Transformasi Gerakan Immawati



Oleh: Annisa Dea Endarwati
(Ketua Bidang Immawati PK IMM IAIN Kendari)


Berbicara mengenai perempuan memang sangat menarik mulai dari peran perempuan itu sendiri, kedudukan perempuan, fungsi perempuan, dan hal-hal mengenai perempuan lainnya. Mari kita melihat kembali sejarah perempuan pada masa jahiliyah perempuan itu merupakan kaum yang termarjinalkan mengapa?


Melihat perlakuan perempuan pada saat itu sangat memprihatinkan yaitu setiap bayi perempuan yang lahir dikubur hidup-hidup, penindasan, budak hawa nafsu, dan serendah-rendahnya kedudukan atau derajat adalah perempuan itu sendiri. Namun setelah datangnya islam mulai ada perubahan dan kedudukan dari perempuan sehingga derajat kedudukannya mulai dijunjung tinggi dan dihormati.


Islam memandang perempuan lewat kesadaran terhadap hakikat tabiatnya serta pemahaman terhadap konsekuensi logis dari spesial kodrat yang dianugrahkan oleh Allah SWT. Melihat sejarah panjang perempuan maka akan dijumpai subornisasi berlebihan kaum laki-laki terhadap perempuan. Hal inilah yang menjadi pijakan dasar tuntutan emansipasi wanita.

Lantas bagaimana pandangan ini dalam islam? Islam adalah agama yang rahmatan lil-‘alamin agar manusia hidup dengan penuh kecintaan, kedamaian, dan kesejahteraan yang termaktub dalam Q.S Al-Anbiya [21] : 107. Ayat ini menegaskan bahwa islam membawa rahmat bagi seluruh alam, dan juga mengatur segala lini kehidupan manusia.


Islam mengajarkan kepada kaumnya bahwa laki-laki dan perempuan itu setara dihadapan Allah. Jadi tidak ada yang namanya superioritas dan subordinasi (diunggulkan dan direndahkan) semua memiliki kemampuan dan potensi yang sama dalam kemungkinan pengembangan diri.


Begitupun juga Muhammadiyah memandang bahwa Immawan dan Immawati dalam pergerakan dakwah itu saling bekerjasama, tidak ada pengkhususan apakah dia laki-laki atau perempuan seperti yang dijelaskan dalam Q.S Ali-Imran [3] : 104

“Hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan menyeru pada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang beruntung”.

Islam jelas mengatur batas-batas antara perempuan dan laki-laki dalam hal ini Immawan dan Immawati. berbicara perihal dakwah dan pergerakan perjuangan itu sama kedudukannya antara laki-laki dan perempuan. Seperti yang dijelakan dalam Q.S An-nisa [4] : 124 dan juga dalam Q.S At-Taubah [9] : 71. Dalam hal ini banyak tansformasi atau perubahan yang terjadi pada pergerakan Immawati dahulu dan saat ini.


Tranformasi Immawati dalam mengemban dakwah ikatan itu haruslah progresif dalam artian haluan dalam arah perbaikan menuju kemajuan melihat amanah yang diberikan kepada Immawati dalam ikatan itu tidak hanya sebatas pada bidang Immawati saja tetapi dalam ranah bidang apa saja bahkan Ketua, ini membuktikan bahwa progresifitas dan eksistensi Immawati dalam tubuh ikatan itu haruslah didukung dengan kualitas, kuantitas dan kapabilitas yang baik. Dalam hal ini Immawati harus mulai berbenah mengadakan perbaikan agar peran dan pergerakan immawati bisa teroptimalisasi dengan baik.



Selain tarnsformasi yang progresif juga harus responsif cepat tanggap terhadap permasalahan yang ada, tidak apatis terhadap sekeliling. Immawati juga harus mengambil andil ketika ada permasalahan-permasalahan yang terjadi di masyarakat, dan mampu dalam memberikan solusi atau jalan keluar terhadap permasalahan tersebut. Dimana saat ini melihat bagaimana pergaulan antara perempuan dan laki-laki yang tidak ada batas, perzinahan dimana-mana, masalah ekonomi yang sampai saat ini belum teratasi, penindasan oleh yang kuat terhadap yang lemah, serta konflik yang terjadi disekitar kita disinilah peran immawati dalam merespon permasalahan tersebut. 



Maka dalam hal ini setiap kader baik Immawan dan Immawati harus menanamkan spritualitas untuk cinta kemanusiaan maka Immawati itu haruslah tangguh dalam menghadapi era millenial yang mana teknologi menjadi pusat dari peradaban kemajuan dalam hal itu sangat berkembang terutama pada Negara-negara maju dan juga beberapa Negara berkembang.



Selain itu juga kader dalam hal ini Immawati haruslah amanah dalam mengemban tanggung jawab yang diberikan dalam ikatan, tidak berpikir dualisme dan memiliki loyalitas yang baik terhadap ikatan. Karena di masa depan ketika kita tidak lagi berada di struktural kepemimpinan maka yang akan menggantikan adalah adik-adik kita, untuk itu kita harus meninggalkan generasi yang berkualitas dari segi religiusitasnya, intelektualitasnya, dan humanitasnya.


Saya teringat dengan kutipan “setiap orang ada masanya, dan setiap masa ada orangnya” mampu menjadi Immawati yang dapat mencerahkan bagi siapapun. Seperti yang dikatakan oleh Ketua Bidang Immawati DPD IMM Sultra Immawati Rizkiani:

“Jadilah immawati yang setangguh batu karang, selembut sutra, semanis kurma, dan semanfaat kelapa.”

Dengan demikian, Immawati harus menjadi pembaharu dalam ikatan istilahnya menjadi agent of change, yang membawa pada pergerakan yang progresif atau kearah kemajuan dalam kebaikan melihat konsep gerakan dakwah K.H. Ahmad Dahlan amar ma’ruf nahi mungkar. Disinilah kader IMM terlebih Immawati dalam melihat ajaran-ajaran tersebut yang merupakan doktrin perjuangan, perubahan, kemajuan, dan ideologi yang menggerakkan progresifitas kehidupan sehingga mampu mencerahkan, mensejahterakan, dan memajukan.



Juga responsif dan amanah melihat tantangan yang dihadapi oleh Immawati saat ini dengan perkembangan zaman yang tanpa kita sadari membentuk pola pikir apatis, hedonis. Ini yang harus diubah. Jadilah kader yang bermanfaat bagi sesama karena itulah sebaik-baik manusia sesuai yang disampaikan oleh Rasulullah SAW,

“Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain” (HR. Bukhari dan Muslim).


Komentar

  1. MasyaAllah.. sangat bermanfaat kandakuuu❤

    BalasHapus
  2. Masya Allah . Semoga terus berkarya yah Imawati , jangan berhenti tulisannya Disni aja

    BalasHapus

Posting Komentar