Neo-Paradigma Gerakan Immawati


Oleh: Wa Ode Rahmayani 
(Ketua Bidang Immawati PK IMM FAI UMK) 



Mengenai perempuan, jika kita melakukan tinjauan secara mendalam, maka kita jumpai dia adalah manusia yang berada pada posisi dilematis. Ketika dia berada pada ranah negara, maka dia akan menjadi simbol dan identitas penanda semata, bahkan jika dia berada dalam ranah agama diapun menjadi simboli identitas semata jua jika dibandingkan dengan kaum lelaki. 


Banyaknya perspektif masyarakat, bahwa ranah domestik adalah ruang gerak bagi perempuan dan ranah publik sebagai gawaian pergerakan laki-laki. Seiring dengan pergerakan-pergerakan yang terjadi, keadaan ini seringali tidak disadari oleh masyarakat itu sendiri. Sehingga menimbulkan diskursus yang tak kunjung usai pada masyarakat, negara dan agama sebagai akibat terkungkungnya gerakan-gerakan perempuan yang seharusnya dapat dieksplor bukan semata-mata hanya sebagai simbolitas, identitas, dan pelengkap toh


Maka dari kejadian yang acuh tak acuh seperti itu, kesetaraan gender yang berarti kesamaan merupakan hal yang terpenting yang harus dioptimalisasikan untuk memperoleh kesempatan serta hak-haknya sebagai manusia, agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan politik, hukum, ekonomi, sosial, budaya, ataupun agama serta kesamaan dalam menikmati hasil pembangunan tersebut. Sedangkan keadilan gender berarti tidak adanya pembakuan peran, beban ganda, subordinasi, marginalisasi dan kekerasan terhadap laki-laki maupun perempuan. 


Selain itu, semakin mendunianya globalisasi dan kemajuan teknologi yang semakin canggih sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat. Jika hal itu bisa direspon dengan baik, maka lingkup kehidupan masyarakatpun baik, begitupun sebaliknya. Secara ideal, kita harus mengembangkan kecakapan dalam memanfaatkan teknologi. Terkait masalah kesetaraan gender yang jika globalisasi itu mampu direspon dengan baik maka antara laki-laki ataupun perempuan tidak akan lagi ada dikotomi pergerakan. 


Begitupun posisi perempuan dan laki-laki dalam sebuah organisasi, khususnya pada Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Ketika perempuan (Immawati) mampu memberikan kontribusi dan mampu menampakkan kapabilitasnya, kenapa tidak? Namun, banyak perempuan (Immawati) yang tidak menyadari potensi yang mereka miliki. 


Dengan keterbatasan yang menjadi patokan dari sebagian Immawati, tanpa disadari konsep keterbatasan inilah yang sering membuang ide dan keinginan sehingga menimbulkan keyakinan bahwa kita tidak dapat merealisasikan keinginan dan tujuan. Konsep ini juga bisa merendahkan tujuan, sehingga kadang-kadang kita hanya mencapai sesuatu yang biasa saja, yang sebenarnya kalau dikerahkan seluruh potensi yang dianugerahkan Allah bisa meraih yang jauh lebih prestis. 


Mereka terlanjur terlena dengan pergerkan-pergerakan laki-laki yang mereka (perempuan) anggap menjadi sebuah superioritas untuk melakukan segala hal dalam ranah publik tersebut sehingga membuat partisipasi perempuan semakin lemah. 


Olehnya asumsi seperti inilah yang harus diluruskan. Dalam IMM, dengan adanya wadah yang disiapkan misalkan bidang yang bergerak dalam pergerakan perempuan yaitu bidang Immawati, maka hal seperti inilah yang bisa dimanfaatkan oleh Immawati dan memberikan peluang besar untuk selalu eksis pada koridor dan tentunya tidak terlepas dengan dua sumber kita yaitu al Quran dan hadis. 


Sebagai Immawati kita harus mampu mengambil langkah-langkah yang progres dalam menghadapi zaman kontemporer ini. Dampak negatif budaya asing (westernisasi) membuat manusia semakin merajalela dalam bertindak yang mana syariat-syariat Islam (menjadi) termaginalkan dan membuat sebagian besar masyarakat enggan untuk memahaminya. 


Adab-adab yang tergoyahkan membuat manusia tidak lagi memiliki perilaku dan pemikiran untuk mencapai target masa depan yang gemilang, yaitu menjadi insan yang tidak produktif, bahkan hal seperti itu yang bisa membuat manusia tidak (lagi) manusiawi. Agar hal tersebut tidak terjadi, maka Immawati harus mampu menjadi penyejuk suasana, bagaikan air yang menyirami api yang panas. Juga harus mampu menjadi panutan dalam setiap langkah. 


Sebagai Immawati kita juga harus senantiasa membiasakan diri untuk selalu melakukan hal-hal yang baik. Karena kita akan dimatikan dengan kebiasaan-kebiasaan yang selalu dilakukan dan perbuatan yang dilakukan berulang-ulang selama beberapa waktu akan memberikan pengaruh yang mantap pada jiwa. 


Terkait perempuan (Immawati) yang harus ikut andil berperan dalam organisasi, harus mempunyai strategi yang bisa saling mengajak untuk mau mengembangkan potensi yang dimilki agar mampu menjadi kader yang sejati, yaitu kader yang total, kreatif, dan loyal dalam sebuah organisasi tersebut. 


Adapun strategi yang bisa kita dilakukan yaitu: Pertama fact finding, yaitu bagaimana kita berangkat dari menemukan masalah yang terjadi pada kader itu sendiri, lalu melangkah pada apa yang sedang mereka butuhkan. Kedua panning, yaitu menentukan tujuan dan merumuskan rencana alternatif serta dapat memecahkan masalah. Ketiga yaitu actuating, yaitu bagaimana melaksanakan kegiatan sesuai rencana yang telah ditetapkan. Keempat evaluatingcontrolling yaitu disamping melakukan kontrol terhadap jalannya pelaksanaan kegiatan juga sekaligus mengevaluasi seberapa besar hasil yang dicapai, apa yang menjadi hambatan dan apa yang menjadi faktor pendukungnya. 


Dengan demikian, tidak lagi ketika berbicara mengenai Immawati yang terlintas dipikiran adalah kelemahan. Seringkali dikatakan bahwa perempuan itu adalah peraduan antara Dewi dan Si Tolol. Immawati tak dapat lagi dianggap hanya mampu tampil dalam kelemahlembutan. Namun, bukan berarti lemah dalam segala hal. Khususnya dalam cara berpikir.


Berikut ini beberapa wanita Ilmuwan wanita yang pernah lahir dan berkarya antara lain:
  1. Rufaida Al-Aslamia/ Rufaidah binti Sa’ad. Rufaida merupakan perawat dan ahli pengobatan wanita pertama di dunia Islam. Ia belajar mengenai dunia kedokteran dari ayahnya, Sa’ad Al-Aslamy, yang berprofesi sebagai dokter di Madinah. Tidak hanya itu saja, Rufaidah juga mengajarkan kemampuan keperawatannya kepada wanita lain. Rufaidah secara langsung terlibat dalam berbagai peperangan yang terjadi selama masa kepemimpinan Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wasallam, seperti perang Badar, Uhud, Khandaq, dan Perang Khaibar. Semasa berlangsungnya perang tersebut, Rufaida binti Sa’ad memimpin sejumlah kelompok perawat di medan perang untuk menyediakan pertolongan pengobatan. Bahkan Rasulullah menganjurkan supaya para prajurit yang terluka dibawa ke tenda Rufaidah agar segera mendapatkan perawatan.
  2. Sutayta Al-Mahamali. Belajar dari berbagai ahli tersebut membuat Sutayta tidak hanya menguasai satu atau dua ilmu saja. Ia menunjukkan keunggulan dalam bidang literatur Arab, hadis, ilmu hukum, dan juga matematika. Bahkan ia bisa disebut sebagai ahli dalam bidang aritmatika dan perhitungan succesoral, cabang matematika yang berkembag pada masa itu. Selain itu, Sutayta juga diketahui menemukan pemecahan dari beberapa permasalahan matematika yang kemudian sering digunakan oleh para ahli matematika lain.
  3. Zainab binti Ahmad. Zainab merupakan wanita yang memiliki pemahaman yang dalam tentang hadist dan merupakan guru di sekolah hanbali di Damaskus. Beberapa murid didikannya yang ternama adalah al-Tirmidzi, al-Tahawi, Sahih Bukhari dan Shahih Muslim. Beberapa murid lain juga cukup terkenal dalam bidang ilmu pengetahuan, yaitu Ibnu Battuta, Taj Al-Din Al-Subki, dan Al-Dzahabi.
  4. Barbara Macclintock. Barbara adalah ilmuwan genetika paling berpengaruh. Ahli sitogenetik AS ini telah menerima Hadiah Nobel untuk penemuan transposisi genetik pada 1983. Dia menemukan sekuens DNA yang dapat mengubah lokasi di dalam gen tersebut. Orang pertama yang menghasilkan peta genetik untuk jagung adalah MacClintock
  5. Dorothy Hodgkin. Dorothy adalah ahli biokimia terkenal Inggris. Dia sangat tertarik pada bidang biokimia dan selalu penasaran untuk menemukan bentuk molekul dan fungsinya. Hodgkin adalah wanita ketiga yang menerima hadiah Nobel pada 1964 dalam biokimia untuk menemukan struktur Vitamin V12. Dirinya ilmuwan yang mempelopori bidang kristalografi sinar-X dan menemukan struktur berbagai molekul biologis.

Immawati juga harus bisa menjadi kuat, bahkan harus bisa menjadi pendobrak intelektualitas dan hal seperti itu, tentunya tidak terlepas dari emosional dan spiritual yang sangat mendukung. Karena kesuksesan seseorang tidak tergantung dari siapa dan bagaimana dirinya. Namun dari siapa yang maju lebih cepat daripada yang lain, siapa yang mengerjakan lebih daripada yang lain, ia akan maju lebih cepat dan lebih jauh, dan terus naik ke jenjang teratas.



Komentar