" seperti dalam sujud yang pertama. Kemudian angkatlah kepalamu dengan bertakbir[88] dan duduklah sebentar, lalu berdirilah untuk rakaat yang kedua dengan menekankan (tangan) pada tanah[89].


Dan kerjakanlah dalam rakaat yang kedua ini sebagaimana dalam rakaat yang pertama, hanya tidak membaca doa iftitah[90]. Setelah selesai dari sujud kedua kalinya, maka duduklah di atas kaki kirimu dan tumpukkan kaki kananmu serta letakkanlah kedua tanganmu di atas kedua lututmu. Julurkanlah jari-jari tangan kirimu, sedang tangan kananmu menggenggam jari kelingking, jari manis dan jari tengah serta mengacungkan jari telunjukmu dan sentuhkan ibu jari pada jari tengah[91]. Duduk ini bukan dalam rakaat akhir. Adapun duduk dalam rakaat akhir maka caranya memajukan kaki kiri, sedang kaki kanan bertumpu dan dudukmu bertumpukan pantatmu[92]. Dan bacalah tasyahud begini "attahiyya-tu lilla-h washshalawa-tu waththayyiba-t, assala-mu 'alaika ayyuhan Nabiyyu wa rahmatulla-hi wa baraka-tuh. Assala-mu 'alaina wa 'ala- 'iba-dilla-hish sha-lihin. Asyahadu alla- ila-ha illalla-h wa asyhadu anna Muhammadan 'abduhu- wa rasuluh[93].


Lalu bacalah salawat pada Nabi saw: "Alla-humma shalli 'ala-Muhammad wa 'ala- a-li Muhammad, kama- shallaita 'ala- Ibrahi-m wa a-li Ibrahim, wa ba-rik 'ala- Muhammad wa a-li Muhammad, kama- ba-rakta 'ala- Ibrahim wa a-li Ibra-him, innaka hami-dum maji-d”.[94] Kemudian berdoalah kepada Tuhanmu, sekehendak hatimu yang lebih pendek daripada doa dalam tasyahhud akhir[95].


Kemudian berdirilah untuk rakaat yang ketiga kalau salatmu itu tiga atau empat rakaat, dengan bertakbir mengangkat tanganmu[96] dan kerjakanlah dalam dua rakaat yang akhir atau yang ketiga, seperti dalam dua rakaat yang pertama, hanya kamu cukup membaca Fatihah saja[97]. Dan sesudah rakaat yang akhir, bacalah tasyahhud serta salawat kepada Nabi saw, lalu hendaklah berdoa mohon perlindungan dengan membaca:


"Alla-humma inni- a'udzu bika min 'adza-bi jahannama wa min 'adza-bil qabri wa min fitnatil mahya- wal mama-ti wa min syarri fitnatil masi-hid dajja-l [98]. Kemudian bersalamlah dengan berpaling ke kanan dan ke kiri, yang pertama sampai terlihat pipi kananmu dan yang kedua sampai terlihat pipi kirimu oleh orang yang dibelakangmu[99] sambil membaca: "Assalamu'alaikum wa rahmatulla-hi wa baraka-tuh."[100]


Jika salatmu dua rakaat, maka letak doa istiadzah (a'udzubilla-h) setelah nembaca "salawat kepada Nabi", sesudah rakaat yang kedua, lalu bersalamlah sebagai yang tersebut[101]. PERHATIAN: Tidak ada perbedaan antara pria dan wanita dalam cara melakukan salat sebagai yang tersebut di atas[102].




Lampiran 1
Ibadah Praktis
(Bacaan dan Gerakan sesuai Tuntunan Putusan Tarjih Muhammadiyah)

Tata Cara Wudu
1
Membaca basmalah
2
Membersihkan kedua telapak tangan (3 kali)
3
Berkumur dan menghirup air ke dalam hidung serta menyemburkannya (3 kali)
4
Membasuh wajah secara merata (3 kali)
5
Membasuh tangan sampai siku (masing-masing 3 kali)
6
Mengusap rambut dengan air ke seluruh kepala  dan membasuh daun telinga (1 kali)
7
Membasuh kaki sampai mata kaki (3 kali)
8
Membaca doa setelah wudu

Tata CaraMandi
1
Membaca basmalah
2
Membasuh dan menghilangkan kotoran yang menempel
3
Berwudu seperti akan salat
4
Menyelai-nyelai rambut dengan air (3 kali)
5
Menuangkan air pada sisi kepala dimulai dari kanan 3 kali, kemudian kiri 3 kali, setelahnya siram ke seluruh tubuh
6
Membasuh kedua kaki, mendahulukan yang kanan
7
Membaca doa setelah mandi

Tata Cara Tayamum
1
Membaca basmalah
2
Meletakan kedua telapak tangan pada debu suci
3
Menyapukan telapak tangan pada wajah sampai wajah, kemudian punggung telapak tangan
4
Membaca doa setelah tayamum

Tata Cara Salat
1
Berdiri Tegak
2
Tidak ada lafadz niat
3
Takbiratul Ihram sejajar telinga atau sejurus bahu
4
Bersedekap dengan cara meletakkan tangan kanan di atas punggung tangan kiri, diletakkan di atas dada (ulu hati)
5
Doa Iftitah
6
Membaca Ta’awudz
7
Al-Fatihah (Basmalah Di-sirr-kan, bisa juga di-jahr-kan)
8
Ruku' (Membungkukkan separuh badan, Punggung dan leher membentuk garis lurus, Kedua telapak tangan direnggangkan diletakan pada lutut)
9
Doa Ruku'
10
Tegak berdiri I'tidal seperti saat akan takbiratul ihram
11
Doa I'tidal
12
Sujud mendahulukan kaki dari tangan
13
Sujud diatas tujuh tulang
14
Sujud kaki rapat juga boleh tidak dirapatkan
15
Meregangkan kedua tangan dari lambung sedikit lebar dan siku sedikit terangkat
16
Membaca Doa Sujud
17
Duduk Diantara 2 Sujud dengan duduk iftirasyi
18
Pada saat bangkit dari sujud’ duduk iftirasy sejenak
19
Bangkit dari rakaat 1 tidak mengangkat tangan seperti takbiratul ihram
20
Duduk iftirasyi pada saat tasyahud awal
21
Tangan langsung diacungkan saat membaca tasyahud
22
Doa Tasyahud
23
Salawat
24
Doa Sesudah Tasyahud Awal
25
Bangkit dari rakaat kedua mengangkat tangan seperti takbiratul ihram
26
Duduk tawaruk pada rakaat terakhir
27
Doa Sesudah Tasyahud Akhir
28
Menarik jari telunjuk tangan kanan
29
Mengucapkan salam seraya menoleh ke sebelah kanan
30
Mengucapkan salam seraya menoleh ke sebelah kiri






Lampiran 2
Arti Ucapan, Doa dan Bacaan Salat

Takbir

اَللَّهُ اَكْبَرُ

Alla-hu Akbar
Allah Maha Agung

                Doa Iftitah


اَللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِ وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبْ, اَللَّهُمَّ نَقِّنِيْ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْابْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ, اَللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدْ

Alla-humma ba-'id baini- wa baina khatha-ya-ya kama-ba-'adta bainal masyriqi wal maghrib. Alla-humma naqqini- minal khatha-ya- kama-yunaqqats tsaubul abyadlu minad danas. Alla-hummaghsil khatha-ya-ya bilma-i wats tsalji wal barad

Ya Allah, jauhkanlah antaraku dan antara kesalahanku, sebagaimana Kau telah jauhkan antara Timur dan Barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahanku sebagaimana dibersihkannya pakaian putih dari kotoran. Ya Allah, cucilah segala kesalahanku dengan air, salju dan air hujan beku
وَجَّحْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْاَرْضَ حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا اَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ, اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلَّهِ رَبِّ الْعَلَمِيْنَ, لَا شَرِيْكَ لَهُ وَبِذَالِكَ اُمِرْتُ وَاَنَا اَوَّلُ الْمُسْلِمِيْنَ (مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ), اَللَّهَمَّ اَنْتَ الْمَلِكَ لَا اِلَهَ اِلَّا اَنْتَ, اَنْتَ رَبِّيْ وَ اَنَا عَبْدُكَ ظَلَمْتُ نَفْسِى وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِى, فَاغْفِرْلِي ذُنُوْبِي جَمِيعًا, لَايَغْفِرُ الذُّنُوبَ اِلَّا اَنْتَ وَاهْدِنِي لِاَحْسَنِ الْاَخْلَاقِ لَا يَهْدِيْ لِاَحْسَنِهِا اِلَّا اَنْتَ, وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا لَا يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا اِلَّا اَنْتَ, لَبَّيْكَ وَسَعْدَيِكَ وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِي يَدَيْكَ, وَالشَّرُّ لَيْسَ اِلَيْكَ اَنَا بِكَ وَاِلَيْكَ, تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ اَسْتَغْفِرُكَ وَاَتُوْبُ اِلَيْكَ
Wajjahtu wajhiya lilladzi- fatharas sama-wa-ti wal ardla hani-fan musliman wa ma-ana minal musyriki-n. Inna shala-ti wa nusuki- wa mahya-ya wa mama-ti lillahi-hi rabbil 'a-lami-n. La-syari-kalahu- wa bidza-lika umirtu wa ana awwalul muslimi-n (wa ana minal muslimi-n) Alla-humma antal maliku la-ila-ha illa-anta, anta rabbi- wa ana 'abduka, dlalamtu nafsi- wa'taraftu bidzambi- fagh firli- dzunubi-jami-'an. La- yagh firudz dzunu-ba illa- anta, wah dini-liahsanil akhla-qi layahdil liahsaniha-illa- anta. Washrif 'anni- sayyiaha- la-yashrifu 'anni- sayyiahailla-anta. Labbaika wa sa'daika wal khairu kulluhu- fi-yadaika, wasysyarru laisa-ilaika. Ana bika wa ilaika. Taba-rakta wa ta'a-laita astaghfiruka wa atu-bu ilaika.
Aku hadapkan wajahku, kehadapan yang Maha Menjadikan semua langit dan bumi, dengan tulus hati dan menyerah diri dan aku bukanlah golongan orang-orang musyrik. Sungguh salatku, ibadahku, hidup dan matiku adalah kepunyaan Tuhan yang menguasai semua alam, yag tidak bersyarikat dan bandingannya, maka dengan demikian aku diperintah dan aku menjadi orang yang mula-mula berserah diri (daripada orang-orang berserah diri). Ya Allah, Engkaulah raja, yang tidak ada yang disembah melainkan Engkau. Engkaulah Tuhanku dan aku inilah hambaMu, aku telah berbuat aniaya pada diriku dan mengakui dosaku. Maka ampunilah dosa-dosaku semua, yang mana tidak ada yang mengampuni dosa, selain Engkau. Dan berilah petunjukMu padaku, budi pekerti yang bagus, yang mana tidak ada yang dapat memberikan petunjuk kepada bagusnya budi pekerti selain Engkau. Dan jauhkan daripadaku kelakuan yang jahat, yang mana tidak ada yang dapat menjauhkannya kecuali Engkau. Aku junjung dan aku turutlah perintah Engkau; sedang semua kebaikan itu ada pada tangan Engkau, dan kejahatan itu tidak kepada Engkau. Aku dengan Engkau dan kembali kepada Engkau. Engkaulah yang Maha Memberkati dan Maha Mulia, aku mohon ampun dan bertobat pada Engkau.

Taawudz

اَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الِشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

A'u-dzu billa-hi minasy syaitha-nir raji-m


Aku berlindung kepada Allah dari syetan yang terkutuk
Fatihah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنَ الرَّحِيْمِ

Bismilla-hirrahmani-nirrahi-m

Dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Pengasih


الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَلَمِيْنَ, الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ, مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ, اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ, اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ, صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّيْن

Alhamdu lilla-hi Rabbil ‘a-lami-n. Arrahma-nir rahi-m. Ma-liki yau middi-n. Iyya-ka na’budu wa iyya- ka nasta ‘i-n. Ihdinash shirathal mustaqi-mi, shira-thal ladzina an’amta ‘alaihim ghairil magh dlubi ‘alaihim wa ladldla-lli-n


Segala puji bagi Allah yang pengasuh semua alam. Yang Maha Pemurah, Yang Maha Pengasih, Yang mengadili pada hari Kiamat. Hanya kepada Engkau yang aku sembah dan hanya kepada Engkau yang aku mintai pertolongan. Tunjukkanlah aku kepada jalan yang lurus. Jalannya orang-orang yang Engkau beri kenikmatan, yang tidak dimurkai dan tidak sama sesat
Ta'min

اَمِيْنَ

A-mi-n
Kabulkanlah permohonanku

Tasbih dalam rukuk

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّناَ وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرِلِيْ

Subha-nakalla-humma rabbana- wa bihamdikalla-hummagh firli
Mahasuci Engkau ya Allah, dan dengan memuji kepada Engkau, Ya Allah aku memohon ampun

سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ

Subha-na rabbiyal adhim

Mahasuci Tuhanku yang Mahaagung

سُبُّوْحٌ قُدُّوسٌ رَبُّ الْمَلَائِكَةِ وَالرُّوْحُ

Subbu-hun quddu-sun rabbul Mala-ikati war ru-h

Mahasuci, Makakudus, Tuhannya sekalian malaikat dan ruh

Tasbih dalam Itidal

سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ

Sami’alla-hu liman hamidah, rabbana- wa lakalhamd

Semoga Tuhan Allah mendengar orang yang memujinya. Ya Tuhanku! Dan segala puji itu bagi Engkau

اَللَّهُمَّ رَبَّنَّا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءُ السَّمَاوَاتِ وَمِلْءَ الْاَرْضِ وَمِلْءَ مَاشِئْتَ مِنْ شَيءٍ بَعْدُ

Alla-humma rabbana-lakalham du mil as sama-wa-ti wa mil al ardli wa mil a ma-syi’ta min syai in ba’du

(setelah bacaan Sami’allahu liman hamidah) Ya Allah, Tuhaku, bagi kau segala puji, sepenuh semua langit, sepenuh bumi, dan sepenuh semua apa yang Kau sukai dan sesuatu apapun

رَبَّنَّا وَلَكَ الْحِمْدُ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ

Rabbana- wa lakalhamdu ham dan katsi-ran thayyiban mubara-kan fi-hi

Ya Tuhanku, bagi Kaulah segala puji pujian yang banyak, baik dan memberkati

Tasbih dalam sujud

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّناَ وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرِلِيْ

Subha-nakalla-humma rabbana- wa bihamdikalla-hummagh firli

Mahasuci Engkau ya Allah, dan dengan memuji kepada Engkau, Ya Allah aku memohon ampun

سُبْحَانَ رَبِّيَ الْاَعْلَا

Subha-na Rabbiyal a'la

Mahasuci Tuhanku yang Mahatinggi

سُبُّوْحٌ قُدُّوسٌ رَبُّ الْمَلَائِكَةِ وَالرُّوْحُ

Subbu-hun quddu-sun rabbul Mala-ikati war ru-h

Mahasuci, Makakudus, Tuhannya sekalian malaikat dan ruh

Doa duduk antara dua sujud

للَّهُمَّ اغْفِرْلِي وَارْحَمْنِي وَاجْبُرْنِى وَاهْدِنِى وَارْزُقْنِىاَ

Alla-hum maghfirli- warhamni- wajburni- wahdini- warzuqni

Ya Allah ampunilah aku, belaskasihanilah aku, cukupilah aku, tunjukilah aku, dan berilah rezeki kepadaku

Bacaan Tasyahud

اَلتَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَالصَلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ, اَسَّلَامُ عَلَيْكَ اَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ, اَالسَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِيْنَ, اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا اللَّهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

Attahiyya-tu lilla-h washshalawa-tu waththayyiba-t, assala-mu 'alaika ayyuhan Nabiyyu wa rahmatulla-hi wa baraka-tuh. Assala-mu 'alaina wa 'ala- 'iba-dilla-hish sha-lihin. Asyahadu alla- ila-ha illalla-h wa asyhadu anna Muhammadan 'abduhu- wa rasuluh

Segala kehormatan, kebahagiaan dan kebagusan adalah kepunyaan Allah, semoga keselamatan bagi engkau Ya Nabi Muhammad, beserta rahmat dan kebahagiaan Allah. Mudah-mudahan keselamatan juga bagi kita sekalian dan hamba-hamba Allah yang baik-baik. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu hamba Allah dan utusan-Nya

Doa Salawat kepada Nabi

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى اِبْرَاهِيْمَ وَاَلِ اِبْراَهِيمَ, وَباَرِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاَلِ مُحَمَّدٍ كَمَا باَرَكْتَ عَلَى اِبْراَهِيْمَ وَاَلِ اِبْرَاهِيْمَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

Alla-humma shalli 'ala-Muhammad wa 'ala- a-li Muhammad, kama- shallaita 'ala- Ibrahi-m wa a-li Ibrahim, wa ba-rik 'ala- Muhammad wa a-li Muhammad, kama- ba-rakta 'ala- Ibrahim wa a-li Ibra-him, innaka hami-dum maji-d


Ya Allah, limpahkanlah kemurahan kepada Muhammad dan kepada keluarganya, sebagaimana Kau telah limpahkan kepada Ibrahim dan keluarganya. Berkahilah Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Kau telah berkahi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau yang Maha Terpuji dan Mahamulia
Doa setelah tasyahud awal

اَللَّهُمَّ اِنِّى ظَلَمْتُ نَفْسِى ظُلْمًا كَثِيْرًا وَلَا يَغْفٍرُ الذُّنُوْبَ اِلَّا اَنْتَ فَاغْفِرْلِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنِي اِنَّاكَ اَنْتَ الغَفُورُ الرَّحِيْمِ

Alla-humma inni- dhalamtu nafsi-dhulman katsi-ran, wa la yaghfi rudzdzunu-ba illa- antafagfirli- maghfiratan min ‘indika warhamni- innaka antal ghafu-rur rahi-m


Ya Allah aku sudah banyak menganiaya diriku, dan tiada yang dapat mengampuni dosa, selain Engkau. Maka ampunilah aku dan kasihanilah aku, sesungguhnya Engkaulah Maha Pengampun dan Maha Penyayang
Doa setelah tasyahud akhir

اَللَّهُمَّ اِنِّي اَعُوذُبِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ القَبْرِ وَمِنْ فِتَنَةِ المَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ

Alla-humma inni- a'udzu bika min 'adza-bi jahannama wa min 'adza-bil qabri wa min fitnatil mahya- wal mama-ti wa min syarri fitnatil masi-hid dajja-l


Ya Allah aku berlindung kepada Engkau dari siksa jahanam dan dari siksa kubur, begitu juga dari fitnah hidup dan mati, serta dari jahatnya fitnah Dajjal (pengembara yang dusta)
Salam

اَسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Assalamu'alaikum wa rahmatulla-hi wa baraka-tuh

Berbahagialah kamu sekalian dengan rahmat dan berkah Allah

اَسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Assalamu'alaikum wa rahmatulla-hi wa baraka-tuh

Berbahagialah kamu sekalian dengan rahmat dan berkah Allah




[1] Materi Disalin dari Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah. Disampaikan pada Kegiatan Pra-DAM Angkatan XXV Se-Indonesia Timur PC IMM Kota Kendari yang diselenggarakan di RS PKU Muhammadiyah Kendari, 15—16 April 2017
[2] Mahasiswa Pendidigan Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Kendari; Ketua Korps Instruktur Cabang IMM Kota Kendari Periode 2016—2017
[3] Pimpinan Pusat Muhammdiyah, Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah (Yogyakarta: Suara Muhammadiyah), h. 278—279
[4] Musthafa Kamal Pasha, Fiqih Islam sesuai dengan Putusan Majelis Tarjih (Yogyakarta: Citra Karsa Mandiri), h. 9
[5] Ibid, h. 36
[6] QS. Al-Maidah (5) : 6
[7] QS. An-Nisa (4) : 43
[8] Karena hadis dan An-Nasai dengan sanad yang baik: “Wudulah kamu dengan membaca “Bismillah!”. Ibnu Hajar menyatakan dalam kitab Takhrij Ahadis al-Adzkar, bahwa hadis ini hasan sahih, Imam Nawawi setelah membawakan hadis dari Anas seluruhnya, menyatakan bahwa hadis itu sanadnya baik. Dan menurut hadis: “segala perkara yang berguna, yang tidak di mulai dengan Bismillahirrahmanirrahim itu tidak sempurna” (Diriwayatkan oleh Abdul Kadir Arruhawi dari Abu Hurairah).
[9] Karena hadis: “Sesungguhnya pekerjaan itu disertai dengan niatnya.
[10] Karena hadis dari Humran: “Sungguh Usman telah minta air Wudu, maka dicucinya kedua telapak tangannya tiga kali, lalu berkumur dan menghirup (menghirup) dan menyemburkan, kemudian membasuhnya tiga kali, lalu membasuh tangannya yang kanan sampai sikunya tiga kali dan yang kiri seperti demikian itu pula, kemudian mengusap kepalanya lalu membasuh kakinya yang kanan sampai kepada dua mata kaki tiga kali dan yang kiri seperti itu pula. Lalu berkata: “Aku melihat Rasulullah saw wudu seperti wudu ini” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).
[11] Karena hadis: “Kalau aku tidak khawatir akan menyusahkan ummatku, niscaya aku perintahkan kepada mereka bersiwak (menggosok gigi) pada tiap wudu”. (Diriwayatkan oleh Malik, Ahmad dan An-Nasai serta disahihkannya). Dan karena hadis yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam tarikhnya dan Thabrani dari Abu Khairah Shubahi ra: “Dahulu saya termasuk utusan Abdul Qais yang menghadap Rasulullah, maka Rasulullah menyuruh mengambilkan kayu arok, lalu bersabda: “Bersiwaklah dengan ini””.
[12] Hadis Humran pada catatan kaki  nomor 10. Menurut hadis dari Ali ra dalam sifatnya wudu: “Kemudian berkumur dan menyemburkannya tiga kali” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan An-Nasai). Karena hadis dari Abdullah bin Zaid dalam sifat wudu: “Kemudian memasukkan tangannya, maka berkumur dan menghirup air dari telapak tangan sebelah: beliau mengerjakan demikian tiga kali” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim). Dan menurut hadis Abu Hurairah: Rasulullah memerintahkan berkumur dan menghirup air (Diriwayatkan oleh Ad-Daruqutni).
[13] Karena hadis Laqith bin Shaburah: “Sempurnakanlah wudu, selai-selailah diantara jari-jari dan sempurnakanlah dalam menghirup air, kecuali kamu sedang berpuasa” (Diriwayatkan oleh Imam Empat: Abu Dawud, An-Nasai, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, dan disahihkan oleh Ibnu Khuzaimah). Dan dalam riwayat Daulabi, yang disahihkan oleh Ibnu Qaththan dalam isnadnya: “Apabila kamu wudu, maka sempurnakanlah dalam berkumur dan menghirup air, kecuali kalau kamu berpuasa”.
[14] Karena ayat yang tersebut dalam pendahuluan: basuhlah (cucilah) mukamu dan hadis Humran tersebut pada catatan kaki  nomor 10: Kemudian membasuh mukanya tiga kali.
[15] Menurut hadis Abu Dawud dengan isnad yang baik, dari Abi Umamah: Rasulullah saw mengusap dua sudut mata dalam Wudu.
[16] Menurut hadis Abu Hurairah pada riwayat Muslim, bahwa Rasulullah saw bersabda: “Kamu sekalian bersinar: muka, kaki dan tanganmu di hari kemudian, sebab menyempurnakan wudu, maka siapa yang mampu diantaramu supaya melebihkan sinarnya”.
[17] Karena hadis Abdullah bin Zaid bin 'Ashim, bahwa Rasulullah saw wudu, maka beliau mengerjakan demikian, yakni “menggosok” (Diriwayatkan oleh Ahmad).
[18] Karena, hadis Usman bin Affan, bahwa Rasulullah saw menyela-selai janggutnya dalam Wudu (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan disahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, Ad-Daruqutni dan Hakim).
[19] Karena ayat dalam pendahuluan (Surat Al-Maidah (5) ayat 6: Dan tanganmu sampai ke siku. Dan hadis Humran pada catatan kaki  10: Lalu membasuh tangannya yang kanan sampai sikunya tiga kali, dan yang kiri seperti itu pula. Dan karena hadis dari Abdullah bin Zaid bin 'Ashim tersebut pada catatan kaki  nomor 17 dan hadisnya juga bahwa Nabi saw diberi air dua pertiga mud (±1,5 liter) lalu menggosok dua lengannya (Diriwayatkan oleh Ahmad dan disahihkan oleh Ibnu Khuzaimah).
[20] Karena hadis Laqith tersebut pada catatan kaki  nomor 13: Sela-selailah di antara jari-jari.
[21] Menurut hadis Abu Hurairah catatan kaki nomor 16: supaya melebihkan sinar muka, tangan dan kaki.
[22] Menurut yang diriwayatkan oleh Aisyah, telah berkata: bahwa Rasulullah saw suka mendahulukan kanannya, dalam memakai sandalnya, bersisirnya, bersucinya dan dalam segala halnya (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
[23] Karena ayat: dan usaplah kepalamu, dan hadis Humran tersebut pada catatan kaki nomor 10: kemudian mengusap kepalanya.
[24] Menurut hadis Mughirah pada riwayat Muslim, Abu Dawud dan At-Tirmidzi, bahwa Nabi saw berwudu lalu mengusap ubun-ubun dan atas surbannya.
[25] Karena hadis Abdullah bin Zaid bin 'Ashim dalam sifat Wudu, ia berkata: “Dan memulai dengan permulaan kepalanya sehingga menjalankan kedua tangannya sampai pada tengkuknya, kemudian mengembalikanya pada tempat memulainya” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).
[26] Menurut hadis Abdullah bin Umar tentang sifat wudu ia berkata: “Lalu, mengusap kepalanya dan memasukkan kedua telunjuknya pada kedua telinganya dan mengusapkan kedua ibu jari pada kedua telinga yang luar, serta kedua telunjuk mengusapkan pada kedua telinga yang luar serta kedua telunjuk mengusapkan pada kedua telinga yang sebelah dalam” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan An-Nasai, disahihkan oleh Ibnu Khuzaimah).
[27] Karena melihat ayat: dan cucilah kakimu sampai kedua mata kaki. Hadis Humran tersebut pada catatan kaki nomor 10, lalu mencuci kakinya yang kanan sampai kedua mata kaki tiga kali dan yang kiri seperti demikian itu pula. Dan hadis Abdullah tersebut nomor 10: menggosok.
[28] Menurut hadis Laqith bin Saburah tersebut pada catatan kaki  nomor 13 : sela-selailah di antara jari-jari. Hadis Abu Hurairah pada catatan kaki  nomor 16 (supaya melebihkan sinar muka, tangan dan kakinya).
[29] Karena hadis Aisyah ra tersebut pada catatan kaki  nomor 22: Rasulullah saw suka mendahulukan kanannya.
[30] Menurut Hadis Umar bin Khathab ra: “Sungguh telah datang seorang kepada Nabi saw ia telah berwudu tetapi telah meninggalkan sebagian kecil telapak kakinya selebar kuku. Maka bersabda Rasulullah saw: kembali dan perbaikilah Wudumu.” Berkata Umar. “Orang itu lalu kembali berwudu lalu salat” (Diriwayatkan oleh Muslim dan Abu Dawud). Dan karena hadis: “Neraka Wail itu bagi orang yang tidak sempurna mencuci tumitnya” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu 'Amer bin 'Ash).
[31] Menurut hadis dari Umar bin Khathab ra bahwa dia telah berkata: Nabi saw tadi bersabda: “Tidak ada seorang dari kamu yang berwudu dengan sempurna lalu mengucapkan: Asyhadu alla- ila-ha illa-Ilahu-wa-asyhadu anna-Muhammadan 'abduhu-wa rasu-luh melainkan akan dibukakanlah baginya pintu Syurga yang delapan, yang dapat dimasuki dari mana yang ia hendaki” (Diriwayatkan oleh Muslim, Ahmad dan Abu Dawud).
[32] Karena ayat yang tersebut dalam pendahuluan (Surat Al-Maidah (5) ayat 6): dan jika kamu junub, maka bersuci (mandi)-lah kamu. Dan hadis: Sesungguhnya air itu dari air (Diriwayatkan oleh Muslim dan Abu Sa'id Khudri). Dan hadis dari Ali ra berkata: Adalah aku seorang yang sering mengeluarkan madzi, maka aku bertanya kepada Nabi saw maka jawabnya:Keluar madzi harus wudu, dan keluar mani harus mandi (Diriwayatkan oleh Ahmad, lbnu Majah dan At-Tirmidzi). Dan hadis Ummi Salamah tersebut dalam Al-Bukhari dan Muslim, berkata: “Hai Rasulullah saw, sesungguhnya Allah tidak malu dari suatu kebenaran, apakah wajib mandi bagi wanita kalau bermimpi?”, beliau menjawab: “Ya, kalau melihat, cairan”.
[33] Menurut hadis: Apabila seorang bersetubuh, maka wajiblah mandi” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Muslim dan lain-lainnya dari Abu Hurairah).
[34] Karena hadis Ibnu Umar pada riwayat Muslim, Rasulullah saw bersabda: “Apabila salah seorang dari kamu sekalian akan menghadiri salat Jumat, maka hendaklah mandi”.
[35] Yang menunjukkan wajib mandi dalam keduanya, ialah nas dari quran surat Al-Baqarah ayat 222: Dan janganlah kamu mendekati Istri (yang sedang haid) sehigga bersuci, dan apabila sudah bersuci (mandi)…. . Dan hadis dari Aisyah ra bahwa Fathimah binti Abi Hubaisy istihadah, lalu menanyakan kepada Nabi saw, lalu beliau bersabda: “Itulah darah penyakit, bukan haid maka kalau kamu berhaid maka tinggalkanlah salat dan kalau sudah selesai maka mandilah, lalu salatlah” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari).
[36] Lihat catatan kaki nomor 34
[37] Karena hadis Aisyah ra bahwa Nabi saw itu apabila mandi karena junub, ia mulai membasuh kedua tangannya, kemudian menuangkan dengan kanannya pada kirinya, lalu mencuci kemaluannya, lalu berwudu sebagaimana beliau wudu untuk salat; kemudian mengambil air dan memasukkan jari-jarinya di pangkal rambutnya sehingga apabila ia merasa bahwa sudah merata, ia siramkan air untuk kepalanya tiga tuangan, lalu meratakan seluruh badannya; kemudian membasuh kedua kakinya (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).
[38] Karena hadis: “Sesungguhnya semua pekerjaan itu dengan niat, tercantum pada catatan kaki nomor 9 di atas.
[39] Karena menurut hadis Maimunah pada Al-Bukhari dan Muslim: Kemudian menuangkan air pada kemaluannya dan membasuhnya dengan tangan kirinya, lalu digosokkan tangannya pada tanah. Dan dalam riwayat lain: “maka ia mengusap tangannya dengan tanah”.
[40] Lihat hadis Aisyah ra: jika Nabi saw mandi karena janabah, beliau minta suatu wadah (seperti ember) lalu mengambil air dengan telapak tangannya dan memulai dari sisi kepalanya yang sebelah kanan lalu yang sebelah kiri, lalu mengambil air dengan kedua telapak tangannya, maka ia membasuh kepalanya dengan keduanya (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim). Dan dari hadis Aisyah ra: Sesungguhnya Asma menanyakan kepada Nabi saw tentang mandinya orang haid, maka bersabda saw: “Ambillah seorang dari kamu sekalian air dan daun bidara, lalu mandilah dengan sebaik-baiknya, lalu curahkan air lagi dari atas kepalanya dan gosok dengan sebaik-baiknya, sehingga sampai ke dasar kepalanya, lalu curahkan air lagi dari atasnya, kemudian ambil sepotong kapas (kain yang diberi minyak kesturi), lalu usaplah dengan kain itu…….dan seterusnya” (Diriwayatkan oleh Muslim).
[41] Karena hadis Aisyah ra bahwa Nabi saw bersabda kepadanya padahal dia sedang haid: “Lepaskanlah rambutmu dan mandilah” (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dengan isnad atau rangkaian yang sahih).
[42] Lihat hadis Aisyah ra tersebut seperti pada catatan kaki nomor 22 yang menerangkan tentang mendahulukan yang kanan
[43] Menurut hadis Aisyah ra seperti tersebut pada catatan kaki nomor 40: menyiram untuk kepalanya tiga tuangan lalu menyiramkan air pada semua badannya.
[44] Karena arti kata tathahhur dalam surat Al Maidah (5) ayat 6, menegaskan arti lebih dari pada mandi biasa, ialah dengan gosokan.
[45] Lihatlah hadis Aisyah ra seperti tersebut pada catatan kaki nomor 40: kemudian membasuh kedua kakinya, dan hadisnya tentang mendahulukan bagian kanan.
[46] Hadisnya tentang mendahulukan yang kanan. Menurut hadis yang diriwayatkan oleh Anas:Adalah Nabi saw mandi dengan satu sha’ [Satu Sha’ + 3 liter satu mud +3/4 litar] sampai lima mud dan Wudu dengan satu mud (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).
[47] Menurut hadis ‘Amr bin Ash bahwa sesungguhnya ia diutus ke medan perang Dza-tussalasil, ia berkata: “Aku mimpi (mengeluarkan air mani) pada suatu malam yang amat dingin, maka aku takut jika aku mandi akan berbahaya, lalu aku tayamum; kemudian aku salat subuh bersama sahabat-sahabatku. Tatkala kami datang pada Nabi saw mereka menceritakan hal itu kepadanya; maka beliau bersabda padanya: “Hai 'Amr, engkau salat bersama sahabat-sahabatmu sedang engkau junub?”. Maka aku menyahut: “Saya ingat akan firman Tuhan Allah swt: Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah itu maha belas kasih kepadamu, maka aku bertayamum dan lalu salat”. Maka tertawalah Rasulullah saw, dan tidak bersabda apa-apa (Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud dan Daruqutni).
[48] Menurut ayat pada surat Al Maidah (5) ayat 6 : sedang kamu tidak mendapatkan air, maka bertayamumlah kamu dengan debu yang suci. Dan menurut hadis Jabir, ia berkata: Kami sedang dalam bepergian (musafir) lalu seorang dari kami terkena batu sehingga melukai kepalanya; kemudian ia bermimpi (mengeluarkan air mani), maka ia bertanya kepada teman-temannya:Apakah kamu berpendapat bahwa aku mendapat kemudahan bertayamum?Dijawab oleh mereka: Kami tidak berpendapat bahwa kamu mendapat kemudahan, sedang kamu kuasa memakai air. Maka mandilah ia lalu meninggal dunia. Tatkala kami datang kepada Nabi saw, kami kabarkan yang demikian itu, maka Nabi saw bersabda: “Mereka membunuh dia, mereka dikutuk oleh Allah. Mengapa mereka tidak bertanya sedang mereka tidak mengerti? Obat untuk kebodohan adalah bertanya. Sesungguhnya cukup baginya bertayamum(Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ad-Daruqutni).
[49] Menurut hadis 'Ammar ra berkata: Aku pernah berjanabat dan tidak mendapatkan air, kemudian aku berguling-guling di tanah dan salat. Maka aku ceritakan hal tersebut kepada Nabi saw, lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya cukup bagimu begini”. Lalu beliau meletakkan kedua tangannya di tanah dan meniupnya, kemudian mengusap muka dan kedua telapak tangannya” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).
[50] Karena keumuman hadis: Sesungguhya semua pekerjaan itu dengan niat
[51] Karena menurut hadis: Segala perkara yang berguna…….yang tercantum pada catatan kaki nomor 8.
[52] Menurut hadis ‘Ammar tersebut pada catatan kaki nomor 49: kemudian mengusap mukanya.
[53] Karena mengingat arti ayat yang tersebut di dalam pendahuluan: sedang kamu tidak mendapat air.
[54] Karena menurut hadis Anas ra berkata: “Rasulullah saw masuk ke jamban, maka aku bersama anak yang sebaya dengan aku membawa tempat air dan tongkat, maka beliau beristinja dengan air” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).
[55] Karena hadis Aisyah ra bahwa Nabi saw bersabda: “Apabila salah seorang dari kamu sekalian pergi ke jamban, maka bersucilah dengan tiga batu, sesungguhnya tiga batu itu telah mencukupi” (Diriwayatkan oleh Ahmad, An-Nasai dan lainnya). Dan karena hadis Salman, berkata: “Rasulullah saw melarang kami menghadapkan kiblat waktu buang air (besar atau kecil) atau istinja dengan batu yang kurang dari tiga butir, atau istinja dengan kotoran atau dengan tulang” (Diriwayatkan oleh Muslim).
[56] Menurut hadis yang tersebut pada catatan kaki nomor 55; dan mengingat hadis Salman, katanya: “Kami diperintah oleh Rasulullah saw agar jangan mencukupkan batu yang kurang dari tiga buah, tidak termasuk kotoran dan tulang” (Riwayat Ahmad dan Ibnu Majah dan Muslim). Sebab andaikan Nabi saw dalam sabdanya mengenai batu-batu itu, tidak dimaksudkan memasukkan benda-benda lainnya pula yang sama dapat membersihkan, maka dalam membedakan tulang dan kotoran tidak ada artinya.
[57] QS. An-Nisa (4) : 103
[58] QS. Ali-Imran (3) : 103
[59] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim
[60] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari
[61] Menurut hadis sahih yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan at-At-Tirmidzi: “Kunci (pembuka) salat itu Wudu, permulaannya takbir dan penghabisannya salam”. Dan hadis sahih dari Ibnu Majah yang disahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dari hadis Abi Humaid Sa'idi bahwa Rasulullah, jika salat ia menghadap ke Kiblat dan mengangkat kedua belah tangannya dengan membaca “Allahu Akbar”. Dan menurut hadis:Bila kamu menjalankan salat, takbirlah …dan seterusnya” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).
[62] Menilik firman Allah:Dan tidaklah mereka diperintah melainkan supaya menyembah kepada Allah dengan ikhlas kepadaNya daam menjalankan Agama (Surat al-Bayyinah () ayat 6). Dan menurut hadis:Sesungguhnya (sahnya) amal itu tergantung kepada niat (Diriwayatkan oeh Al-Bukhari dan Muslim).
[63] Menurut hadis Ibnu Umar bahwa Nab saw mengangkat kedua tangannya selurus ahunya bila ia memulai salat, bila takbir hendak rukuk dan bila mengangkat kepalanya dari rukuk ia mengangkat kedua tangannya juga dengan mengucapkan “Sami'alla-hu liman hamidah rabbana- wa lakalhamd”, dan tidak menjalankan demikian itu dalam (hendak) sujud" (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim). Tersebut dalam sahih Muslim dari Malik bin Huwarits, bahwa Rasulullah saw apabila takbir ia mengangkat kedua tangannya sampai sejajar pada telinganya, begitu juga bila hendak rukuk, dan bila mengangkat kepalanya dari rukuk lalu mengucapkan: “Sami'alla-hu liman hamidah”, ia mengerjakan demikian juga. Dan dalam hadis riwayat Abu Dawud dari Wail dengan kalimat: “Sehingga kedua tangannya itu selempang dengan bahunya serta ibu jarinya sejajar dengan telinganya” (Tersebut dalam kitab Tah juz II halaman 150).
[64] Menilik hadis sahih dari Wail yang berkata: “Saya salat bersama Rasulullah saw dan beliau meletakkan tangan kanannya pada tangan kirinya di atas dadanya” (Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dan disahihkannya). Dan hadis dari Wail juga menurut riwayat Abu Dawud dan An-Nasai, “Lalu beliau meletakkan tangan kanannya pada punggung telapak tangan kirinya, serta pergelangan dan lengannya” (Hadis ini disahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan lainnya, sedang asalnya dalam sahih Muslim, dengan tidak ada tambahannya, sebagaimana yang tersebut dalam kitab Fath juz II halaman 152). Dan tersebut dalam Al-Bukhari dari Sahl bin Sa'ad yang berkata:Bahwa orang-orang diperintah supaya meletakkan tangan kanannya pada lengannya”.
[65] Menurut hadis Abu Hurairah tentang bacaan itu (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
[66] Mengambil dari hadis Ali ra tentang bacaan itu (Diriwayatkan oleh Muslim dalam Sahihnya).
[67] Menilik bunyi al-Quran surat an-Nahl ayat 98: “Apabila kamu akan membaca al-Quran hendaklah kamu mohon perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk (berdoa: “A'u-dz billa-hi minasy Syaitha-nir raji-m”)”. Dan menurut hadis yang diriwayatkan oleh Abu Sa'id al-Khudri, bahwa Nabi saw adalah membaca taawuz itu (sebagai yang tersebut dalam kitab Muhadzdzab). Ibnul Mundzir berkata: Bahwa diceritakan dari Nabi saw bahwa sebelum membaca al-Quran beliau berdoa: “A'u-dzu billa-hi minasy Syaitha-nir raji-m” (Tersebut dalam kitabNailul Authar juz II).
[68] Mengingat hadis dari Nu'aim al-Mujmir, katanya: “Saya salat di belakang Abu Hurairah ra maka ia membaca “Bismilla-hirrahma-nirrahi-m” lalu membaca induk al-Quran (surat al-Fatihah) sehingga tatkala sampai pada “wa ladldla-lli-n” beliau membaca “a-mi-n” dan orang-orangpun sama membaca “a-mi-n”. Begitu juga tiap-tiap hendak sujud, mengucapkan: “Alla-hu Akbar” dan bila berdiri dari duduk dalam rakaat kedua beliau mengucapkan: “Alla-hu Akbar”. Setelah bersalam beliau berkata: “Demi Yang menguasai diriku, sungguh salatku yang mengerupai dengan salatnya Rasulullah saw” (Diriwayatkan oleh An-Nasai, Ibnu Khuzaimah, Siraj, Ibnu Hibban dan lainnya; tersebut dalam kitab al-Fath Juz II halaman 181, dengan katanya bahwa inilah hadis yang paling sah, tentang hal yang disebut).
[69] Mengingat hadis 'Ubadah bin as-Shamit bahwa Rasululllah saw bersabda:Tidak sah salatnya orang yang tidak membaca permulaan Kitab (al-Fatihah) (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim). Ada lagi hadis 'Ubadah bahwa: Rasulullah saw salat subuh maka merasa terganggu oleh pembacaan makmum. Setelah selesai beliau bersabda: Aku melihat kamu sama membaca di belakang imammu? Kata 'Ubadah, bahwa kita semua menjawab: Ya Rasulullah, demi Allah benar begitu! Maka sabda Nabi:Janganlah kamu mengerjakan demikian, kecuali bacaan Fatihah” (Diriwayatkan oleh Ahmad, ad-Daruquthni dan al-Baihaqi). Dan mengingat hadis Anas, katanya bahwa Rasulullah saw bersabda: “Apakah kamu sekalian membaca dalam salatmu di belakang imammu, padahal imam sedang membaca? Janganlah kamu mengerjakannya, hendaklah masing-masing kamu membaca Fatihah sekadar didengar olehnya sendiri” (Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban).
[70] Mengingat hadis Abu Hurairah ra bahwa Nabi saw bersabda: “Apabila imam membaca “A-mi-n” maka kamu hendaklah pula membaca “A-mi-n” karena sungguh barang siapa yang bacaan “a-mi-n”nya bersamaan "A-mi-n"nya Malaikat, tentulah diampuni dosanya yang telah lalu”. Dan hadis dari Abu Hurairah juga, bahwa Rasulullah saw bersabda: “Apabila salah seorang diantaramu membaca "A-mi-n" sedang Malaikat di langitpun membaca “Ami-n” pula, dan bersamaan keduanya, maka diampunilah ia dari dosanya yang sudah-sudah” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dan dalam hadis riwayat Muslim ada tambahannya: “Apabila salah seorang diantaramu membaca dalam salatnya)”.
[71] Menilik hadis Abu Qatadah bahwa Nabi saw dalam salat Zuhur pada rakaat kedua permualaan (rakaat ke-1 dan ke-2, membaca induk Kitab (Fatihah) dan dua surat, serta pada dua rakaat lainnya (rakaat ke-3 dan ke-4) membaca Fatihah saja, dan beliau memperdengarkan kepada kami akan bacaan ayat itu, dan pada rakaat ke-1 diperpanjang tidak seperti dalam rakaat ke-2; demikian juga dalam salat asar dan subuh (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
[72] Karena firman Allah swt: “Apakah mereka tidak memperhatikan al-Quran, ataukah pada hati mereka ada tutupnya? (Muhammad: 24). Dan firmannya:Dan bacalah al-Quran itu dengan perlahan-lahan (Al-Muzammil: 5)
[73] Karena hadis Ibnu Umar tersebut pada catatan kaki nomor 63 di atas
[74] Karena firman Allah: Hai orang-orang mukmin, hendaklah kamu rukuk, sujud dan sembahlah Tuhanmu serta berbuatlah kebaikan, agar kamu berbahagia(Hajj: 77). Dan menurut hadis dari Abu Hurairah ra bahwa Nabi saw bersabda: “Apabila kamu menjalankan salat bertakbirlah, lalu membaca sekadar dari al-Quran, lalu rukuk sehingga tenang (tuma'ninah), terus berdiri sampai lurus, kemudian sujud sehingga tenang, kemudian duduklah sampai tenang, lalu sujud lagi sehingga tenang pula; kemudian lakukanlah seperti itu dalam semua salatmu” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).
[75] Karena hadis Abu Hurairah ra mengatakan bahwa Rasulullah saw Kalau salat ia bertakbir ketika berdiri, lalu bertakbir ketika rukuk, lalu membaca "Sami'alla-hu liman hamidah" ketika mengangkat punggungnya (bangun) dari rukuk, lalu membaca selagi beliau berdiri: "Rabbana- walakal hamd", lalu takbir tatkala hendak sujud, lalu bertakbir tatkala hendak mengangkat kepala (duduk antara dua sujud), lalu bertakbir tatkala hendak mengangkat kepala (duduk antara dua sujud), lalu bertakbir tatkala hendak berdiri; kemudian melakukan itu dalam semua salatnya serta bertakbir tatkala berdiri dari rakaat yang kedua sesudah duduk (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
[76] Karena hadis dari Abu Humid Sa'idi ra yang berkata: “Saya lebih cermat (hafal) dari padamu tentang salat Rasulullah saw Kulihat apabila beliau bertakbir, mengangkat kedua tangannya sejurus dengan bahunya dan apabila rukuk meletakkan kedua tangannya pada lututnya, lalu membungkukkan punggungnya, lalu apabila mengangkat kepalanya ia berdiri tegak sehingga luruslah tiap tulang-tulang punggungnya seperti semula; lalu apabila sujud, ia letakkan kedua teapak tangannya pada tanah dengan tidak meletakkan lengan dan tidak merapatkannya pada lambung, dan ujung-ujung jari kakinya dihadapkan ke arah Kiblat. Kemudian apabila duduk pada rakaat yang kedua ia duduk di atas kaki kirinya dan menumpukkan kaki yang kanan. Kemudian apabila duduk pada rakaat yang terakhir ia majukan kaki kirinya dan menumpukkan kaki kanannya serta duduk bertumpu pada pantatnya” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab Sahihnya).
[77] Menilik hadis Sayidatina Aisyah ra menceritakan, bahwa Rasulullah saw dalam rukuk dan sujudnya beliau mengucapkan; Subha-nakalla-humma rabbana- wa bihamdikalla-hummagh firli- ....... dan seterusnya. (Muttafaqun 'Alaih atau diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
[78] Menurut hadis Hudzaifah, katanya: “Aku bersalat bersama Nabi saw, maka dalam rukuknya beliau membaca: "Subha-na rabbiyal adhim" dan dalam sujudnya beliau membaca "Subha-na Rabbiyal a'la" ..... dan seterusnya (Diriwayatkan oleh lima ahli hadis dan disahihkan oleh at-At-Tirmidzi). Dan ada lagi hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim, Abu Dawud dan An-Nasai dari Aisyah ra bahwa Rasulullah saw dalam rukuk dan sujudnya membaca: "Subbu-hun quddu-sun rabbul Mala-ikati war ru-h" (Kedua hadis ini tersebut dalam kitab Nailul Authar juz 2)
[79] Lihat hadis Abu Hurairah tersebut pada catatan kaki nomor 74 di atas
[80] Lihat hadis Abu Hurairah tersebut pada catatan kaki nomor 75 di atas
[81] Menurut ayat dan hadis dalam dalil sepeerti tersebut pada catatan kaki nomor 74
[82] Lihat hadis Abu Hurairah tersebut pada catatan kaki nomor 75 di atas
[83] Menurut hadis dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Rasulullah saw bersabda: “Aku diperintah supaya bersujud di atas tujuh tulang: dahi – seraya menunjuk pada hidungnya – di atas dua belah tangan, kedua lutut dan di atas kedua ujung kaki” (Muttafaqun 'Alaih). Ada lagi hadis dari Wail bin Hajur, katanya: “Aku melihat Rasulullah saw bila bersujud meletakkan kedua lutut sebelum kedua tangannya dan kalau berdiri mengangkat kedua tangannya sebelum kedua lututnya” (Diriwayatkan oleh lima imam kecuali Ahmad, sebagaimana yang tersebut dalam kitab Nailul Authar). Dan menurut hadis dari Abu Hurairah ra yang mengatakan bahwa Rasulullah saw bersabda: “Kalau salah seorang daripadamu bersujud, maka janganlah berdekam sebagaimana unta berdekam, ialah meletakkan tangannya sebelum lututnya” (Tersebut dalam kitab Taisirul Wushul).
[84] Lihat hadis Abi Humaid tersebut pada catatan kaki nomor 76 di atas. Dan mengingat hadis dari Abdullah bin Malik bin Buhainah, bahwa Nabi saw jika salat merenggangkan antara kedua tangannya sehingga kelihatan putih ketiaknya (Muttafaq 'Alaih atau diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim). Dan dalam sahih Muslim, bahwa Rasulullah saw jika bersujud merenggangkan kedua tangannya dari ketiaknya, sehingga kulihat putih ketiaknya. Dan hadis dari al-Barra' bin 'Azib dalam sahih Muslim juga, bahwa Rasulullah saw bersabda: “Bila kamu bersujud, letakkanlah kedua belah telapak tanganmu dan angkatlah kedua sikumu”.
[85] Lihatlah hadis Aisyah tersebut pada catatan kaki nomor 77 di atas
[86] Menilik hadis Hudzaifah dan Aisyah ra tersebut pada catatan kaki nomor 78 di atas
[87] Mengingat hadis yang diriwayatkan oleh at-at-Tirmidzi dari Ibnu 'Abbas ra bahwa Nabi saw di antara kedua sujud mengucapkan; "Alla-hummagh firliwarhamni- wajburni- wahdini- war zuqni-" (Tersebut dalam kitab Nailul Authar).
[88] Periksalah hadis Abu Hurairah tersebut pada catatan kaki nomor 74, hadis Aisyah ra tersebut pada catatan kaki nomor 77 dan kedua hadis tersebut pada catatan kaki nomor 78 di atas.
[89] Menilik hadis dari Malik bin Huwairits mengatakan bahwa ia mengetaui Nabi saw salat, maka apabila beliau berada dalam rakaat gasal (ganjil, Jawa) dari salatnya, beliau sebelum berdiri, duduk dahulu sehingga lurus duduknya (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam sahihnya). Ada lain hadis oleh Al-Bukhari juga, apabila beliau mengangkat kepalanya dari sujud yang kedua, duduk dan menekan kepada tanah, lalu berdiri.
[90] Periksalah hadis Abu Hurairah tersebut nomor pada catatan kaki nomor 74. Dan tersebut dalam Sahih Muslim dari Abu Hurairah juga bahwa jikalau Rasulullah saw berdiri dari rakaat kedua, beliau tidak diam, melainkan memulai bacaan dengan: "Alhamdulillahi rabbil 'a-lami-n".
[91] Lihat hadis Abu Humaid Sa'idi tersebut nomor pada catatan kaki nomor 76 di atas. Dan yang tersebut dalam sahih Muslim dari Ibnu Umar ra bahwa Rasulullah, jika duduk dalam tasyahud, meletakkan tangan kirinya di atas lutut kirinya dan tangan kanan di atas lutut kanannya serta menggenggamkannya seperti membuat isyarat "lima puluh tiga" dengan mengacunkan jari telunjuknya. Dalam sahih Muslim pula dari Zubair ra bahwa Rasulullah saw kalau duduk berdoa meletakkan tangan kanannya di atas paha – kanannya dan tangan kirinya di atas paha kiri, serta mengacungkan jari telunjuknya, dan telapak tangan kirinya menggenggam lututnya.
[92] Periksalah hadis Humaid Sa'idi dalam dalil pada catatan kaki nomor 76 di atas
[93] Karena hadis dari Abdullah bin Mas'ud ra bahwa tatkala kita salat di belakang Rasulullah saw kita sama membaca: "Assala-mu 'ala- Jibri-la wa Mi-ka-ila Assala-mu 'ala- fula-n wa fula-n", maka berpalinglah Rasulullah saw kepada kita lalu bersabda: "Sesungguhnya Allah itu Yang Maha Selamat, maka apabila salah seorang daripadamu salat, hendaklah berdoa: "At-Tahiyya-tu lilla-h was shalawa-tu wath thayyiba-t"… dan seterusnya (Muttafaq 'Alaih). Dalam kitab Fath (Juz II halaman 200) dari Aswad dan Abdullah pua dengan riwayat lain oleh Ibnu Khuzaimah, bahwa Rasulullah saw telah mengajarkan kepadaku "tasyahud" dalam pertengahan dan penghabisan salat.
[94] Dan dalam kitab Um (Juz I halaman 102) dari Ka'b bin 'Ujrah, bahwa Nabi saw membaca shalawat: "Alla-humma shalli 'ala- Muhammad wa 'ala- a-li Muhammad kama- shallaita 'ala Ibra-him wa a-li Ibra-him wa ba-rik 'ala Muhammad wa 'ala- a-li Muhammad kama- ba-rakta 'ala- Ibra-him wa 'alaa-li Ibra-him innaka hami-dum maji-d". Dan dalam kitab Fath (Juz II halaman 218); maka pada Sa'id bin Mansur dan Abu Bakar bin Abi Syaibah dengan sanad (rangkaian) sahih sampai kepada Abu Ahwash berkata: Berkata 'Abdullah: "Supaya orang itu dalam salatnya membaca tasyahud, lalu membaca shalawat kepada Nabi saw kemudian berdoa untuk dirinya sendiri".
[95] Menilik yang tersebut dalam kitab Nailul Authar, dari Ibnu Mas'ud ra katanya, bahwa Nabi Muhammad saw bersabda: "Bila kamu duduk dalam tiap-tiap dua rakaat, bacalah: “At-Tahiyya-tu lilla-h, washshalawa-tu wath thayyiba-t, assala-mu'alaika ayyuhan Nabiyyu wa rahmatulla-hi wa barakatuh, assala-mu 'alaina wa 'ala 'iba-dilla-hish sha-lihi-n, Asyhadu alla- ila-ha illala-h wa asyhadu anna Muhammadan 'abduhu- wa Rasu-luh”, lalu pilihlah doa yang disukai dan berdoalah dengan itu kepada Tuhannya (Diriwayatkan oleh Ahmad dan An-Nasai). Dan dalam kitab Taisirul Wushul dari Ibnu Mas'ud ra, bahwa Rasulullah saw jika duduk dalam dua rakaat yang pertama seolah-olah ia duduk di atas batu yang panas , hingga segera berdiri.
[96] Dalam sahih Al-Bukhari dari Nafi' bahwa Ibnu Umar kalau salat bertakbir serta mengangkat kedua tangannya, kalau rukuk mengangkat kedua tangannya, apabila membaca "sami'alla-hu liman hamidah" mengangkat kedua tangannya dan jika berdiri dari rakaat yang kedua mengangkat kedua tangannya (Hadis ini marfu'/ disambungkan oleh Ibnu Umar kepada Nabi saw). Dan dalam riwayat Abu Dawud yang disahihkan oleh Al-Bukhari perantaraan Muhrib bin Datstsar dari Ibnu Umar juga, bahwa Nabi saw apabila berdiri dari rakaat yang kedua bertakbir dan mengangkat kedua tangannya (Dan hadis ini dikuatkan oleh hadis lain sebagaimana yang diterangkan dalam kitab Fath Juz II halaman 151)
[97] Lihatlah hadis Abu Hurairah yang tersebut pada catatan kaki nomor 74, dan dalam sahih Muslim dari Abu Hurairah yang tersebut pada catatan kaki nomor 90 dan hadis Abu Qatadah yang tersebut pada catatan kaki nomor 71 di atas.
[98] Dalam sahih Muslim dari Abu Hurairah menerangkan bahwa Rasulullah saw bersabda: "Apabila salah seorang daripadamu bertasyahud, hendaklah minta perlindungan kepada allah dari empat perkara, dengan berdoa: "Allahumma inni- a'udzu bika …dan seterusnya hadis. Demikian pula dalam riwayat lain, dengan kalimat: "Kalau selesai bertasyahud akhir, hendaklah meminta perlindungan dari empar perkara"… seterusnya hadis.
[99] Periksalah dalil pada catatan kaki nomor 61 di atas. Dan hadis dari Sa'd: "Saya melihat Rasulullah saw bersalam ke arah kanan dan ke arah kirinya, sampai kulihat putih pipinya" (Diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab sahihnya).
[100] Menurut hadis Abu Dawud dengan sanad sahih dari Wail bin Hujur, katanya: "Aku salat bersama–sama Rasulullah saw maka beliau bersalam ke kanannya dengan membaca: "Assala-mu 'alaikum wa rahmatullahi wa baraka-tuh dan bersalam ke kirinya dengan membaca: "Assala-mu 'alaikumwa rahmatulla-hi wa baraka-tuh". (Tersebut dalam kitab Bulughul Maram)
[101] Periksalah dalil pada catatan kaki nomor 98 dan catatan kaki nomor 61 dan hadis Wail bin Hujur, seperti tersebut pada catatan kaki nomor 100 di atas.
[102] Sebab tidak ada hadis tentang hal ini (perbedaan pria dan wanita dalam bersalat). Benar telah diriwayatkan dari Nabi saw bahwa beliau menyuruh wanita untuk merapatkan setengah anggotanya kepada lainnya dalam salat, sebagai hadis Abu Dawud dari Zaid bin Abi Habib, hanya saja hadis ini mursal (seperti tersebut dalam kitab Subulus salam juz pertama)



Komentar