Oleh: Rizkiani
(Ketua Bidang Ekonomi dan Kewirausahaan PC IMM Kota Baubau)
Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah amar ma’aruf nahi mungkar yang berdasarkan pada keyakinan, pemahaman dan penghayatan islam yang mendalam dan menyeluruh maka segenap warga Muhammadiyah merupakan kewajiban mutlak untuk melaksanakan dan mengamalkan islam dalam seluruh kehidupan dengan jalan mempraktikan hidup islami dalam lingkungan sendiri sebelum mendakwahkan Islam kepada pihak lain. Kelahiran IMM sendiri tidak lepas kaitanya dengan sejarah perjalanan Muhammadiyah, dan juga bisa dianggap sejalan dengan faktor kelahiran Muhammadiyah itu sendiri.
Hal ini berarti bahwa setiap hal yang dilakukan IMM merupakan perwujudan dari keinginan Muhammadiyah untuk memenuhi cita-cita sesuai dengan kehendak Muhammadiyah dilahirkan. IMM pun Sebagai gerakan mahasiswa yang berdasarkan Islam dan berangkat dari individu-individu mukmin, maka kesadaran melakukan syariat Islam adalah suatu kewajiban dan sekaligus mempunyai tanggungjawab untuk mendakwahkan kebenaran itu di tengah masyarakat.
Hal ini berarti bahwa setiap hal yang dilakukan IMM merupakan perwujudan dari keinginan Muhammadiyah untuk memenuhi cita-cita sesuai dengan kehendak Muhammadiyah dilahirkan. IMM pun Sebagai gerakan mahasiswa yang berdasarkan Islam dan berangkat dari individu-individu mukmin, maka kesadaran melakukan syariat Islam adalah suatu kewajiban dan sekaligus mempunyai tanggungjawab untuk mendakwahkan kebenaran itu di tengah masyarakat.
Oleh karena itu, agar tujuan IMM (juga Muhammadiyah) itu sendiri dapat tercapai maka sudah sepatutnya kader atau sebagai Immawan dan Immawati, yang menjadi patner dalam organisasi harus selalu bersama-sama mendakwahkan amar ma’ruf nahi mungkar dimanapun dan kapanpun mereka berada yaitu salah satunya dengan cara menggelorakan semboyan yang sering diikrarkan yaitu "Immawan untuk Immawati". Hal ini seharusnya bukan hanya sekadar simbol semata oleh kader IMM, tetapi harus ada tindak lanjut dari kalimat yang dimaksud.
Seperti yang diketahui bersama bahwa di IMM terdapat berbagai warna-warni kader dan latar belakang serta ciri kehidupan yang beragam sehingga menjadi komplit. Betapa tidak, di IMM terdapat tipe macam kader seperti kader umat, kader bangsa dan kader persyarikatan serta dilengkapi juga dengan potensi Trilogi IMM yang dimiliki dan melekat pada kader IMM itu sendiri. Sehingga para kader tinggal mengembangkan potensi yang ada pada dirinya, mau menjadi kader apa? Potensi yang dimiliki oleh kader IMM juga bukan hanya sekadar itu saja. Masih banyak lagi, sehingga jika kita telaah lebih jauh dan lebih dalam lagi, apa sebenarnya yang kurang dari kader IMM itu sendiri? Tidak ada kan!
Seperti yang diketahui bersama bahwa di IMM terdapat berbagai warna-warni kader dan latar belakang serta ciri kehidupan yang beragam sehingga menjadi komplit. Betapa tidak, di IMM terdapat tipe macam kader seperti kader umat, kader bangsa dan kader persyarikatan serta dilengkapi juga dengan potensi Trilogi IMM yang dimiliki dan melekat pada kader IMM itu sendiri. Sehingga para kader tinggal mengembangkan potensi yang ada pada dirinya, mau menjadi kader apa? Potensi yang dimiliki oleh kader IMM juga bukan hanya sekadar itu saja. Masih banyak lagi, sehingga jika kita telaah lebih jauh dan lebih dalam lagi, apa sebenarnya yang kurang dari kader IMM itu sendiri? Tidak ada kan!
Sebenarnya alasan yang paling tepat untuk menjawab problem keumatan dan kebangsaan yang ada pada hari ini adalah hanya dengan satu jawaban tepat yaitu Immawan harus mendapatkan Immawati, juga sebaliknya. Kenapa? Agar proses dakwah amar ma’ruf nahi mungkar tidak putus ketika sang Immawan atau Immawati menyelesaikan studinya dari kampus tercinta, tetapi ketika Immawan telah melabuhkan hatinya ke Immawati maka kelak proses dakwah yang dilakukan akan terus berlanjut sehingga mampu menjawab problem keumatan dan kebangsaan yang ada.
Akhirnya proses dakwah tak akan pernah putus sampai mereka punya anak cucu, yaitu orang tua berdakwah, anaknya pun ikut berdakwah dalam menanamkan dan menerapkan nilai-nilai kemuhammadiyaan yang diterapkan oleh orang tuanya, hal ini juga dapat dikembangkan dalam lingkungan masyarakat sekitar. Hal ini sesuai dengan fungsi keluarga yang tercantum dalam buku Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah yang menerangkan:
Akhirnya proses dakwah tak akan pernah putus sampai mereka punya anak cucu, yaitu orang tua berdakwah, anaknya pun ikut berdakwah dalam menanamkan dan menerapkan nilai-nilai kemuhammadiyaan yang diterapkan oleh orang tuanya, hal ini juga dapat dikembangkan dalam lingkungan masyarakat sekitar. Hal ini sesuai dengan fungsi keluarga yang tercantum dalam buku Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah yang menerangkan:
- Keluarga-keluarga di lingkungan Muhammadiyah perlu difungsikan selain dalam menyosialisasikan nilai-nilai ajaran Islam juga melaksanakan fungsi kaderisasi sehingga anak-anak tumbuh menjadi generasi muslim Muhammadiyah yang dapat menjadi pelangsung dan penyempuma gerakan dakwah dikemudian hari.
- Keluarga-keluarga di lingkungan Muhammadiyah dituntut keteladanan (uswah hasanah) dalam mempraktikkan kehidupan yang Islami yakni tertanamnya ihsan/ kebaikan dan bergaul dengan ma’ruf saling menyayangi dan mengasihi, menghormati hak hidup anak, saling menghargai dan menghormati antar anggota keluarga, memberikan pendidikan akhlak yang mulia secara paripurna, menjauhkan segenap anggota keluarga dari bencana siksa neraka, membiasakan bermusyawarah dalam menyelasaikan urusan, berbuat adil dan ihsan, memelihara persamaan hak, dan kewajiban dan menyantuni anggota keluarga yang tidak mampu
Sehingga dengan alasan apa lagi implementasi Immawan untuk Immawati (juga Immawati untuk Immawan) harus di nafikan? Walaupun, dalam agama islam masalah jodoh telah ditentukan di lauh mahfuz, yang bahkan jauh sebelum kita manusia diciptakan ke dunia jodoh kita sudah ditetapkan.
Namun, bukankah kita dapat memilih jodoh? Karena yang tertulis di lauh mahfuz adalah kegaiban yang tak mampu terindra oleh siapapun. Bukankah ikhtiar harus digalakkan? Pun jodoh itu sendiri merupakan hasil dari sikap dan akhlak kita sehingga akan kembali kepada ikhtiar individu. Sebagaimana di jelaskan dalam Q.S An-Nur : 26 :
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji pula, dan wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk wanita yang baik pula…”
Sehingga dengan adanya penjelasan di atas seharusnya kader bisa memantaskan diri, senantiasa bermuhasabah diri agar ayat tersebut dapat diimplementasikan bahwa Immawan harus mengikhtiarkan Immawati atau sebaliknya. Sehingga ayat di atas secara sederhana jika dikhususkan dalam domestik IMM maka akan berbunyi:
“wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji,dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji pula, dan wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk wanita yang baik pula, dan kader IMM adalah untuk kader IMM pula atau Immawati adalah untuk Immawan dan Immawan adalah untuk Immawati pula”.
Jadi apakah Immawan dan Immawati masih bingung dalam memilih atau mengikhtiarkan jodoh?
Bukankah pendiri muhammadiyah K.H. Ahmad Dahlan dalam dakwahnya ditemani oleh sang istri Siti Walidah yang seideologi dengannya yang senantiasa mendukung dan membersamai hingga Muhammadiyah tetap eksis hingga sekarang. Sebagai contoh alumni IMM di Kota Kendari adalah Kakanda Kamiluddin Kandacong dan Bunda Marlina Gazali, Kakanda Eka Paksi dan Kak Nini Rianti, dan Kakanda La Ode Baa dan Kak Mandaria. Mereka itu merupakan alumni IMM berhasil dalam berdakwah dan mengembangkan Muhammadiyah dari zaman mereka ber-IMM hingga saat ini. Hal inilah yang harus menjadi tolokukur bagi kader IMM agar selalu sejalan dalam hal ideologi dan pengembangan dakwah maka semboyan "Immawan untuk Immawati” yang selalu diikrarkan dimplementasikan dan semakin digalakkan oleh kader IMM itu sendiri.
Sesungguhnya Orang yang dewasa, bukanlah orang yang membuang-buang dan menyia-nyiakan energinya dengan memakai dan menggerakkan seluruh energinya ke berbagai arah yang tidak menentu dan berguna untuk mencari labuan hatinya, bahkan sering bertentangan arah. Orang yang dewasa adalah orang yang teratur dan memanajemen dirinya serta dapat menangani masalahnya dengan efektif.
Mereka bukan orang yang mudah beralih perhatian atau menyimpang dari rencana karena perbedaan ideologi, oleh karena keinginan-keinginan yang muncul dengan tiba-tiba. Sebab sesungguhnya yang paham perasaan dan kondisi diri adalah diri kita sendiri, begitupun yang memahami kondisi dan perasaan Immawan adalah hanya Immawati. Oleh karena itu wahai Immawan dan Immawati jadilah partner (berbarengan) bukan hanya di lingkup organisasi IMM saja, melainkan juga di lingkungan idaman yang hendak dibangun dimasa depan.
Mereka bukan orang yang mudah beralih perhatian atau menyimpang dari rencana karena perbedaan ideologi, oleh karena keinginan-keinginan yang muncul dengan tiba-tiba. Sebab sesungguhnya yang paham perasaan dan kondisi diri adalah diri kita sendiri, begitupun yang memahami kondisi dan perasaan Immawan adalah hanya Immawati. Oleh karena itu wahai Immawan dan Immawati jadilah partner (berbarengan) bukan hanya di lingkup organisasi IMM saja, melainkan juga di lingkungan idaman yang hendak dibangun dimasa depan.
Beribu-ribu wanita di luar sana, tapi belum tentu dia adalah Immawati. Namun Immawati sudah tentu wanita, pun beribu laki-laki di luar sana tetapi belum tentu dia adalah Immawan. Namun Immawan sudah tentu laki-laki dan sebaik-baik partner hidup adalah Immawan dan Immawati. Perjuangan dakwah masih panjang dan sangat sunyi untuk ditinggalkan. Salam untuk Immawan dan Immawati kader-kader terbaik IMM harapan agama, masyarakat, bangsa dan negara.

Komentar
Posting Komentar