Oleh: Haidir Muhari
(Ketua Bidang Kader DPD IMM Sultra)
Kader adalah penyampai pesan dakwah kepada masa depan, menuju tercapainya tujuan. Pada tulisan-tulisan sebelumnya telah saya utarakan, paling tidak kaderisasi sebagai penyemai ideologi, pembentuk dan pengembang kompetensi, dan penajaman visi agar benar-benar terlahir kader yang nantinya akan melanjutkan dan menyempurnakan tapak-tapak ikhtiar menuju masyarakat islam yang sebenar-benarnya.
Dengan demikian itu kader bukanlah manusia kosong, manusia hampa, baik visi, ideologi, dan atau kompetensinya. Kader juga bukanlah manusia yang teralienasi dari kehidupan dan peran nyata kepada pengembangan dakwah/ gerakan, baik itu individu, organisasi, keluarga, dan masyarakat.
Yang istimewa dari kader adalah paradigma (cara pandang)-nya tentang dirinya, manusia pada umumnya, kehidupan, dan alam semesta. Kader bersikukuh meyakini dan mengilmui bahwa manusia, kehidupan, dan alam semesta ini beserta seluruh isinya adalah bentukan dan ciptaan Tuhan yang Mahakuasa yang harus dijaga agar tetap lestari mencapai keselamatan dunia.
Kader juga bersikukuh meyakini dan mengilmui bahwa manusia, kehidupan, dan alam semesta ini pada akhirnya akan mengalami batas akhir. Masa kematian dan atau masa kehancuran alam semesta. Bagi manusia akan ada pertanggungjawaban segala aktivitas di dunia ini, akan ada ganjaran bahkan atas inisiasi untuk kebaikan, takkan ada yang terlupa bahkan sekecil apapun, semuanya tercatat dengan terang benderang.
Dari itu maka kehidupan di dunia ini bagi kader adalah sebagai ladang menyemai amal salih dan pembuktian islam yang rahmatan lil alamin, islam yang membawa kedamaian dan kebahagiaan lahir dan batin, dunia dan akhirat. Untuk itu, maka keislaman bukan hanya pengakuan lisan, melainkan terwujud dan terbukti dalam perbuatan.
Berakar dari keyakinan yang kukuh teguh, termanifestasi (eksplisit) dalam tingkah laku. Keislaman yang tidak hanya pengakuan lisan atau simbolis, melainkan teguh-kukuh-mekar-berbuah-ruah. Islam yang melingkupi menjadi suatu kesadaran yang selalu siaga, bahkan terhadap keinginan dan prasangka-prasangka dalam diri.
Dari itu maka kehidupan di dunia ini bagi kader adalah sebagai ladang menyemai amal salih dan pembuktian islam yang rahmatan lil alamin, islam yang membawa kedamaian dan kebahagiaan lahir dan batin, dunia dan akhirat. Untuk itu, maka keislaman bukan hanya pengakuan lisan, melainkan terwujud dan terbukti dalam perbuatan.
Berakar dari keyakinan yang kukuh teguh, termanifestasi (eksplisit) dalam tingkah laku. Keislaman yang tidak hanya pengakuan lisan atau simbolis, melainkan teguh-kukuh-mekar-berbuah-ruah. Islam yang melingkupi menjadi suatu kesadaran yang selalu siaga, bahkan terhadap keinginan dan prasangka-prasangka dalam diri.
Segala aktivitas kader adalah bentuk pengabdian dan pembuktian keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan Yang Mahakuasa, termasuk mengurusi urusan umat, mengurus amal usaha, atau aktivitas privatnya. Dalam aktivitas-aktivitas itu, harta, dunia hanya menjadi instrumen untuk lebih mengefektifkan dan melajukan gerakan dakwah, ia bukanlah tujuan.
Olehnya, kehidupan bagi kader adalah proses terus berbenah, terus mentarbiyah diri, menasehati diri, instrospeksi diri, semakin mendekatkan diri kepada kepribadian Rasulullah Muhammad SAW, sebagai teladan utama; manusia yang telah berhasil menyatukan gerak-geriknya dengan Quran; manusia yang telah berhasil melewati hidup baru di dunia yang misteri dengan selamat dan mewariskan ajaran mulia, peradaban gemilang.
Buya Hamka pernah berpesan, "Kalau hidup hanya sekadar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau bekerja sekadar bekerja kera juga bekerja". Ahmad Dahlan Pendiri Muhammadiyah juga berpesan, "Keimanan bukan hanya Allah dalam jiwamu, tetapi kehidupan Islam menjadi nyata dalam perilakumu".
Mari kita renung-renungkan kembali nasihat Ahmad Dahlan untuk dirinya sendiri, "Wahai Dahlan, sungguh di depanmu ada bahaya besar dan peristiwa-peristiwa yang akan mengejutkan engkau, yang pasti harus engkau lewati. Mungkin engkau mampu melewatinya dengan selamat, tetapi mungkin juga engkau akan binasa karenanya. Wahai Dahlan, coba engkau bayangkan seolah-olah engkau berada seorang diri bersama Allah, sedangkan engkau menghadapi kematian, pengadilan, hisab, surga, dan neraka. Dan dari sekalian yang engkau hadapi itu, renungkanlah yang terdekat kepadamu, dan tinggalkanlah lainnya".

Komentar
Posting Komentar