Oleh: Haidir
Muhari[2]
(Ketua Bidang Kader DPD IMM Sultra)
Ibadah ialah bertaqarub
(mendekatkan diri) kepada Allah dengan jalan menaati segala
perintah-perintah-Nya, menjauhi larangan-larangan-Nya, dan mengamalkan segala
yang diizinkan Allah. Ibadah itu ada dua yang umum dan ada yang khusus.
Yang umum ialah segala amal yang diizinkan Allah, dan yang khusus ialah
apa yang telah ditetapkan Allah akan perincian-perinciannya, tingkah dan
cara-cara yang tertentu.[3]
Taharah ditinjau
dari arti lughawy atau etimologi berarti membersihkan diri. Sedang
secara istilah atau terminologi berarti bersuci dengan cara-cara yang telah
dutentukan syara’ guna menghilangjan segala najis dan hadats.[4]
Yang mencakup bahasan taharah dalam tulisan singkat ini yaitu wudu, tayamum,
mandi, dan istinja’. Istilah salat dalam arti bahasa bermakna doa atau pujian.
Salat menurut fuqaha diartikan sebagai ibadah yang terdiri dari perbuatan atau
gerakan dan perkataan tertentu, yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan
salam.[5]
A.
Taharah
Hai
orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan salat, Maka basuhlah
mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu
sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub Maka mandilah, dan jika kamu
sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau
menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, Maka bertayamumlah dengan
tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah
tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan
menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.[6]
...Dan jika kamu sakit atau
sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah
menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, Maka bertayamumlah kamu
dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah
Maha Pema'af lagi Maha Pengampun.[7]
1.
Cara
Berwudu
Apabila kamu hendak berwudhu, maka
bacalah: “Bismillahirrahmanirrahim”[8],
dengan mengikhlaskan niatnya karena Tuhan Allah[9]
dan basuhlah telapak tanganmu tiga kali[10]
gosoklah gigimu dengan kayu arok atau sesamanya[11]. Kemudian
berkumurlah dan isaplah air dari telapak tangan sebelah dan berkumurlah; kamu kerjakan
yang demikian tiga kali[12] sempurnakanlah
dalam berkumur dan menghirup air itu, apabila kamu sedang tidak berpuasa[13];
kemudian basuhlah mukamu tiga kali[14]
dengan mengusap dua sudut matamu[15]
dan lebihkanlah membasuhnya[16]
dengan digosok[17]
dan selai-selailah jenggotmu[18];
kemudian basuhlah (kedua) tanganmu dan kedua sikumu dengan digosok tiga kali[19]
dan selai-selailah jari-jarimu[20],
dengan melebihkan membasuh kedua tanganmu[21]
mulai tangan kanan[22];
lalu usaplah ubunmu dan atas surbanmu[23];
dengan menjalankan kedua telapak tangan[24] dari
ujung muka kepala sehingga tengkuk dan di kembalikan lagi pada permulaan[25];
kemudian usaplah kedua telingamu sebelah luarnya dengan dua ibu jari dan sebelah
dalamnya dengan telunjuk[26]
lalu basuhlah kedua kakimu beserta kedua mata kaki dengan digosok tiga kali[27] dan
selai-selailah jari-jari kakimu dengan melebihkan membasuh keduanya[28]
dan mulailah dengan yang kanan[29]
dan sempurnakanlah membasuh kedua kaki itu[30]
kemudian ucapkan “Asyhadu allaila- ha-ilallah wahdahu-la-syari-kalah, wa
asyhadu anna Muhammadan ‘abduhuwa rasu-luh”[31].
2.
Tata Cara Mandi
Apabila kamu berjinabah karena
mengeluarkan mani[32]
atau bertemunya kedua persunatan[33]
atau kamu hendak menghadiri salat jumat[34]
atau kamu baru selesai dari Haid[35]
atau Nifas[36],
maka hendaklah kamu mandi dan mulailah dengan membasuh (mencuci) kedua tanganmu[37]
dengan ikhlas niatmu karena Allah[38]
lalu basuhlah (cucilah) kemaluanmu dengan tangan kirimu dan gosoklah tanganmu
dengan tanah atau apa yang menjadi gantinya[39]
lalu berwudulah seperti yang di atas; kemudian ambillah air dan masukkanlah
jari-jarimu pada pangkal rambut dengan sedikit wangi-wangian[40],
sesudah dilepaskan rambutnya[41].
Dan mulailah dengan yang kanan[42],
lalu tuangkan air ke atas kepalamu tiga kali, lalu ratakanlah atas badanmu
semuanya[43],
serta digosok[44],
kemudian basuhlah (cucilah) kedua kakimu dengan mendahulukan yang kanan dari
pada yang kiri[45],
dan jangan berlebih-lebihan dalam menggunakan air[46].
3.
Tata Cara Tayamum
Dan jika kamu berhalangan menggunakan
air atau sakit atau khawatir mendapat madlarat[47],
atau kamu di dalam bepergian, kemudian tidak mendapat air, maka tayamumlah
dengan debu yang baik, untuk mengganti wudu dan mandi[48],
maka letakkanlah kedua tanganmu ke tanah kemudian tiuplah keduanya[49]
dengan ikhlas niatmu karena Allah[50]
dan bacalah: Bismillahirrahmanirrahim[51]
kemudian usaplah kedua tanganmu pada mukamu dan kedua telapak tanganmu[52].
Dan apabila kamu dapat menggunakan air
maka bersucilah dengan air itu[53].
4.
Tata Cara Istinja
Hendakalah ber-istinja’ dengan air[54]
atau dengan tiga batu[55]
atau
lainnya, yang bukan tulang atau kotoran[56].
B.
Tata Cara Salat
Maka
apabila kamu telah menyelesaikan salat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di
waktu duduk dan di waktu berbaring. kemudian apabila kamu telah merasa aman,
Maka dirikanlah salat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya salat itu adalah
fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.[57]
Dan
berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu
bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu
(masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu
menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu
telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya.
Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat
petunjuk.[58]
عَنْ طَلْحَةَ
بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : جَاءَ رَجُلٌ اِلَى رَسُوْلُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ اَهْلِ نَجْدٍ ثَائِرَ الرَّأْسِ
نَسْمَعُ دَوِيَّ صَوْتِهِ وَلَا نَفْقَهُ مَا يَقُوْلُ حًتَّى دَنَا فَاِذَا هُوَ
يَسْأَلُ عَنِ الاِسْلَامِ . فَقَالَ رًسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ : خَمْسٌ صَلَوَاتٍ فِيْ الْيَوْمِ
وَالَّيْلَةِ . فَقَالَ : هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهَا ؟ قَالَ : لَا , اِلَّا اَنْتَطَوَّعَ
Hadis dari Thalhah bin 'Ubaidillah
bahwa ada seorang laki-laki penduduk Najed yang kusut rambut kepalanya, datang
kepada Rasulullah saw yang kami dengar dengungan suaranya, tetapi tidak
memahami apa yang dikatakannya sehingga setelah dekat rupanya ia menanyakan
tentang Islam; maka sabda Rasulullah saw: “Salat lima waktu dalam sehari
semalam”. Kata orang tadi: “Adakah lagi kewajibanku selain itu?” Jawab Nabi saw:
“Tidak, kecuali bila kamu hendak ber-tathawwu' (salat sunnat)”.[59]
عَنْ
مَالِكِ بْنُ الْحِوَيْرِثْ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهِ عَلَيْهِ وَسَلَّم : صَلُّوْا كَمَا
رَأَيْتُمُوْنِى اُصَلِّيْ
Hadis dari Malik bin Huwairits ra bahwa
Rasulullah saw bersabda: “Salatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku melakukan salat”.[60]
Bila kamu hendak menjalankan salat,
maka bacalah: “Allahu Akbar”[61]
dengan ikhlas niatmu karena Allah[62]
seraya mengangkat kedua belah tanganmu sejurus bahumu, menyejajarkan ibu jarimu
pada daun telingamu[63].
Lalu letakkanlah tangan kananmu pada
punggung telapak tangan kirimu di atas dadamu[64]
lalu bacalah doa iftitah: "Alla-humma ba-'id baini-wa baina
khatha-yaya kama-ba-'adta bainal masyriqi wal maghrib. Alla-humma naqqini-
minal khatha-ya- kama-yunaqqats tsaubul
abyadlu minad danas. Alla-hummaghsil khatha-ya-ya bilma-i wats tsalji wal barad."[65] atau "Wajjahtu wajhiya lilladzifatharas sama-wa-ti wal ardla hani-fan musliman wa ma- ana
minal musyriki-n. Inna shala-ti wa nusuki- wa mahya-ya wa mama-ti lillahi-hi rabbil
'a-lami-n. Lasyari-kalahu- wa bidza-lika umirtu wa ana awwalul muslimi-n (wa
ana minal muslimi-n." Alla-humma antal maliku la-ila-ha illa-anta, anta
rabbi- wa ana 'abduka, dlalamtu nafsi- wa'taraftu bidzambi- fagh firli- dzunu-bi-
jami-'an. Layagh firudz dzunu-ba illa- anta, wah dini-liahsanil akhla-qi la-yahdil
liahsanihailla-anta. Washrif 'anni- sayyiaha- la-yashrifu 'anni- sayyiaha-
illa- anta. Labbaika wa sa'daika wal khairu kulluhu- fi-yadaika, wasysyarru
laisa ilaika. Ana bika wa ilaika. Taba-rakta wa ta'a-laita astaghfiruka wa
atu-bu ilaika."[66]
Lalu berdoa mohon perlindungan dengan
membaca: “A'u-dzu billa-hi minasy syaitha-nir raji-m”[67]
dan membaca: “Bismilla-hirrahmani-nirrahi-m”[68]
lalu bacalah surat al-Fatihah[69]
dan berdoalah sesudah itu: “a-mi-n"[70]
Kemudian bacalah salah satu surat daripada al-Quran[71]
dengan diperhatikan artinya dan dengan perlahan-lahan[72].
Kemudian angkatlah kedua belah tanganmu
seperti dalam takbir permulaan[73]
lalu rukuklah[74]
dengan bertakbir[75]
seraya melempangkan (meratakan) punggungmu dengan lehermu, memegang kedua
lututmu dengan dua belah tanganmu[76],
sementara itu berdoa: "Subha-nakalla-humma rabbana- wa
bihamdikalla-hummaghfirli." [77],
atau berdoalah dengan salah satu doa dari Nabi saw.[78]
Kemudian angkatlah kepala untuk itidal[79]
dengan mengangkat kedua belah tanganmu seperti dalam takbiratul ihram dan
berdoalah: "Sami'allahu liman hamidah" dan bila sudah
lurus berdiri berdoalah: "Rabbana- wa lakalhamd"[80].
Lalu sujudlah[81]
dengan bertakbir[82]
letakkanlah kedua lututmu dan jari kakimu di atas tanah, lalu kedua tanganmu,
kemudian dahi dan hidungmu[83]
dengan menghadapkan ujung jari kakimu ke arah Kiblat serta merenggangkan
tanganmu daripada kedua lambungmu dengan mengangkat sikumu[84].
Dalam bersujud itu hendaklah kamu berdoa: "Subha-nakalla-humma
rabbana- wa bihamdikalla-hummaghfirli"[85]
atau berdoalah dengan salah satu doa daripada Nabi saw.[86] Lalu angkatlah
kepalamu dengan bertakbir dan duduklah tenang dengan berdoa: "Alla-hum
maghfirli- warhamni- wajburni- wahdini- warzuqni-"[87]. Lalu sujudlah kedua kalinya dengan bertakbir dan
membaca "tasbih" seperti dalam sujud yang pertama. Kemudian angkatlah kepalamu dengan bertakbir[88] dan duduklah sebentar, lalu berdirilah untuk rakaat
yang kedua dengan menekankan (tangan) pada tanah[89].
Dan kerjakanlah dalam rakaat yang kedua ini sebagaimana dalam rakaat yang pertama, hanya tidak membaca doa iftitah[90].
Setelah selesai dari sujud kedua kalinya, maka duduklah di atas kaki kirimu dan tumpukkan kaki
kananmu serta letakkanlah kedua tanganmu di
atas kedua lututmu. Julurkanlah jari-jari tangan kirimu, sedang tangan kananmu menggenggam jari
kelingking, jari manis dan jari tengah serta mengacungkan jari telunjukmu dan sentuhkan ibu
jari pada jari tengah[91].
Duduk ini bukan dalam rakaat akhir. Adapun duduk dalam rakaat akhir maka caranya memajukan kaki kiri, sedang
kaki kanan bertumpu dan dudukmu bertumpukan pantatmu[92]. Dan bacalah tasyahud begini "attahiyya-tu lilla-h washshalawa-tu waththayyiba-t, assala-mu
'alaika ayyuhan Nabiyyu wa rahmatulla-hi wa baraka-tuh. Assala-mu 'alaina wa
'ala- 'iba-dilla-hish sha-lihin. Asyahadu alla- ila-ha illalla-h
wa asyhadu anna Muhammadan 'abduhu- wa rasuluh[93].
Lalu bacalah salawat pada Nabi saw:
"Alla-humma shalli 'ala-Muhammad wa 'ala- a-li Muhammad, kama-
shallaita 'ala- Ibrahi-m wa a-li Ibrahim, wa ba-rik 'ala- Muhammad wa a-li
Muhammad, kama- ba-rakta 'ala- Ibrahim wa a-li Ibra-him, innaka hami-dum
maji-d”.[94]
Kemudian berdoalah kepada Tuhanmu, sekehendak hatimu yang lebih pendek daripada
doa dalam tasyahhud akhir[95].
Kemudian berdirilah untuk rakaat yang
ketiga kalau salatmu itu tiga atau empat rakaat, dengan bertakbir mengangkat
tanganmu[96]
dan kerjakanlah dalam dua rakaat yang akhir atau yang ketiga, seperti dalam dua
rakaat yang pertama, hanya kamu cukup membaca Fatihah saja[97]. Dan sesudah rakaat yang akhir, bacalah tasyahhud serta salawat kepada Nabi
saw, lalu hendaklah berdoa mohon perlindungan dengan membaca:
"Alla-humma inni- a'udzu
bika min 'adza-bi jahannama wa min 'adza-bil qabri wa min fitnatil mahya- wal
mama-ti wa min syarri fitnatil masi-hid dajja-l [98].
Kemudian bersalamlah dengan berpaling ke kanan dan ke kiri, yang pertama sampai
terlihat pipi kananmu dan yang kedua sampai terlihat pipi kirimu oleh orang
yang dibelakangmu[99]
sambil membaca: "Assalamu'alaikum wa rahmatulla-hi wa baraka-tuh."[100]
Jika salatmu dua rakaat, maka letak doa
istiadzah (a'udzubilla-h) setelah nembaca "salawat kepada
Nabi", sesudah rakaat yang kedua, lalu bersalamlah sebagai yang tersebut[101].
PERHATIAN: Tidak ada perbedaan antara pria dan wanita dalam cara melakukan salat sebagai yang tersebut di atas[102].
Lampiran
1
Ibadah
Praktis
(Bacaan dan Gerakan
sesuai Tuntunan Putusan Tarjih Muhammadiyah)
Tata
Cara Wudu
|
||
1
|
Membaca basmalah
|
|
2
|
Membersihkan kedua telapak tangan (3 kali)
|
|
3
|
Berkumur dan menghirup air ke dalam hidung serta
menyemburkannya (3 kali)
|
|
4
|
Membasuh wajah secara merata (3 kali)
|
|
5
|
Membasuh tangan sampai siku (masing-masing 3 kali)
|
|
6
|
Mengusap rambut dengan air ke seluruh kepala dan membasuh daun telinga (1 kali)
|
|
7
|
Membasuh kaki sampai mata kaki (3 kali)
|
|
8
|
Membaca doa setelah wudu
|
|
Tata
CaraMandi
|
||
1
|
Membaca basmalah
|
|
2
|
Membasuh dan menghilangkan kotoran yang menempel
|
|
3
|
Berwudu seperti akan salat
|
|
4
|
Menyelai-nyelai
rambut dengan air (3 kali)
|
|
5
|
Menuangkan air pada sisi kepala dimulai dari kanan 3 kali,
kemudian kiri 3 kali, setelahnya siram ke seluruh tubuh
|
|
6
|
Membasuh kedua kaki, mendahulukan yang kanan
|
|
7
|
Membaca doa setelah mandi
|
|
Tata
Cara Tayamum
|
||
1
|
Membaca basmalah
|
|
2
|
Meletakan kedua telapak tangan pada debu suci
|
|
3
|
Menyapukan telapak tangan pada wajah sampai wajah,
kemudian punggung telapak tangan
|
|
4
|
Membaca doa setelah tayamum
|
|
Tata
Cara Salat
|
||
1
|
Berdiri
Tegak
|
|
2
|
Tidak
ada lafadz niat
|
|
3
|
Takbiratul
Ihram sejajar telinga atau sejurus bahu
|
|
4
|
Bersedekap
dengan cara meletakkan tangan kanan di atas punggung
tangan kiri, diletakkan di atas dada (ulu hati)
|
|
5
|
Doa
Iftitah
|
|
6
|
Membaca
Ta’awudz
|
|
7
|
Al-Fatihah
(Basmalah Di-sirr-kan, bisa juga di-jahr-kan)
|
|
8
|
Ruku'
(Membungkukkan separuh badan, Punggung
dan leher membentuk garis lurus, Kedua telapak tangan
direnggangkan diletakan pada lutut)
|
|
9
|
Doa
Ruku'
|
|
10
|
Tegak berdiri I'tidal seperti saat akan takbiratul ihram
|
|
11
|
Doa
I'tidal
|
|
12
|
Sujud
mendahulukan kaki dari tangan
|
|
13
|
Sujud
diatas tujuh tulang
|
|
14
|
Sujud
kaki rapat juga boleh tidak dirapatkan
|
|
15
|
Meregangkan kedua tangan dari lambung sedikit lebar
dan siku sedikit terangkat
|
|
16
|
Membaca
Doa Sujud
|
|
17
|
Duduk
Diantara 2 Sujud dengan duduk iftirasyi
|
|
18
|
Pada
saat bangkit dari sujud’ duduk iftirasy sejenak
|
|
19
|
Bangkit
dari rakaat 1 tidak mengangkat tangan seperti takbiratul ihram
|
|
20
|
Duduk iftirasyi
pada saat tasyahud awal
|
|
21
|
Tangan
langsung diacungkan saat membaca tasyahud
|
|
22
|
Doa
Tasyahud
|
|
23
|
Salawat
|
|
24
|
Doa
Sesudah Tasyahud Awal
|
|
25
|
Bangkit
dari rakaat kedua mengangkat tangan seperti takbiratul ihram
|
|
26
|
Duduk
tawaruk pada rakaat terakhir
|
|
27
|
Doa
Sesudah Tasyahud Akhir
|
|
28
|
Menarik jari telunjuk tangan kanan
|
|
29
|
Mengucapkan salam seraya menoleh ke sebelah kanan
|
|
30
|
Mengucapkan salam seraya menoleh ke sebelah kiri
|
|
Lampiran 2
Arti
Ucapan, Doa dan Bacaan Salat
Takbir
|
|
اَللَّهُ
اَكْبَرُ
|
|
Alla-hu Akbar
|
Allah Maha Agung
|
Doa Iftitah
|
|
اَللَّهُمَّ
بَاعِدْ بَيْنِ وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ
وَالْمَغْرِبْ, اَللَّهُمَّ نَقِّنِيْ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى
الثَّوْبُ الْابْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ, اَللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَايَ
بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدْ
|
|
Alla-humma ba-'id baini- wa baina khatha-ya-ya kama-ba-'adta bainal masyriqi wal maghrib. Alla-humma naqqini- minal khatha-ya- kama-yunaqqats tsaubul abyadlu minad danas. Alla-hummaghsil khatha-ya-ya
bilma-i wats tsalji wal barad
|
Ya Allah, jauhkanlah antaraku dan antara kesalahanku, sebagaimana Kau telah jauhkan antara Timur dan Barat. Ya Allah,
bersihkanlah aku dari kesalahanku sebagaimana dibersihkannya pakaian putih dari kotoran. Ya
Allah, cucilah
segala kesalahanku dengan air, salju dan air hujan beku
|
وَجَّحْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَ السَّمَاوَاتِ
وَالْاَرْضَ حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا اَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ, اِنَّ
صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلَّهِ رَبِّ الْعَلَمِيْنَ, لَا
شَرِيْكَ لَهُ وَبِذَالِكَ اُمِرْتُ وَاَنَا اَوَّلُ الْمُسْلِمِيْنَ (مِنَ
الْمُسْلِمِيْنَ), اَللَّهَمَّ اَنْتَ الْمَلِكَ لَا اِلَهَ اِلَّا اَنْتَ,
اَنْتَ رَبِّيْ وَ اَنَا عَبْدُكَ ظَلَمْتُ نَفْسِى وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِى,
فَاغْفِرْلِي ذُنُوْبِي جَمِيعًا, لَايَغْفِرُ الذُّنُوبَ اِلَّا اَنْتَ
وَاهْدِنِي لِاَحْسَنِ الْاَخْلَاقِ لَا يَهْدِيْ لِاَحْسَنِهِا اِلَّا اَنْتَ,
وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا لَا يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا اِلَّا اَنْتَ,
لَبَّيْكَ وَسَعْدَيِكَ وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِي يَدَيْكَ, وَالشَّرُّ لَيْسَ
اِلَيْكَ اَنَا بِكَ وَاِلَيْكَ, تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ اَسْتَغْفِرُكَ
وَاَتُوْبُ اِلَيْكَ
|
|
Wajjahtu wajhiya lilladzi- fatharas sama-wa-ti wal
ardla hani-fan musliman wa ma-ana minal musyriki-n. Inna shala-ti wa nusuki- wa
mahya-ya wa mama-ti lillahi-hi rabbil 'a-lami-n. La-syari-kalahu- wa
bidza-lika umirtu wa ana awwalul muslimi-n (wa ana minal muslimi-n) Alla-humma antal maliku la-ila-ha illa-anta, anta rabbi- wa ana 'abduka, dlalamtu nafsi-
wa'taraftu bidzambi- fagh firli- dzunubi-jami-'an. La- yagh firudz dzunu-ba
illa- anta, wah dini-liahsanil akhla-qi layahdil liahsaniha-illa- anta. Washrif 'anni- sayyiaha-
la-yashrifu 'anni- sayyiahailla-anta. Labbaika wa sa'daika wal khairu
kulluhu- fi-yadaika, wasysyarru laisa-ilaika. Ana bika wa ilaika. Taba-rakta wa ta'a-laita
astaghfiruka wa atu-bu ilaika.
|
Aku hadapkan wajahku, kehadapan yang Maha Menjadikan
semua langit dan
bumi, dengan tulus hati dan menyerah diri dan aku bukanlah golongan orang-orang musyrik. Sungguh salatku, ibadahku,
hidup dan matiku adalah kepunyaan
Tuhan yang menguasai semua alam, yag tidak bersyarikat dan bandingannya, maka dengan demikian aku diperintah
dan aku menjadi orang yang mula-mula berserah diri (daripada orang-orang berserah diri). Ya
Allah, Engkaulah
raja, yang tidak ada yang disembah melainkan Engkau. Engkaulah Tuhanku dan aku inilah hambaMu, aku telah berbuat
aniaya pada diriku dan mengakui dosaku. Maka ampunilah dosa-dosaku semua, yang mana tidak ada yang mengampuni dosa, selain Engkau. Dan berilah
petunjukMu padaku, budi pekerti yang bagus, yang mana tidak ada yang dapat memberikan petunjuk
kepada bagusnya budi
pekerti selain Engkau. Dan jauhkan daripadaku kelakuan yang jahat, yang mana tidak ada yang dapat menjauhkannya
kecuali Engkau. Aku junjung dan aku turutlah perintah Engkau; sedang semua kebaikan itu
ada pada tangan
Engkau, dan kejahatan itu tidak kepada Engkau. Aku dengan Engkau dan kembali kepada Engkau. Engkaulah yang Maha
Memberkati dan Maha Mulia, aku mohon ampun dan bertobat pada Engkau.
|
Taawudz
|
|
اَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الِشَّيْطَانِ
الرَّجِيْمِ
|
|
A'u-dzu billa-hi minasy syaitha-nir raji-m
|
Aku berlindung kepada Allah dari syetan yang terkutuk
|
Fatihah
|
|
بِسْمِ
اللَّهِ الرَّحْمَنَ الرَّحِيْمِ
|
|
Bismilla-hirrahmani-nirrahi-m
|
Dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Pengasih
|
الْحَمْدُ
لِلَّهِ رَبِّ الْعَلَمِيْنَ, الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ, مَالِكِ يَوْمِ
الدِّيْنِ, اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ, اِهْدِنَا الصِّرَاطَ
الْمُسْتَقِيْمَ, صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ
عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّيْن
|
|
Alhamdu
lilla-hi Rabbil ‘a-lami-n. Arrahma-nir rahi-m. Ma-liki yau middi-n. Iyya-ka
na’budu wa iyya- ka nasta ‘i-n. Ihdinash shirathal mustaqi-mi, shira-thal
ladzina an’amta ‘alaihim ghairil magh dlubi ‘alaihim wa ladldla-lli-n
|
Segala
puji bagi Allah yang pengasuh semua alam. Yang Maha Pemurah, Yang Maha
Pengasih, Yang mengadili pada hari Kiamat. Hanya kepada Engkau yang aku sembah
dan hanya kepada Engkau yang aku mintai pertolongan. Tunjukkanlah aku kepada
jalan yang lurus. Jalannya orang-orang yang Engkau beri kenikmatan, yang
tidak dimurkai dan tidak sama sesat
|
Ta'min
|
|
اَمِيْنَ
|
|
A-mi-n
|
Kabulkanlah permohonanku
|
Tasbih dalam rukuk
|
|
سُبْحَانَكَ
اللَّهُمَّ رَبَّناَ وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرِلِيْ
|
|
Subha-nakalla-humma rabbana- wa bihamdikalla-hummagh firli
|
Mahasuci Engkau ya Allah, dan dengan memuji kepada Engkau,
Ya Allah aku memohon ampun
|
سُبْحَانَ
رَبِّيَ الْعَظِيْمِ
|
|
Subha-na rabbiyal adhim
|
Mahasuci Tuhanku yang Mahaagung
|
سُبُّوْحٌ
قُدُّوسٌ رَبُّ الْمَلَائِكَةِ وَالرُّوْحُ
|
|
Subbu-hun quddu-sun rabbul Mala-ikati war ru-h
|
Mahasuci, Makakudus, Tuhannya sekalian malaikat dan ruh
|
Tasbih dalam
Itidal
|
|
سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ
رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ
|
|
Sami’alla-hu liman hamidah, rabbana- wa lakalhamd
|
Semoga Tuhan Allah mendengar orang yang memujinya. Ya
Tuhanku! Dan segala puji itu bagi Engkau
|
اَللَّهُمَّ رَبَّنَّا لَكَ الْحَمْدُ
مِلْءُ السَّمَاوَاتِ وَمِلْءَ الْاَرْضِ وَمِلْءَ مَاشِئْتَ مِنْ شَيءٍ بَعْدُ
|
|
Alla-humma rabbana-lakalham du mil as sama-wa-ti wa mil al
ardli wa mil a ma-syi’ta min syai in ba’du
|
(setelah bacaan Sami’allahu liman hamidah) Ya Allah,
Tuhaku, bagi kau segala puji, sepenuh semua langit, sepenuh bumi, dan sepenuh
semua apa yang Kau sukai dan sesuatu apapun
|
رَبَّنَّا وَلَكَ الْحِمْدُ حَمْدًا
كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ
|
|
Rabbana- wa lakalhamdu ham dan katsi-ran thayyiban
mubara-kan fi-hi
|
Ya Tuhanku, bagi Kaulah segala puji pujian yang banyak,
baik dan memberkati
|
Tasbih dalam
sujud
|
|
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّناَ
وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرِلِيْ
|
|
Subha-nakalla-humma rabbana- wa bihamdikalla-hummagh firli
|
Mahasuci Engkau ya Allah, dan dengan memuji kepada Engkau,
Ya Allah aku memohon ampun
|
سُبْحَانَ
رَبِّيَ الْاَعْلَا
|
|
Subha-na Rabbiyal a'la
|
Mahasuci Tuhanku yang Mahatinggi
|
سُبُّوْحٌ
قُدُّوسٌ رَبُّ الْمَلَائِكَةِ وَالرُّوْحُ
|
|
Subbu-hun quddu-sun rabbul Mala-ikati war ru-h
|
Mahasuci, Makakudus, Tuhannya sekalian malaikat dan ruh
|
Doa duduk
antara dua sujud
|
|
للَّهُمَّ اغْفِرْلِي وَارْحَمْنِي
وَاجْبُرْنِى وَاهْدِنِى وَارْزُقْنِىاَ
|
|
Alla-hum maghfirli- warhamni- wajburni- wahdini- warzuqni
|
Ya Allah ampunilah aku, belaskasihanilah aku, cukupilah
aku, tunjukilah aku, dan berilah rezeki kepadaku
|
Bacaan
Tasyahud
|
|
اَلتَّحِيَّاتُ
لِلَّهِ وَالصَلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ, اَسَّلَامُ عَلَيْكَ اَيُّهَا
النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ, اَالسَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى
عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِيْنَ, اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا اللَّهُ
وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
|
|
Attahiyya-tu lilla-h washshalawa-tu waththayyiba-t,
assala-mu 'alaika ayyuhan Nabiyyu wa rahmatulla-hi wa baraka-tuh. Assala-mu 'alaina wa 'ala- 'iba-dilla-hish
sha-lihin. Asyahadu alla- ila-ha illalla-h wa asyhadu anna
Muhammadan 'abduhu- wa rasuluh
|
Segala kehormatan, kebahagiaan dan kebagusan adalah
kepunyaan Allah, semoga keselamatan bagi engkau Ya Nabi Muhammad, beserta
rahmat dan kebahagiaan Allah. Mudah-mudahan keselamatan juga bagi kita
sekalian dan hamba-hamba Allah yang baik-baik. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan
melainkan Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu hamba Allah dan
utusan-Nya
|
Doa Salawat
kepada Nabi
|
|
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى
اِبْرَاهِيْمَ وَاَلِ اِبْراَهِيمَ, وَباَرِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاَلِ مُحَمَّدٍ
كَمَا باَرَكْتَ عَلَى اِبْراَهِيْمَ وَاَلِ اِبْرَاهِيْمَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ
|
|
Alla-humma shalli 'ala-Muhammad wa 'ala- a-li Muhammad,
kama- shallaita 'ala- Ibrahi-m wa a-li Ibrahim, wa ba-rik 'ala- Muhammad wa
a-li Muhammad, kama- ba-rakta 'ala- Ibrahim wa a-li Ibra-him, innaka hami-dum
maji-d
|
Ya Allah, limpahkanlah kemurahan kepada Muhammad dan
kepada keluarganya, sebagaimana Kau telah limpahkan kepada Ibrahim dan
keluarganya. Berkahilah Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Kau telah
berkahi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau yang Maha Terpuji dan
Mahamulia
|
Doa setelah
tasyahud awal
|
|
اَللَّهُمَّ اِنِّى ظَلَمْتُ نَفْسِى
ظُلْمًا كَثِيْرًا وَلَا يَغْفٍرُ الذُّنُوْبَ اِلَّا اَنْتَ فَاغْفِرْلِي
مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنِي اِنَّاكَ اَنْتَ الغَفُورُ الرَّحِيْمِ
|
|
Alla-humma inni- dhalamtu nafsi-dhulman katsi-ran, wa la
yaghfi rudzdzunu-ba illa- antafagfirli- maghfiratan min ‘indika warhamni-
innaka antal ghafu-rur rahi-m
|
Ya Allah aku sudah banyak menganiaya diriku, dan tiada
yang dapat mengampuni dosa, selain Engkau. Maka ampunilah aku dan kasihanilah
aku, sesungguhnya Engkaulah Maha Pengampun dan Maha Penyayang
|
Doa setelah
tasyahud akhir
|
|
اَللَّهُمَّ اِنِّي اَعُوذُبِكَ مِنْ
عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ القَبْرِ وَمِنْ فِتَنَةِ المَحْيَا
وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ
|
|
Alla-humma inni- a'udzu bika min 'adza-bi jahannama wa min
'adza-bil qabri wa min fitnatil mahya- wal mama-ti wa min syarri fitnatil
masi-hid dajja-l
|
Ya Allah aku berlindung kepada Engkau dari siksa jahanam
dan dari siksa kubur, begitu juga dari fitnah hidup dan mati, serta dari
jahatnya fitnah Dajjal (pengembara yang dusta)
|
Salam
|
|
اَسَّلَامُ
عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
|
|
Assalamu'alaikum wa rahmatulla-hi wa baraka-tuh
|
Berbahagialah kamu sekalian dengan rahmat dan berkah Allah
|
اَسَّلَامُ
عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
|
|
Assalamu'alaikum wa rahmatulla-hi wa baraka-tuh
|
Berbahagialah kamu sekalian dengan rahmat dan berkah Allah
|
[1]
Materi Disalin dari Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah. Disampaikan pada
Kegiatan Pra-DAM Angkatan XXV Se-Indonesia Timur PC IMM Kota Kendari yang
diselenggarakan di RS PKU Muhammadiyah Kendari, 15—16 April 2017
[2]
Mahasiswa Pendidigan Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Kendari; Ketua Korps
Instruktur Cabang IMM Kota Kendari Periode 2016—2017
[3]
Pimpinan Pusat Muhammdiyah, Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah
(Yogyakarta: Suara Muhammadiyah), h. 278—279
[4]
Musthafa Kamal Pasha, Fiqih Islam sesuai dengan Putusan Majelis Tarjih (Yogyakarta:
Citra Karsa Mandiri), h. 9
[5]
Ibid, h. 36
[6]
QS. Al-Maidah (5) : 6
[7]
QS. An-Nisa (4) : 43
[8]
Karena hadis dan An-Nasai dengan sanad yang baik: “Wudulah kamu dengan membaca “Bismillah!”. Ibnu Hajar menyatakan dalam kitab
Takhrij Ahadis al-Adzkar, bahwa hadis ini hasan sahih, Imam Nawawi setelah membawakan hadis dari Anas seluruhnya, menyatakan bahwa hadis itu
sanadnya
baik. Dan menurut hadis: “segala perkara yang berguna,
yang tidak di mulai
dengan Bismillahirrahmanirrahim itu tidak
sempurna” (Diriwayatkan oleh Abdul Kadir Arruhawi dari Abu Hurairah).
[9]
Karena hadis: “Sesungguhnya pekerjaan itu disertai dengan niatnya”.
[10] Karena hadis dari Humran: “Sungguh Usman telah minta air
Wudu, maka dicucinya kedua telapak tangannya tiga kali, lalu berkumur dan menghirup
(menghirup) dan menyemburkan, kemudian membasuhnya tiga kali, lalu membasuh
tangannya yang kanan sampai sikunya tiga kali dan yang kiri seperti demikian
itu pula, kemudian mengusap kepalanya lalu membasuh kakinya yang kanan sampai
kepada dua mata kaki tiga kali dan yang kiri seperti itu pula. Lalu berkata:
“Aku melihat Rasulullah saw wudu seperti wudu ini” (Diriwayatkan oleh
Al-Bukhari dan Muslim).
[11]
Karena hadis: “Kalau aku
tidak khawatir akan menyusahkan ummatku, niscaya aku perintahkan kepada mereka
bersiwak (menggosok gigi) pada tiap wudu”. (Diriwayatkan oleh Malik, Ahmad dan
An-Nasai serta disahihkannya). Dan karena hadis yang diriwayatkan oleh
Al-Bukhari dalam tarikhnya dan Thabrani dari Abu Khairah Shubahi ra: “Dahulu
saya termasuk utusan Abdul Qais yang menghadap Rasulullah, maka Rasulullah
menyuruh mengambilkan kayu
arok, lalu
bersabda: “Bersiwaklah dengan ini””.
[12]
Hadis
Humran pada catatan
kaki nomor 10. Menurut hadis dari Ali ra dalam
sifatnya wudu: “Kemudian berkumur dan menyemburkannya tiga kali” (Diriwayatkan
oleh Abu Dawud dan An-Nasai). Karena hadis dari Abdullah bin Zaid dalam sifat wudu:
“Kemudian memasukkan tangannya, maka berkumur dan menghirup air dari telapak
tangan sebelah: beliau mengerjakan demikian tiga kali” (Diriwayatkan oleh
Al-Bukhari dan Muslim). Dan menurut hadis Abu Hurairah: “Rasulullah memerintahkan berkumur dan menghirup air” (Diriwayatkan oleh Ad-Daruqutni).
[13]
Karena hadis Laqith bin
Shaburah: “Sempurnakanlah wudu, selai-selailah diantara jari-jari dan
sempurnakanlah dalam menghirup air, kecuali kamu sedang berpuasa” (Diriwayatkan
oleh Imam Empat: Abu Dawud, An-Nasai, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, dan
disahihkan oleh Ibnu Khuzaimah). Dan dalam riwayat Daulabi, yang disahihkan
oleh Ibnu Qaththan dalam isnadnya: “Apabila kamu wudu, maka sempurnakanlah
dalam berkumur dan menghirup air, kecuali kalau kamu berpuasa”.
[14]
Karena ayat yang tersebut
dalam pendahuluan: basuhlah (cucilah) mukamu dan hadis Humran tersebut pada catatan kaki nomor
10: Kemudian membasuh mukanya tiga kali.
[15] Menurut hadis
Abu Dawud dengan isnad yang baik, dari Abi Umamah: “Rasulullah saw mengusap dua sudut mata dalam Wudu”.
[16]
Menurut hadis Abu Hurairah
pada riwayat Muslim, bahwa Rasulullah saw bersabda: “Kamu sekalian bersinar:
muka, kaki dan tanganmu di hari kemudian, sebab menyempurnakan wudu, maka siapa
yang mampu diantaramu supaya melebihkan sinarnya”.
[17]
Karena hadis Abdullah bin
Zaid bin 'Ashim, bahwa Rasulullah saw wudu, maka beliau mengerjakan demikian,
yakni “menggosok” (Diriwayatkan oleh Ahmad).
[18]
Karena, hadis Usman bin
Affan, bahwa Rasulullah saw menyela-selai janggutnya dalam Wudu (Diriwayatkan
oleh At-Tirmidzi dan disahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, Ad-Daruqutni dan Hakim).
[19]
Karena ayat dalam pendahuluan (Surat Al-Maidah (5) ayat 6: Dan tanganmu sampai ke siku. Dan
hadis Humran pada catatan
kaki 10: Lalu
membasuh
tangannya yang kanan sampai sikunya tiga kali, dan
yang kiri seperti itu
pula. Dan karena hadis dari Abdullah bin
Zaid bin 'Ashim tersebut pada
catatan kaki nomor 17 dan hadisnya juga bahwa Nabi saw diberi air dua pertiga mud (±1,5 liter)
lalu menggosok dua lengannya (Diriwayatkan oleh Ahmad dan disahihkan oleh
Ibnu Khuzaimah).
[20]
Karena hadis Laqith tersebut pada catatan kaki nomor 13: Sela-selailah di antara jari-jari.
[21] Menurut hadis
Abu Hurairah catatan
kaki nomor 16: supaya
melebihkan sinar
muka, tangan dan kaki.
[22]
Menurut yang diriwayatkan
oleh Aisyah, telah berkata: bahwa Rasulullah saw suka mendahulukan kanannya,
dalam memakai sandalnya, bersisirnya, bersucinya dan dalam segala halnya
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
[23] Karena ayat: dan usaplah kepalamu, dan hadis Humran tersebut pada catatan
kaki nomor 10: kemudian mengusap kepalanya.
[24]
Menurut hadis Mughirah
pada riwayat Muslim, Abu Dawud dan At-Tirmidzi, bahwa Nabi saw berwudu lalu
mengusap ubun-ubun dan atas surbannya.
[25]
Karena hadis Abdullah bin
Zaid bin 'Ashim dalam sifat Wudu, ia berkata: “Dan memulai dengan permulaan
kepalanya sehingga menjalankan kedua tangannya sampai pada tengkuknya, kemudian
mengembalikanya pada tempat memulainya” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan
Muslim).
[26]
Menurut hadis Abdullah bin
Umar tentang sifat wudu ia berkata: “Lalu, mengusap kepalanya dan memasukkan
kedua telunjuknya pada kedua telinganya dan mengusapkan kedua ibu jari pada
kedua telinga yang luar, serta kedua telunjuk mengusapkan pada kedua telinga
yang luar serta kedua telunjuk mengusapkan pada kedua telinga yang sebelah
dalam” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan An-Nasai, disahihkan oleh Ibnu
Khuzaimah).
[27] Karena melihat
ayat: dan cucilah kakimu sampai kedua mata kaki. Hadis Humran tersebut pada catatan kaki nomor 10, lalu mencuci kakinya yang kanan sampai kedua mata kaki tiga kali dan yang kiri seperti
demikian itu pula. Dan hadis Abdullah tersebut nomor 10: menggosok.
[28]
Menurut hadis Laqith bin Saburah tersebut
pada catatan kaki nomor 13 : sela-selailah di antara jari-jari. Hadis Abu
Hurairah pada catatan
kaki nomor 16 (supaya melebihkan sinar muka, tangan dan kakinya).
[29] Karena hadis
Aisyah ra tersebut pada catatan kaki nomor 22: Rasulullah saw suka mendahulukan kanannya.
[30]
Menurut Hadis Umar bin
Khathab ra: “Sungguh telah datang seorang kepada Nabi saw ia telah berwudu
tetapi telah meninggalkan sebagian kecil telapak kakinya selebar kuku. Maka
bersabda Rasulullah saw: kembali dan perbaikilah Wudumu.” Berkata Umar. “Orang
itu lalu kembali berwudu lalu salat” (Diriwayatkan oleh Muslim dan Abu Dawud).
Dan karena hadis: “Neraka Wail itu bagi orang yang tidak sempurna mencuci
tumitnya” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu
'Amer bin 'Ash).
[31] Menurut hadis dari Umar bin Khathab ra bahwa dia telah
berkata: Nabi saw tadi bersabda: “Tidak ada seorang dari kamu yang berwudu
dengan sempurna lalu mengucapkan: Asyhadu alla- ila-ha illa-Ilahu-wa-asyhadu
anna-Muhammadan 'abduhu-wa rasu-luh melainkan akan dibukakanlah baginya
pintu Syurga yang delapan, yang dapat dimasuki dari mana yang ia hendaki”
(Diriwayatkan oleh Muslim, Ahmad dan Abu Dawud).
[32]
Karena ayat yang tersebut dalam pendahuluan (Surat Al-Maidah (5) ayat 6): dan jika kamu junub, maka bersuci (mandi)-lah
kamu. Dan hadis: “Sesungguhnya air itu dari air”
(Diriwayatkan oleh Muslim dan Abu Sa'id Khudri). Dan hadis dari Ali ra berkata: Adalah aku seorang yang sering mengeluarkan madzi, maka aku bertanya kepada Nabi saw maka jawabnya: “Keluar madzi harus wudu, dan keluar mani harus mandi” (Diriwayatkan oleh Ahmad, lbnu Majah dan
At-Tirmidzi). Dan
hadis Ummi Salamah tersebut dalam Al-Bukhari dan Muslim, berkata: “Hai
Rasulullah saw, sesungguhnya Allah tidak malu dari suatu kebenaran, apakah
wajib mandi bagi wanita kalau bermimpi?”, beliau menjawab: “Ya, kalau melihat,
cairan”.
[33]
Menurut hadis: “Apabila seorang bersetubuh, maka wajiblah mandi”
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Muslim dan lain-lainnya dari Abu Hurairah).
[34]
Karena hadis Ibnu Umar
pada riwayat Muslim, Rasulullah saw bersabda: “Apabila salah seorang dari kamu
sekalian akan menghadiri salat Jumat, maka hendaklah mandi”.
[35]
Yang menunjukkan wajib
mandi dalam keduanya, ialah nas dari quran surat Al-Baqarah ayat 222: Dan janganlah kamu
mendekati Istri (yang
sedang haid) sehigga bersuci, dan apabila sudah bersuci (mandi)…. . Dan hadis dari Aisyah ra
bahwa Fathimah binti Abi Hubaisy istihadah, lalu menanyakan kepada Nabi saw,
lalu beliau bersabda: “Itulah darah penyakit, bukan haid maka kalau kamu berhaid
maka tinggalkanlah salat dan kalau sudah selesai maka mandilah, lalu salatlah”
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari).
[36]
Lihat catatan kaki nomor 34
[37] Karena hadis Aisyah ra bahwa Nabi saw itu apabila mandi
karena junub, ia mulai membasuh kedua tangannya, kemudian menuangkan dengan
kanannya pada kirinya, lalu mencuci kemaluannya, lalu berwudu sebagaimana
beliau wudu untuk salat; kemudian mengambil air dan memasukkan jari-jarinya di
pangkal rambutnya sehingga apabila ia merasa bahwa sudah merata, ia siramkan
air untuk kepalanya tiga tuangan, lalu meratakan seluruh badannya; kemudian
membasuh kedua kakinya (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).
[38]
Karena hadis: “Sesungguhnya semua pekerjaan itu dengan niat”, tercantum pada catatan
kaki nomor 9 di atas.
[39]
Karena menurut hadis Maimunah pada Al-Bukhari dan
Muslim: “Kemudian menuangkan air pada kemaluannya dan membasuhnya dengan tangan kirinya, lalu digosokkan tangannya pada tanah”. Dan
dalam riwayat lain: “maka ia mengusap tangannya dengan tanah”.
[40]
Lihat hadis Aisyah ra:
jika Nabi saw mandi karena janabah, beliau minta suatu wadah (seperti ember)
lalu mengambil air dengan telapak tangannya dan memulai dari sisi kepalanya
yang sebelah kanan lalu yang sebelah kiri, lalu mengambil air dengan kedua
telapak tangannya, maka ia membasuh kepalanya dengan keduanya (Diriwayatkan
oleh Al-Bukhari dan Muslim). Dan dari hadis Aisyah ra: Sesungguhnya Asma
menanyakan kepada Nabi saw tentang mandinya orang haid, maka bersabda saw:
“Ambillah seorang dari kamu sekalian air dan daun bidara, lalu mandilah dengan
sebaik-baiknya, lalu curahkan air lagi dari atas kepalanya dan gosok dengan
sebaik-baiknya, sehingga sampai ke dasar kepalanya, lalu curahkan air lagi dari
atasnya, kemudian ambil sepotong kapas (kain yang diberi minyak kesturi), lalu
usaplah dengan kain itu…….dan seterusnya” (Diriwayatkan oleh Muslim).
[41] Karena hadis Aisyah ra bahwa Nabi saw bersabda kepadanya
padahal dia sedang haid: “Lepaskanlah rambutmu dan mandilah” (Diriwayatkan oleh
Ibnu Majah dengan isnad atau rangkaian yang sahih).
[42] Lihat hadis
Aisyah ra tersebut seperti pada catatan kaki nomor 22 yang menerangkan tentang mendahulukan
yang kanan
[43] Menurut hadis
Aisyah ra seperti
tersebut pada catatan kaki nomor 40: menyiram untuk kepalanya tiga tuangan lalu menyiramkan air pada semua badannya.
[44] Karena arti
kata “tathahhur” dalam surat Al Maidah (5) ayat 6, menegaskan arti lebih dari pada mandi biasa, ialah dengan “gosokan”.
[45] Lihatlah hadis
Aisyah ra seperti
tersebut pada catatan kaki nomor 40: kemudian membasuh kedua kakinya, dan hadisnya tentang mendahulukan bagian kanan.
[46] Hadisnya tentang mendahulukan yang
kanan. Menurut hadis yang diriwayatkan oleh Anas: “Adalah Nabi saw mandi dengan satu sha’ [Satu Sha’ + 3 liter satu mud +3/4 litar] sampai lima mud dan Wudu dengan satu mud (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan
Muslim).
[47] Menurut hadis ‘Amr bin Ash bahwa sesungguhnya ia diutus ke
medan perang Dza-tussalasil, ia berkata: “Aku mimpi (mengeluarkan air mani)
pada suatu malam yang amat dingin, maka aku takut jika aku mandi akan
berbahaya, lalu aku tayamum; kemudian aku salat subuh bersama
sahabat-sahabatku. Tatkala kami datang pada Nabi saw mereka menceritakan hal
itu kepadanya; maka beliau bersabda padanya: “Hai 'Amr, engkau salat bersama
sahabat-sahabatmu sedang engkau junub?”. Maka aku menyahut: “Saya ingat akan
firman Tuhan Allah swt: Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah
itu maha belas kasih kepadamu, maka aku bertayamum dan lalu salat”. Maka
tertawalah Rasulullah saw, dan tidak bersabda apa-apa (Diriwayatkan oleh Ahmad,
Abu Dawud dan Daruqutni).
[48] Menurut ayat pada surat
Al Maidah (5) ayat 6 : sedang kamu
tidak
mendapatkan air, maka bertayamumlah kamu dengan debu
yang suci. Dan menurut hadis Jabir, ia berkata: “Kami sedang dalam bepergian (musafir) lalu seorang dari kami terkena batu sehingga melukai
kepalanya; kemudian ia bermimpi (mengeluarkan air mani), maka ia bertanya kepada
teman-temannya:
“Apakah kamu berpendapat bahwa aku mendapat kemudahan
bertayamum?”
Dijawab oleh mereka: “Kami tidak berpendapat bahwa kamu mendapat kemudahan, sedang kamu kuasa memakai air”. Maka mandilah ia lalu meninggal dunia. Tatkala kami datang kepada Nabi saw, kami
kabarkan yang demikian itu, maka Nabi saw bersabda: “Mereka membunuh dia, mereka dikutuk oleh Allah. Mengapa mereka tidak bertanya sedang mereka
tidak mengerti? Obat untuk kebodohan adalah bertanya. Sesungguhnya cukup baginya bertayamum” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ad-Daruqutni).
[49] Menurut hadis
'Ammar ra berkata: “Aku pernah berjanabat dan tidak mendapatkan air, kemudian aku berguling-guling di tanah dan salat.
Maka
aku ceritakan hal tersebut kepada Nabi saw, lalu
beliau bersabda: “Sesungguhnya cukup bagimu begini”. Lalu beliau meletakkan kedua tangannya di tanah dan meniupnya, kemudian mengusap muka dan
kedua telapak tangannya” (Diriwayatkan oleh
Al-Bukhari dan Muslim).
[50] Karena keumuman
hadis: Sesungguhya semua pekerjaan itu dengan niat
[51] Karena menurut
hadis: Segala perkara yang berguna…….yang tercantum pada catatan kaki nomor 8.
[52] Menurut hadis
‘Ammar tersebut pada
catatan kaki nomor 49: kemudian mengusap mukanya.
[53] Karena
mengingat arti ayat yang tersebut di dalam pendahuluan: sedang kamu tidak mendapat air.
[54] Karena menurut hadis Anas ra berkata: “Rasulullah saw masuk
ke jamban, maka aku bersama anak yang sebaya dengan aku membawa tempat air dan
tongkat, maka beliau beristinja dengan air” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan
Muslim).
[55] Karena hadis Aisyah ra bahwa Nabi saw bersabda: “Apabila
salah seorang dari kamu sekalian pergi ke jamban, maka bersucilah dengan tiga
batu, sesungguhnya tiga batu itu telah mencukupi” (Diriwayatkan oleh Ahmad,
An-Nasai dan lainnya). Dan karena hadis Salman, berkata: “Rasulullah saw
melarang kami menghadapkan kiblat waktu buang air (besar atau kecil) atau
istinja dengan batu yang kurang dari tiga butir, atau istinja dengan kotoran
atau dengan tulang” (Diriwayatkan oleh Muslim).
[56] Menurut hadis yang tersebut pada catatan kaki nomor 55; dan
mengingat hadis Salman, katanya: “Kami diperintah oleh Rasulullah saw agar
jangan mencukupkan batu yang kurang dari tiga buah, tidak termasuk kotoran dan
tulang” (Riwayat Ahmad dan Ibnu Majah dan Muslim). Sebab andaikan Nabi saw dalam sabdanya mengenai batu-batu itu, tidak dimaksudkan memasukkan
benda-benda lainnya pula yang sama dapat membersihkan,
maka dalam membedakan tulang dan kotoran tidak ada artinya.
[57]
QS. An-Nisa (4) : 103
[58]
QS. Ali-Imran (3) : 103
[59]
Diriwayatkan oleh
Al-Bukhari dan Muslim
[60]
Diriwayatkan oleh
Al-Bukhari
[61] Menurut hadis sahih yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan
at-At-Tirmidzi: “Kunci (pembuka) salat itu Wudu, permulaannya takbir dan
penghabisannya salam”. Dan hadis sahih dari Ibnu Majah yang disahihkan oleh
Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dari hadis Abi Humaid Sa'idi bahwa Rasulullah, jika
salat ia menghadap ke Kiblat dan mengangkat kedua belah tangannya dengan
membaca “Allahu Akbar”. Dan menurut
hadis:
“Bila kamu menjalankan salat, takbirlah …dan seterusnya” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).
[62] Menilik firman
Allah:
“Dan tidaklah mereka diperintah melainkan supaya menyembah kepada Allah dengan ikhlas kepadaNya daam
menjalankan Agama” (Surat
al-Bayyinah () ayat 6). Dan menurut hadis: “Sesungguhnya (sahnya) amal itu tergantung kepada niat” (Diriwayatkan oeh Al-Bukhari dan Muslim).
[63] Menurut hadis Ibnu Umar bahwa Nab saw mengangkat kedua
tangannya selurus ahunya bila ia memulai salat, bila takbir hendak rukuk dan
bila mengangkat kepalanya dari rukuk ia mengangkat kedua tangannya juga dengan
mengucapkan “Sami'alla-hu liman hamidah rabbana- wa lakalhamd”, dan tidak
menjalankan demikian itu dalam (hendak) sujud" (Diriwayatkan oleh
Al-Bukhari dan Muslim). Tersebut dalam sahih Muslim dari Malik bin Huwarits,
bahwa Rasulullah saw apabila takbir ia mengangkat kedua tangannya sampai sejajar
pada telinganya, begitu juga bila hendak rukuk, dan bila mengangkat kepalanya
dari rukuk lalu mengucapkan: “Sami'alla-hu liman hamidah”, ia mengerjakan
demikian juga. Dan dalam hadis riwayat Abu Dawud dari Wail dengan kalimat:
“Sehingga kedua tangannya itu selempang dengan bahunya serta ibu jarinya
sejajar dengan telinganya” (Tersebut dalam kitab Tah juz II halaman 150).
[64] Menilik hadis sahih dari Wail yang berkata: “Saya salat
bersama Rasulullah saw dan beliau meletakkan tangan kanannya pada tangan
kirinya di atas dadanya” (Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dan disahihkannya).
Dan hadis dari Wail juga menurut riwayat Abu Dawud dan An-Nasai, “Lalu beliau
meletakkan tangan kanannya pada punggung telapak tangan kirinya, serta
pergelangan dan lengannya” (Hadis ini disahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan
lainnya, sedang asalnya dalam sahih Muslim, dengan tidak ada tambahannya,
sebagaimana yang tersebut dalam kitab Fath juz II halaman 152). Dan tersebut dalam Al-Bukhari dari Sahl bin Sa'ad yang berkata: “Bahwa orang-orang diperintah supaya meletakkan tangan kanannya pada
lengannya”.
[65] Menurut hadis
Abu Hurairah tentang bacaan itu (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
[66] Mengambil dari
hadis Ali ra tentang bacaan itu (Diriwayatkan oleh Muslim dalam Sahihnya).
[67] Menilik bunyi al-Quran surat an-Nahl ayat 98: “Apabila kamu
akan membaca al-Quran hendaklah kamu mohon perlindungan kepada Allah dari setan
yang terkutuk (berdoa: “A'u-dz billa-hi minasy Syaitha-nir raji-m”)”.
Dan menurut hadis yang diriwayatkan oleh Abu Sa'id al-Khudri, bahwa Nabi saw
adalah membaca taawuz itu (sebagai yang tersebut dalam kitab Muhadzdzab). Ibnul
Mundzir berkata: Bahwa diceritakan dari Nabi saw bahwa sebelum membaca al-Quran
beliau berdoa: “A'u-dzu billa-hi minasy Syaitha-nir raji-m” (Tersebut
dalam kitabNailul Authar juz II).
[68] Mengingat hadis dari Nu'aim al-Mujmir, katanya: “Saya salat
di belakang Abu Hurairah ra maka ia membaca “Bismilla-hirrahma-nirrahi-m”
lalu membaca induk al-Quran (surat al-Fatihah) sehingga tatkala sampai pada “wa
ladldla-lli-n” beliau membaca “a-mi-n” dan orang-orangpun sama
membaca “a-mi-n”. Begitu juga tiap-tiap hendak sujud, mengucapkan: “Alla-hu
Akbar” dan bila berdiri dari duduk dalam rakaat kedua beliau mengucapkan:
“Alla-hu Akbar”. Setelah bersalam beliau berkata: “Demi Yang menguasai
diriku, sungguh salatku yang mengerupai dengan salatnya Rasulullah saw”
(Diriwayatkan oleh An-Nasai, Ibnu Khuzaimah, Siraj, Ibnu Hibban dan lainnya;
tersebut dalam kitab al-Fath Juz II halaman 181, dengan katanya bahwa inilah
hadis yang paling sah, tentang hal yang disebut).
[69] Mengingat hadis
'Ubadah bin as-Shamit bahwa Rasululllah saw bersabda: “Tidak sah salatnya orang yang tidak membaca permulaan
Kitab (al-Fatihah)” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim). Ada lagi hadis 'Ubadah bahwa: Rasulullah saw salat subuh maka
merasa terganggu oleh pembacaan makmum. Setelah selesai beliau bersabda: “Aku melihat kamu sama membaca di belakang imammu?” Kata 'Ubadah, bahwa kita semua menjawab: “Ya Rasulullah, demi Allah benar begitu!” Maka sabda Nabi: “Janganlah kamu
mengerjakan demikian, kecuali bacaan Fatihah” (Diriwayatkan oleh Ahmad,
ad-Daruquthni dan al-Baihaqi). Dan mengingat hadis Anas, katanya bahwa
Rasulullah saw bersabda: “Apakah kamu sekalian membaca dalam salatmu di
belakang imammu, padahal imam sedang membaca? Janganlah kamu mengerjakannya,
hendaklah masing-masing kamu membaca Fatihah sekadar didengar olehnya sendiri”
(Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban).
[70] Mengingat hadis Abu Hurairah ra bahwa Nabi saw bersabda:
“Apabila imam membaca “A-mi-n” maka kamu hendaklah pula membaca “A-mi-n”
karena sungguh barang siapa yang bacaan “a-mi-n”nya bersamaan "A-mi-n"nya
Malaikat, tentulah diampuni dosanya yang telah lalu”. Dan hadis dari Abu
Hurairah juga, bahwa Rasulullah saw bersabda: “Apabila salah seorang diantaramu
membaca "A-mi-n" sedang Malaikat di langitpun membaca “Ami-n”
pula, dan bersamaan keduanya, maka diampunilah ia dari dosanya yang
sudah-sudah” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dan dalam hadis riwayat
Muslim ada tambahannya: “Apabila salah seorang diantaramu membaca dalam
salatnya)”.
[71] Menilik hadis Abu Qatadah bahwa Nabi saw dalam salat Zuhur
pada rakaat kedua permualaan (rakaat ke-1 dan ke-2, membaca induk Kitab
(Fatihah) dan dua surat, serta pada dua rakaat lainnya (rakaat ke-3 dan ke-4)
membaca Fatihah saja, dan beliau memperdengarkan kepada kami akan bacaan ayat
itu, dan pada rakaat ke-1 diperpanjang tidak seperti dalam rakaat ke-2;
demikian juga dalam salat asar dan subuh (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan
Muslim)
[72] Karena firman Allah
swt: “Apakah mereka tidak memperhatikan al-Quran, ataukah pada hati mereka ada tutupnya?” (Muhammad: 24). Dan firmannya: “Dan bacalah
al-Quran itu dengan perlahan-lahan” (Al-Muzammil: 5)
[73]
Karena hadis Ibnu Umar tersebut pada catatan kaki nomor 63 di atas
[74] Karena firman
Allah: “Hai orang-orang mukmin, hendaklah kamu rukuk, sujud dan sembahlah Tuhanmu serta berbuatlah kebaikan,
agar kamu berbahagia” (Hajj: 77). Dan menurut hadis dari Abu
Hurairah ra bahwa Nabi saw bersabda: “Apabila kamu menjalankan salat
bertakbirlah, lalu membaca sekadar dari al-Quran, lalu rukuk sehingga tenang (tuma'ninah),
terus berdiri sampai lurus, kemudian sujud sehingga tenang, kemudian duduklah
sampai tenang, lalu sujud lagi sehingga tenang pula; kemudian lakukanlah
seperti itu dalam semua salatmu” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).
[75] Karena hadis Abu Hurairah ra mengatakan bahwa Rasulullah saw
Kalau salat ia bertakbir ketika berdiri, lalu bertakbir ketika rukuk, lalu
membaca "Sami'alla-hu liman hamidah" ketika mengangkat punggungnya
(bangun) dari rukuk, lalu membaca selagi beliau berdiri: "Rabbana- walakal
hamd", lalu takbir tatkala hendak sujud, lalu bertakbir tatkala hendak
mengangkat kepala (duduk antara dua sujud), lalu bertakbir tatkala hendak
mengangkat kepala (duduk antara dua sujud), lalu bertakbir tatkala hendak
berdiri; kemudian melakukan itu dalam semua salatnya serta bertakbir tatkala
berdiri dari rakaat yang kedua sesudah duduk (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan
Muslim)
[76] Karena hadis dari Abu Humid Sa'idi ra yang berkata: “Saya
lebih cermat (hafal) dari padamu tentang salat Rasulullah saw Kulihat apabila
beliau bertakbir, mengangkat kedua tangannya sejurus dengan bahunya dan apabila
rukuk meletakkan kedua tangannya pada lututnya, lalu membungkukkan punggungnya,
lalu apabila mengangkat kepalanya ia berdiri tegak sehingga luruslah tiap
tulang-tulang punggungnya seperti semula; lalu apabila sujud, ia letakkan kedua
teapak tangannya pada tanah dengan tidak meletakkan lengan dan tidak
merapatkannya pada lambung, dan ujung-ujung jari kakinya dihadapkan ke arah
Kiblat. Kemudian apabila duduk pada rakaat yang kedua ia duduk di atas kaki
kirinya dan menumpukkan kaki yang kanan. Kemudian apabila duduk pada rakaat
yang terakhir ia majukan kaki kirinya dan menumpukkan kaki kanannya serta duduk
bertumpu pada pantatnya” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab Sahihnya).
[77] Menilik hadis Sayidatina Aisyah ra menceritakan, bahwa
Rasulullah saw dalam rukuk dan sujudnya beliau mengucapkan; Subha-nakalla-humma
rabbana- wa bihamdikalla-hummagh firli- ....... dan seterusnya. (Muttafaqun
'Alaih atau diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
[78] Menurut hadis Hudzaifah, katanya: “Aku bersalat bersama Nabi
saw, maka dalam rukuknya beliau membaca: "Subha-na rabbiyal adhim"
dan dalam sujudnya beliau membaca "Subha-na Rabbiyal a'la" ..... dan
seterusnya (Diriwayatkan oleh lima ahli hadis dan disahihkan oleh
at-At-Tirmidzi). Dan ada lagi hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim, Abu
Dawud dan An-Nasai dari Aisyah ra bahwa Rasulullah saw dalam rukuk dan sujudnya
membaca: "Subbu-hun quddu-sun rabbul Mala-ikati war ru-h" (Kedua
hadis ini tersebut dalam kitab Nailul Authar juz 2)
[79]
Lihat hadis Abu Hurairah tersebut pada catatan kaki nomor 74 di atas
[80]
Lihat hadis Abu Hurairah tersebut pada catatan kaki nomor 75 di atas
[81]
Menurut ayat dan hadis dalam dalil sepeerti tersebut pada catatan kaki nomor 74
[82]
Lihat hadis Abu Hurairah tersebut pada catatan kaki nomor 75 di atas
[83] Menurut hadis dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa
Rasulullah saw bersabda: “Aku diperintah supaya bersujud di atas tujuh tulang:
dahi – seraya menunjuk pada hidungnya – di atas dua belah tangan, kedua lutut
dan di atas kedua ujung kaki” (Muttafaqun 'Alaih). Ada lagi hadis dari Wail bin
Hajur, katanya: “Aku melihat Rasulullah saw bila bersujud meletakkan kedua
lutut sebelum kedua tangannya dan kalau berdiri mengangkat kedua tangannya
sebelum kedua lututnya” (Diriwayatkan oleh lima imam kecuali Ahmad, sebagaimana
yang tersebut dalam kitab Nailul Authar). Dan menurut hadis dari Abu Hurairah
ra yang mengatakan bahwa Rasulullah saw bersabda: “Kalau salah seorang
daripadamu bersujud, maka janganlah berdekam sebagaimana unta berdekam, ialah
meletakkan tangannya sebelum lututnya” (Tersebut dalam kitab Taisirul Wushul).
[84] Lihat hadis Abi
Humaid tersebut pada
catatan kaki nomor 76
di atas. Dan mengingat hadis
dari
Abdullah bin Malik bin Buhainah, bahwa Nabi saw jika
salat
merenggangkan antara kedua tangannya sehingga
kelihatan putih ketiaknya (Muttafaq 'Alaih atau diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan
Muslim). Dan dalam sahih Muslim, bahwa Rasulullah saw jika bersujud
merenggangkan kedua tangannya dari ketiaknya, sehingga kulihat putih ketiaknya.
Dan hadis dari al-Barra' bin 'Azib dalam sahih Muslim juga, bahwa Rasulullah
saw bersabda: “Bila kamu bersujud, letakkanlah kedua belah telapak tanganmu dan
angkatlah kedua sikumu”.
[85]
Lihatlah hadis Aisyah tersebut pada catatan kaki nomor 77 di atas
[86]
Menilik hadis Hudzaifah dan Aisyah ra tersebut pada catatan kaki nomor 78 di atas
[87] Mengingat hadis yang diriwayatkan oleh at-at-Tirmidzi dari
Ibnu 'Abbas ra bahwa Nabi saw di antara kedua sujud mengucapkan; "Alla-hummagh
firliwarhamni- wajburni- wahdini- war zuqni-" (Tersebut dalam kitab
Nailul Authar).
[88] Periksalah
hadis Abu Hurairah tersebut pada catatan kaki nomor 74, hadis Aisyah ra tersebut pada catatan kaki nomor 77 dan kedua hadis tersebut pada catatan
kaki nomor 78 di atas.
[89] Menilik hadis dari Malik bin Huwairits mengatakan bahwa ia
mengetaui Nabi saw salat, maka apabila beliau berada dalam rakaat gasal
(ganjil, Jawa) dari salatnya, beliau sebelum berdiri, duduk dahulu sehingga
lurus duduknya (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam sahihnya). Ada lain hadis
oleh Al-Bukhari juga, apabila beliau mengangkat kepalanya dari sujud yang
kedua, duduk dan menekan kepada tanah, lalu berdiri.
[90] Periksalah
hadis Abu Hurairah tersebut nomor pada catatan kaki nomor 74. Dan tersebut dalam Sahih Muslim dari Abu Hurairah juga bahwa jikalau
Rasulullah saw berdiri dari rakaat kedua, beliau
tidak diam, melainkan memulai bacaan dengan: "Alhamdulillahi rabbil 'a-lami-n".
[91] Lihat hadis Abu
Humaid Sa'idi tersebut nomor pada catatan kaki nomor 76 di atas. Dan yang tersebut dalam sahih Muslim dari Ibnu Umar ra bahwa Rasulullah, jika duduk dalam tasyahud, meletakkan tangan kirinya di atas
lutut kirinya dan tangan kanan di atas lutut kanannya serta menggenggamkannya seperti membuat isyarat "lima puluh tiga" dengan mengacunkan
jari telunjuknya. Dalam sahih Muslim pula dari Zubair ra bahwa Rasulullah saw kalau duduk berdoa meletakkan tangan kanannya di atas paha –
kanannya dan tangan kirinya di atas paha kiri, serta
mengacungkan jari telunjuknya, dan telapak tangan kirinya menggenggam lututnya.
[92]
Periksalah hadis Humaid Sa'idi dalam dalil pada catatan kaki nomor 76 di atas
[93] Karena hadis dari Abdullah bin Mas'ud ra bahwa tatkala kita
salat di belakang Rasulullah saw kita sama membaca: "Assala-mu 'ala-
Jibri-la wa Mi-ka-ila Assala-mu 'ala- fula-n wa fula-n", maka
berpalinglah Rasulullah saw kepada kita lalu bersabda: "Sesungguhnya Allah
itu Yang Maha Selamat, maka apabila salah seorang daripadamu salat, hendaklah
berdoa: "At-Tahiyya-tu lilla-h was shalawa-tu wath thayyiba-t"…
dan seterusnya (Muttafaq 'Alaih). Dalam kitab Fath (Juz II halaman 200) dari
Aswad dan Abdullah pua dengan riwayat lain oleh Ibnu Khuzaimah, bahwa
Rasulullah saw telah mengajarkan kepadaku "tasyahud" dalam
pertengahan dan penghabisan salat.
[94] Dan dalam kitab Um (Juz I halaman 102) dari Ka'b bin 'Ujrah,
bahwa Nabi saw membaca shalawat: "Alla-humma shalli 'ala- Muhammad wa
'ala- a-li Muhammad kama- shallaita 'ala Ibra-him wa a-li Ibra-him wa ba-rik
'ala Muhammad wa 'ala- a-li Muhammad kama- ba-rakta 'ala- Ibra-him wa 'alaa-li Ibra-him innaka hami-dum maji-d". Dan dalam kitab Fath (Juz II halaman 218); maka pada Sa'id bin Mansur dan Abu Bakar
bin Abi Syaibah dengan sanad (rangkaian) sahih
sampai kepada Abu Ahwash berkata: Berkata 'Abdullah: "Supaya orang itu dalam salatnya membaca tasyahud, lalu membaca shalawat kepada Nabi saw kemudian berdoa
untuk dirinya sendiri".
[95] Menilik yang tersebut dalam kitab Nailul Authar, dari Ibnu
Mas'ud ra katanya, bahwa Nabi Muhammad saw bersabda: "Bila kamu duduk
dalam tiap-tiap dua rakaat, bacalah: “At-Tahiyya-tu lilla-h, washshalawa-tu
wath thayyiba-t, assala-mu'alaika ayyuhan Nabiyyu wa rahmatulla-hi wa
barakatuh, assala-mu 'alaina wa 'ala 'iba-dilla-hish sha-lihi-n, Asyhadu alla-
ila-ha illala-h wa asyhadu anna Muhammadan 'abduhu- wa Rasu-luh”, lalu pilihlah
doa yang disukai dan berdoalah dengan itu kepada Tuhannya (Diriwayatkan oleh
Ahmad dan An-Nasai). Dan dalam kitab Taisirul Wushul dari Ibnu Mas'ud ra, bahwa
Rasulullah saw jika duduk dalam dua rakaat yang pertama seolah-olah ia duduk di
atas batu yang panas , hingga segera berdiri.
[96] Dalam sahih Al-Bukhari dari Nafi' bahwa Ibnu Umar kalau
salat bertakbir serta mengangkat kedua tangannya, kalau rukuk mengangkat kedua
tangannya, apabila membaca "sami'alla-hu liman hamidah"
mengangkat kedua tangannya dan jika berdiri dari rakaat yang kedua mengangkat
kedua tangannya (Hadis ini marfu'/ disambungkan oleh Ibnu Umar kepada Nabi
saw). Dan dalam riwayat Abu Dawud yang disahihkan oleh Al-Bukhari perantaraan
Muhrib bin Datstsar dari Ibnu Umar juga, bahwa Nabi saw apabila berdiri dari
rakaat yang kedua bertakbir dan mengangkat kedua tangannya (Dan hadis ini
dikuatkan oleh hadis lain sebagaimana yang diterangkan dalam kitab Fath Juz II
halaman 151)
[97] Lihatlah hadis Abu Hurairah yang tersebut pada catatan kaki nomor
74, dan dalam sahih Muslim dari Abu Hurairah yang tersebut pada catatan kaki nomor
90 dan hadis Abu Qatadah yang tersebut pada catatan kaki nomor 71 di atas.
[98] Dalam sahih Muslim dari Abu Hurairah menerangkan bahwa
Rasulullah saw bersabda: "Apabila salah seorang daripadamu bertasyahud,
hendaklah minta perlindungan kepada allah dari empat perkara, dengan berdoa: "Allahumma
inni- a'udzu bika …dan seterusnya hadis. Demikian pula dalam riwayat lain, dengan kalimat: "Kalau selesai bertasyahud akhir,
hendaklah meminta perlindungan dari empar
perkara"… seterusnya hadis.
[99] Periksalah
dalil pada
catatan kaki nomor 61
di atas. Dan hadis dari Sa'd: "Saya
melihat Rasulullah saw bersalam ke arah kanan dan ke arah kirinya, sampai kulihat putih pipinya" (Diriwayatkan oleh Muslim dalam
kitab sahihnya).
[100] Menurut hadis Abu Dawud dengan sanad sahih dari Wail bin
Hujur, katanya: "Aku salat bersama–sama Rasulullah saw maka beliau
bersalam ke kanannya dengan membaca: "Assala-mu 'alaikum wa
rahmatullahi wa baraka-tuh dan bersalam ke kirinya dengan membaca: "Assala-mu
'alaikumwa rahmatulla-hi wa baraka-tuh". (Tersebut dalam kitab Bulughul Maram)
[101] Periksalah
dalil pada
catatan kaki nomor 98 dan
catatan kaki nomor 61 dan hadis Wail bin Hujur, seperti tersebut pada catatan kaki nomor 100 di atas.
[102] Sebab tidak ada
hadis tentang hal ini (perbedaan pria dan wanita dalam bersalat). Benar telah diriwayatkan dari Nabi saw
bahwa beliau menyuruh wanita untuk merapatkan setengah anggotanya kepada lainnya dalam salat, sebagai hadis Abu Dawud dari Zaid bin Abi
Habib, hanya saja hadis ini mursal (seperti tersebut dalam kitab Subulus salam juz pertama)

Komentar
Posting Komentar