Menggugat Quran Menggugah



Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah
Haidir Muhari
Oleh: Haidir Muhari
(Ketua Bidang Kader DPD IMM Sultra)



Sebelumnya ada teori yang mengatakan bahwa agama akan sirna tertinggal debu yang di karpet-karpet rumah ibadah dan lembar-lembaran kertas di perpustakaan dan museum-museum. Teori ini menganggap bahwa setiap kali perkembangan sains dan teknologi agama-agama termasuk Islam akan semakin tersisihkan dan ditinggalkan. 



Seorang pemikir menyoalkan terkait Tuhan yang mencipta manusia dan tatanan alam semesta atau fine tuning. Ia mengemukakan bahwa dengan cybernetic, manusia yang sudah menjelang ajal, otaknya yang memuat tentang personalitas, kepribadian, dan memori sejarah dapat dikekalkan dengan dipindahkan kepada robot cybernethica atau robot android. Selain itu, manusia dapat dibuat hidup lebih lama dengan teknik telomerase, kloning, atau crayo jenics dan pada waktunya teknologi akan membangkitkan jenazah untuk hidup kembali. Ia mengatakan bahwa ada banyak hal yang belum atau tidak “distel dengan pas”, seperti tabrakan antar galaksi-galaksi diluar tata surya kita, juga kurang lebih 66 juta tahun yang lalu meteor dengan diameter 15 km menabrak bumi hingga memusnahkan dinosaurus. 



Al Quran telah melalui beberapa masa dan telah memenuhi beberapa tantangan. Pada masa manusia bergelut dengan kesusastraan, al Quran menjadi kitab dengan kualitas sastra terbaik, bahasa dan kesan yang ditimbulkan mengena dan sesuai dengan apa yang semestinya. Era ilmu pengetahuan dan teknologi kekinianpun, Al Quran (juga hadis) telah melaju dan pembuktian ilmiah sering kali membenarkan apa yang tertera dalam Quran, diantaranya Keith Moore membuktikan kebenaran embriologi sesuai penuturan Quran; Maurice Bucaile peneliti jasad Firaun membenarkan bahwa jasad Firaun mati karena tenggelam dan tetap terjaga dibanding jenazah-jenazah yang lain; Alfred Korner membenarkan bahwa negeri-negeri Arab akan kembali menjadi hijau; Demitri Bolykov yang membuktikan melalui eksprerimen akan terbitnya matahari dari barat.



Islam tak hanya bersinggungan dan bereratan dengan dimensi spiritual dan keyakinan yang terlahir dan bersemayam bersama harapan-harapan melalui ritus, melainkan juga berpijak dari cercah-cercah rasional dan pembuktian-pembuktian ilmiah. Islam tidaklah meniadakan dan membunuh hasrat rasional dan menentang pembuktian-pembuktian ilmiah. Sebab, ia dapat menjadi gerbang persaksian yang akan menuntun manusia menuju Tuhan. Tuhan telah menciptakan manusia dan alam raya. Ilmu adalah hasil interpretasi dan ekplorasi manusia terhadap diri, lingkungan dan alam diluarnya. Al Quran juga demikian. 



Kitakah pemilik sah Al Quran? Ya kita benamkan di atas lemari-lemari atau di rak-rak buku, sangat rapi. Disisi lain, banyak Ilmuan barat, menerbitkan dan menemukan kebenaran Al Quran dalam eksperimen sains dan eskplorasi antariksa. Masihkah Quran kita miliki?




*Tulisan pernah dimuat di nibasa.id dengan judul Perkembangan IPTEK dan Masa Depan Islam





Komentar