Memaknai (Kembali) Modernisasi


Oleh: A S M A N
(Ketua Umum PK IMM IAIN Kendari)


Modernisasi adalah bentuk transformasi dari keadaan yang kurang maju atau kurang berkembang ke arah yang lebih baik dengan harapan akan tercapai kehidupan masyarakat yang lebih maju, berkembang, dan makmur. Modernisasi juga  merupakan salah satu faktor sehingga terjadi perubahan di lingkungan masyarakat, yang merubah kondisi masyarakat yang tradisional ke modern. 


Tentunya di abad modern ini kita sudah melihat perkembangan-perkembangan yang begitu luar biasa mulai dari teknologi, budaya,  politik, dan lain-lain. Modernisasi memang sangat membantu kita di zaman ini yang syarat akan perubahan-perubahan cepat dan canggih untuk membantu manusia melejit menuju peradaban yang lebih baik. Sebab, kelampauan yang sifatnya tidak sesuai lagi dengan tuntutan zaman harus ditanggalkan. 


Sebagai contoh teknologi sangat membantu umat manusia dalam berkomunikasi lebih cepat yang tidak mungkin dicapai dengan menggunakan surat menyurat seperti zaman dahulu. Modernisasi memang telah merubah segala hal hampir disemua lini, termasuk tingkah laku, pola pikir dan hal lainnya. Tentu, modernisasi sebagai suatu proses dan keadaan sangat tergantung dari pelakunya, entah diarahkan kepada hal positif atau ke hal yang negatif. 


Hanya saja di tengah gempuran modernisasi agaknya banyak yang terlena dan terjerumus ke dalam bayang-bayangan kesesakan modernisasi. Bagaimana tidak, realita yang terjadi saat ini menjadikan banyak manusia kehilangan jati dirinya, nilai-nilai luhur dan tatakrama mulai terkikis pasar-pasar tradisonal mulai hilang. 


Terlebih di kota Kendari sudah mulai masuk Indomart yang bisa saja menggempur dan menggulung pasar-pasar tradisional. Dalam hal ini masalahnya adalah modernisasi disalahpahami menjadi westernisasi (pembaratan). Segala hal yang datang dari Barat atau kebiasaan barat itulah kebiasaan tertinggi, itulah kemajuan, itulah peradaban tertinggi. Padahal, sekali lagi, modernisasi tidak identik dengan westernisasi. Miss perception ini telah melanda hampir semua angkatan usia.


Begitu pun yang terjadi kepada angkatan muda kita. Permainan-permainan tradisional yang menanamkan keramahan, tatakrama, nilai-nilai persaudaraan mulai senyap dan terdegradasi perlahan oleh game on line hingga berjam-jam lamanya. Dampaknya adalah merusak mata, menumbuhkan sikap individualis (apatis, eksklusif), boros (tidak efisien dan efektif) waktu, juga menjadikan generasi muda kita menjadi malas belajar. Begitulah pada umumnya, meski masih ada segelintir angkatan muda yang tepat guna merayakan teknologi. 


Begitupun juga pada generasi Islam, muslim dan muslimah kita. Khususnya muslimah sudah banyak menggunakan hijab-hijab yang mengikuti trend. Hijab dengan mode bervariasi sehingga hijab dijadikan sebagai trend, tetapi melupakan esensi hijab itu sendiri yaitu untuk menutup aurat dan sebagai pakaian takwa. 


Demikian juga kehidupan sosial masyarakat, sebut saja gotong-royong. Budaya ini secara perlahan mulai tergerus. Sebabnya anatara lain individualisme dan eksklusivitas, kesibukan pribadi untuk mengumpulkan pundi, silaturahim via elektronik yang tidak membangun keakraban dan kebersalingmengertian. 


Sungguh modernisasi tidak dapat dicegah. Ia adalah keharusan zaman dalam silih bergantinya peradaban manusia di muka bumi ini. Namun, mestinya kita (pribadi, keluarga dan masyarakat) lebih bijak dalam merayakan teknologi. Tatakrama, gotong-royong, dan nilai-nilai luhur budaya bangsa mesti disemarakkan dan terus dihidup-hidupkan. Ini mesti tercipta tidak hanya kesadaran personal, melainkan harus terjaga dalam kesadaran kolektif masyarakat. Peran ini dapat digalakkan oleh lembaga masyarakat atau lembaga adat atau  wadah lainnya yang bertugas menyosialisasikan nilai-nilai luhur budaya itu.



Komentar