
Oleh: Haidir Muhari
(Ketua Bidang Kader DPD IMM Sultra)
Membincang kaderisasi adalah membincang masa depan IMM juga Muhammadiyah. Ia seperti meletakkan pondasi dan menyusun anak tangga untuk kemudian sampai ke puncak-puncak tertinggi, untuk sampai kepada cita-cita, untuk sampai pada hari esok yang pasti kehadirannya.
Muhammadiyah dan juga ortomnya telah menjadikan kaderisasi sebagai pintu resmi dan satu-satunya untuk membentuk kadernya. Hal ini mewujud dari semakin digalakkanya atau bahkan diwajibkannya darul arqam atau baitul arqam di setiap level kepemimpinan di persyarikatan (sebut saja PP, PW, PD), amal usaha Muhammadiyah baik pendidikan dan kesehatan, begitu pula ini diterapkan kepada pengurus ortom. Demikian juga ortom, anggota yang akan menjadi pengurus IMM adalah mereka yang mengikuti DAD dan perkaderan lanjutannya.
Dalam pada ini, baik IMM dan Muhammadiyah, darul arqam dan baitul arqam telah dijadikan wadah penyemaian ideologi, visi keislaman, visi kemanusiaan, dan pembentukan potensi kepemimpinan dan keorganisasian.
Sebagai warga Ikatan dan persyarikatan, tentu kita mendambakan dan mesti terus mengupayakan generasi pelanjut yang lebih baik. Titah Tuhan yang telah terukir dalam Quran demikian nyata tentang larangan meninggalkan generasi yang lemah, generasi pelanjut tanpa visi, generasi pelanjut tanpa kompetensi.
Mimpi besar itu, tugas besar itu, kewajiban besar itu dalam pelaksanaanya terkait dengan hal-hal utama seperti tempat (gedung) perkaderan dan tenaga Instruktur. Dalam tulisan ini akan tempat perkaderan yang representatif, strategis, dan terjangkau. Selanjutnya agar fokus, hanya akan dibahas IMM.
Realitasnya kekinian, terkait tempat perkaderan yang representatif, strategis, dan terjangkau, sayang sungguh malang, masih sangat terbatas. Apalagi terjangkau dari perspektif pimpinan komisariat sebagai ujung tombak dan pintu gerbang pertama kader IMM.
Pada kondisi saja saat ini satu-satunya tempat perkaderan yang siap hanya RS PKU Muhammadiyah Kendari. Walau jika ditilik lebih mendalam, maka ini sebenarnya tidak representatif. Untuk tempat lain yang representatif, malangnya tidak terjangkau.
Komisariat di Kota Kendari hanya ada ditiga kampus, yaitu UHO, UMK, dan IAIN Kendari. Gamblangnya, UMK dibeberapa perkaderan dibiayai oleh kampus dan untuk menjangkau tempat perkaderan yang representatif dan strategis itu masih sedikit terseok-seok. Apalah lagi untuk UHO dan IAIN?
Selanjutnya, dalam kondisi saat ini saja, perkaderan UMK yang beruntun dengan dua rombongan belajar pada setiap minggu sudah sangat susah mencari tempat perkaderan yang representatif dan terjangkau itu.
Mari kita proyeksi perkaderan di masa-masa mendatang. Saat UMK semakin banyak menerima mahasiswa pasti perkaderan beruntun takkan terelakkan akan semakin sering lagi. Belum lagi untuk mahasiswa lamanya, yang belum mengikuti perkaderan.
Selanjutnya kita geserkan fokus ke UHO dan IAIN Kendari. Dengan geliat gerakan IMM UHO dan IAIN Kendari saat ini, di tahun-tahun mendatang, satu atau dua tahun mendatang, komisariat-komisariat baru akan merebah.
Lagi, tempat perkaderan yang terjangkau saat ini satu-satunya hanya RS PKU Muhammadiyah Kendari (eks. Hotel Takira). Olehnya mesti melirik tempat perkaderan lain, saat ini lebih-lebih di masa mendatang saat hal yang dijelaskan di atas itu terjadi, perkaderan yang akan semakin sering itu. Masihkah atau sanggupkah UMK menalangi? Atau masihkah senior akan membusungkan dada atau menyingsikan lengan baju?
Untuk tempat perkaderan yang representatif itu apalagi tempat perkaderan milik sendiri, karena tidak selamanya RS PKU Muhammadiyah Kendari dapat digunakan, masih menjadi angan yang entah sampai kapan akan terwujud. Dari masa ke masa sepertinya terus bergulir menjadi wacana. Bahkan sektetariat saja masih saja berpindah-pindah. Dan ini tidak wajar apalagi jika melirik usia rumah besar Muhammadiyah yang tak lagi muda di Sultra.
Darurat kaderisasi kita bagian satu ini adalah darurat tempat perkaderan yang representatif. Tentu jika ini direnungi secara mendalam, mestinya sekarang dan hari-hari esok ada upaya konkret dan karya nyata. Demi kaderisasi, demi pembangunan sumber daya manusia, demi masa depan IMM dan Muhammadiyah yang gemilang.
Komentar
Posting Komentar