Rabun Jauh: Sebuah Pengantar






Oleh: Ali Sutimin Pratama, S.Pd.
(Ketua Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan DPD IMM Sultra)



Alhamdulillah setiap 14 Maret kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (selanjutnya IMM) senantiasa merefleksi ingatan pada masa-masa akhir kerja keras oleh para pendirinya merintis organisasi otonom Muhammadiyah tahun 1964, tepatnya masa jabat Ir. Soekarno sebagai presiden Republik Indonesia. 


Kader IMM tidak akan pernah melupakan soal tanggal kelahiran, sebab  tanggal akan selalu berulang sebagaimana semua manusia dapat ingat tentang hari jadinya. Apalagi organisasi ini disandingkan dengan Muhammadiyah. Makanya, dengan jiwa muda dan kreativitas menyambut momen sejarah tersebut anak IMM menggelar berbagai perhelatan sebagai cara propaganda opini terhadap kader-kader utamanya yang masih bergabung dan khalayak penduduk seantero bumi pertiwi berbagai pulau dan daratan dengan memanfaatkan media elektronik dalam bentuk; diskusi, dialog, seminar, temu alumni, aksi sosial, perkaderan atau pertunjukkan seni. 


Kita bisa menebaknya bahwa kegiatan yg dilakukan tujuannya ingin melanjutkan perjuangan IMM dengan merefleksi sejarah. Namun demikian, apapun bentuk kegiatannya, secara pribadi kami sangat menitik beratkan pada pencapaian tujuan dapat tercapai sempurna. 


Sejarah kalahiran IMM tidak boleh ditabukan dengan menukar kesenangan seremonial semata yang didapat disamping kita dihantar paparan peristiwa-peristiwa perjuangan senior atau alumni yang kurun generasi tidak jauh dari pengurus dan anggota aktif sekarang. Berangkat dari pandangan yang menyatakan setiap manusia sebelum malakukan aktivitas atau gerakan mesti sudah terpenuhi tujuan  dan cara mencapainya melalui berpikir. 


Kader IMM dilarang melakukan sesuatu yang gelap gulita tujuannya karena berakibat kesesatan yang berujung pada kerugian energi berikut materi saya kecualikan agenda Milad IMM kemarin deh yang diselenggarakan di Hotel Kubra yaitu kita ikhtiar 100% Sukseskan Muktamar XVIII IMM di Kota Kendari. Bukan soal dokrin ajaran pragmatis dalam berbuat, justru inspirasi ini muncul dari ajaran Islam untuk senantiasa setiap hamba memperhatikan, merenungi kepada apa yang dilakukan agar semuanya itu dapat kita pastikan antara pahala dan gelimang dosa yang menimpa.


Awal berdiri sebagai organisasi, IMM tidak bisa dipisahkan  dari  perjalanan Muhammadiyah, kondisi Mahasiswa, keadaan umat dan bangsa di rezim Ir. Soekarno (Farid Fathoni, Kelahiran yang Dipersoalkan, 1990, hal. 55-106). Tiga hal tersebut ikut andil mempengaruhi berdirinya IMM atau sering kita kenal sebagai faktor internal (Muhammadiyah) dan faktor eksternal (luar Muhammadiyah). 


Sekali lagi, adalah penting ungkapan dalam meneruskan perjuangan mencapai tujuanm sudah barang tentu asupan sejarah menjadi wajib diketahui bagi siapa saja yang hendak bergabung digaris perjuangan IMM dan karena itu materinya diberikan saat pendidikan formal untuk rekruitmen anggota baru. IMM merupakan organisasi gerakan mahasiswa Islam sehingga tolak gerakannya didasarkan pada agama Islam sesuai paham keagamaan Muhammadiyah atau dengan kata lain IMM merupakan organisasi otonom Muhammadiyah dengan tujuan mungusahakan terbentuknya akademisi islam yang berakhlak mulia dalan rangka mencapai tujuan Muhammardiyah. Sedangkan sebagai organisasi gerakan mahasiswa Islam ada beberapa organisasi sebelumnya  berdiri yang memiliki asas Islam seperti Himpunan Mahasiswa Islam (selanjutnya HMI), SEMMI (Serikat Mahasiswa Muslim Indonesia). 


Tahun 1965, satu tahun pasca IMM resmi jadi organisasi, seluruh bangsa Indonesia mengenal sejarah kelam perjalanan Republik Indonesia sebagai negara yang baru mengisi kemerdekaan dengan gerakan puncak pemberontakan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) --ataukah hanya inisiatif dari seorang kadernya, DN. Aidit? Inilah peristiwa Gerakan September Tiga Puluh akronim Gestapu atau G30S/PKI yang juga setiap tahun bahkan menjelang tahun pun jadi buah bibir dari kalangan di semua level.


Cara PKI memberontak sungguh sadis, meneror; menebar fitnah; meringkus lawan; menyiksa fisik dan membunuh dengan cara tembakkan. Gerakan tersistematis menyerang para ulama pun dari kalangan pemuda/ mahasiswa tak terkecuali kepada organisasi  mahasiswa Islam yang kontra pada sumbu perjuangannya secara simultan terus menggalang kekuatan melalui Central Gerakan Mahasiswa Indonesia, CGMI disamping ada GMNI, IPPI, Pemuda Rakyat dan Pemuda Marhaenis (baca: Indonesia). 


Dalam kaitan ini, khusus HMI adalah sasaran kuat dari PKI sehingga akan dibubarkan sebagai organisasi. HMI hendak dibubarkan oleh Ir. Soekarno walau pada akhirnya gagal. Masalahnya adalah apabila HMI benar-benar tidak ada lagi karena bubar, sudah ada wadah organisasi mahasisa Islam yang akan menampung yakni IMM. Berarti dalam hal ini perjalanan sejarah HMI agar tetap bertahan secara Ideologis sebagai perpanjangan tangan gerakan Muhammadiyah. Inilah faktor eksternal IMM, makanya HMI sama dengan IMM. 


Namun, jika seperti itu faktanya saya tegas katakan IMM benar berdiri tidak mandiri atau menjadi daki sejarah. Toh, HMI tetap eksis dan IMM Jaya. Parahnya, Muhammadiyah dibesarkan oleh dan dari HMI. Sampai detik berjalan ini, logika berpikir itu sudah membatu sementara anak IMM untuk gagal move on akibat tak mengenali akar sejarah padahal banyak para perintis menangkal pernyataan tersebut dengan fakta-fakta sejarah yang sahih dan valid.


IMM menegaskan diri sebagai gerakan intelektual yang mempersiapkan tenaga terlatih, profesional melangsungkan perjuangan cita-cita Muhammadiyah. Cara terbaik untuk bangkit adalah mengerti sejarah, toh masih hidup para pendiri. Ini pembukaan tulisan saya. Bukan untuk kembali menyoaal kelahiran IMM, melainkan memunculkan sejarah autentik. Jangan terus lena dengan fantasi intelektual yang dibangun atas halusinasi oleh orang-orang yang gagal paham.

InsyaAllah tulisan ini akan kami lanjutkan pada inti bahasan dan penutup. 



Komentar